lintaspriangan.com, Berita Jabar. Gelombang pesisir selatan Jawa Barat berpotensi mencapai ketinggian 2,5 meter pada Sabtu, 18 Juli 2026. Kondisi tersebut perlu diperhatikan masyarakat yang hendak melaut, memancing, menyeberang menggunakan perahu kecil, atau menghabiskan akhir pekan di pantai Kabupaten Pangandaran, Garut, dan Sukabumi.
Laut yang terlihat tenang dari bibir pantai belum tentu benar-benar aman. Gelombang dapat berubah ketika perahu sudah bergerak lebih jauh dari daratan. Wisatawan juga bisa kehilangan waktu untuk menjauh saat ombak mendadak mencapai area pantai yang sebelumnya tampak kering. Karena itu, keputusan untuk berlayar atau bermain di dekat air tidak cukup hanya berdasarkan pengamatan sesaat.
Gelombang Pesisir Selatan Masuk Kategori Sedang
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG memasukkan perairan selatan Jawa Barat serta Samudra Hindia selatan Jawa Barat ke dalam wilayah yang berpotensi mengalami gelombang kategori sedang pada 18 Juli 2026.
Berdasarkan klasifikasi BMKG, gelombang kategori sedang berada pada kisaran 1,25 hingga 2,5 meter. Prakiraan tersebut diperbarui Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok pada Jumat, 17 Juli 2026, pukul 17.48 WIB.
Wilayah perairan selatan Jawa Barat secara geografis mencakup kawasan yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, termasuk pesisir Kabupaten Sukabumi, Garut, dan Pangandaran. Ketiga daerah tersebut memiliki aktivitas laut yang cukup tinggi, mulai dari penangkapan ikan, wisata pantai, olahraga air, hingga perjalanan menggunakan perahu berukuran kecil.
Di Pangandaran, perhatian diperlukan di kawasan pantai yang ramai wisatawan, termasuk area yang digunakan untuk berenang dan wisata perahu. Pengunjung sebaiknya tidak melewati batas aman, tidak berenang sendirian, serta mematuhi arahan petugas pantai.
Kewaspadaan serupa diperlukan di pesisir Garut seperti Santolo, Sayang Heulang, Rancabuaya, dan pantai-pantai Garut Selatan lainnya. Karakter pantai terbuka yang langsung menghadap Samudra Hindia membuat perubahan gelombang perlu diantisipasi sejak sebelum aktivitas dimulai.
Sementara di Sukabumi, masyarakat yang beraktivitas di kawasan Palabuhanratu, Cisolok, Ujunggenteng, Surade, dan pesisir sekitarnya perlu memeriksa kondisi laut secara berkala. Jarak antara permukiman, fasilitas keselamatan, dan beberapa pantai juga menjadi pertimbangan penting ketika muncul keadaan darurat.
Nelayan dan Wisatawan Jangan Hanya Melihat Cuaca di Darat
Ketinggian gelombang 1,25 hingga 2,5 meter tidak otomatis berarti seluruh pantai harus ditutup. Namun, kondisi tersebut dapat memberikan risiko berbeda bergantung pada ukuran perahu, arah angin, lokasi pelayaran, arus laut, bentuk pantai, serta pengalaman orang yang mengoperasikan kapal.
Perahu kecil merupakan kelompok yang perlu memberikan perhatian lebih. Gelombang yang masih dapat dilalui kapal besar belum tentu aman bagi perahu nelayan tradisional atau perahu wisata dengan kapasitas terbatas. Muatan berlebih, tidak tersedianya pelampung, dan keputusan memaksakan perjalanan dapat memperbesar risiko.
Nelayan sebaiknya memeriksa pembaruan prakiraan maritim sebelum berangkat, memastikan alat komunikasi berfungsi, membawa perlengkapan keselamatan, serta memberi tahu keluarga mengenai lokasi dan perkiraan waktu kembali. Jika kondisi aktual berbeda dari prakiraan awal, perjalanan sebaiknya ditunda.
Wisatawan juga perlu menghindari berdiri di batu karang, pemecah ombak, atau bibir tebing yang langsung terkena hempasan air. Anak-anak harus selalu berada dalam pengawasan orang dewasa, sekalipun sedang bermain di kawasan yang terlihat dangkal.
Prakiraan gelombang pesisir selatan dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer dan kondisi laut. Karena itu, masyarakat Pangandaran, Garut, dan Sukabumi disarankan memantau pembaruan melalui layanan resmi cuaca maritim BMKG, syahbandar, petugas pantai, dan aparat setempat sebelum memulai aktivitas di laut. (NS/AS)
