lintaspriangan.com, Berita Jabar. Ancaman kekeringan di Jawa Barat mulai menunjukkan tanda yang mengkhawatirkan. Di tengah kebutuhan air yang terus meningkat, distribusi bantuan air bersih telah menembus 1,23 juta liter. Pada saat bersamaan, jumlah kebakaran lahan melonjak dari satu menjadi lima kejadian.
Perubahan tersebut terlihat dalam pembaruan data resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Barat hingga Sabtu, 18 Juli 2026. Jumlah warga terdampak bencana juga melonjak menjadi 316.464 jiwa, bertambah 42.570 jiwa dibandingkan data yang dihimpun hingga 9 Juli 2026.
Distribusi Air Bersih Melonjak 747.500 Liter
Dashboard BPBD Jawa Barat mencatat distribusi air bersih sepanjang Januari hingga 18 Juli 2026 telah mencapai 1.239.000 liter. Angka itu melonjak tajam dibandingkan catatan hingga 9 Juli 2026 yang masih berada pada posisi 491.500 liter.
Dengan demikian, volume air yang telah didistribusikan bertambah 747.500 liter hanya dalam rentang pembaruan sembilan hari. Lonjakan ini menjadi sinyal bahwa kebutuhan air bersih di sejumlah daerah mulai meningkat ketika musim kemarau memasuki periode yang lebih kering.
Jumlah kejadian kekeringan di Jawa Barat juga bertambah dari delapan menjadi sembilan kejadian. Sementara luas lahan terdampak naik dari 1.440 hektare menjadi 1.449 hektare.
Data tersebut belum menjelaskan secara terperinci daerah mana yang menerima tambahan distribusi air paling besar. Namun, perubahan volumenya menunjukkan bahwa penanganan kekeringan mulai membutuhkan sumber daya lebih banyak.
Masyarakat di daerah yang mulai kesulitan memperoleh air bersih perlu segera melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah desa, kecamatan, atau BPBD setempat. Pelaporan sejak dini penting agar distribusi bantuan dapat dilakukan sebelum cadangan air warga benar-benar habis.
Pemerintah daerah juga perlu memastikan bantuan tidak hanya menjangkau wilayah yang mudah diakses. Permukiman terpencil, daerah perbukitan, serta desa yang selama ini mengandalkan sumur dangkal berpotensi menghadapi tekanan lebih berat ketika permukaan air tanah menurun.
Kebakaran Lahan Naik dari Satu Menjadi Lima Kejadian
Selain kekeringan, kebakaran lahan menjadi ancaman lain yang mulai muncul. Data BPBD Jawa Barat hingga 9 Juli baru mencatat satu kebakaran lahan. Dalam pembaruan hingga 18 Juli, jumlahnya meningkat menjadi lima kejadian.
Artinya, terdapat tambahan empat kebakaran lahan dalam rentang data terbaru. Secara jumlah, kenaikannya mencapai empat kali lipat dari catatan sebelumnya.
Kondisi lahan yang semakin kering dapat membuat api lebih mudah menyebar. Puntung rokok, pembakaran sampah, pembukaan lahan dengan api, hingga percikan kecil di kawasan berumput kering berpotensi memicu kebakaran yang sulit dikendalikan.
Secara keseluruhan, jumlah bencana di Jawa Barat bertambah dari 300 menjadi 305 kejadian. Titik sebaran terdampak di tingkat kecamatan juga naik dari 975 menjadi 998 titik.
Meski demikian, pertambahan angka dalam dashboard merupakan selisih periode pembaruan data. Angka tersebut tidak serta-merta berarti seluruh kejadian berlangsung pada 18 Juli 2026.
Sampai pembaruan terakhir, banjir masih tercatat sebanyak 105 kejadian, tanah longsor 78 kejadian, dan cuaca ekstrem 108 kejadian. Sebanyak 99 orang dilaporkan meninggal dunia akibat berbagai bencana sejak awal tahun, sedangkan satu orang masih dinyatakan hilang atau dalam pencarian.
Peningkatan kekeringan di Jawa Barat dan kebakaran lahan menjadi peringatan bagi pemerintah daerah untuk memperkuat pemetaan sumber air, menyiapkan armada tangki, dan memperketat pengawasan aktivitas pembakaran. Sebab ketika sumur mulai mengering dan rumput berubah menjadi bahan bakar, keterlambatan beberapa hari saja dapat membuat masalah kecil membesar dengan cepat. (NS/AS)
