lintaspriangan.com, BERITA INDRAMAYU. Produksi padi Indramayu sepanjang 2026 diproyeksikan mampu menembus lebih dari 1,6 juta ton. Proyeksi besar itu dibayangi musim kemarau yang mulai terasa di sejumlah wilayah pertanian Kabupaten Indramayu.
Optimisme tersebut menguat setelah berakhirnya musim tanam rendeng, ditandai panen raya di Desa Srengseng, Kecamatan Krangkeng, Kamis, 16 Juli 2026. Pemerintah daerah kini mengandalkan panen musim gadu untuk mempertahankan Indramayu sebagai salah satu lumbung pangan nasional.
Produksi Ditopang 125 Ribu Hektare Sawah
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari kanal resmi pemerintah dan sejumlah pemberitaan, proyeksi produksi padi Indramayu ditopang lahan baku sawah sekitar 125 ribu hektare. Indeks pertanamannya berada pada angka 1,8 dengan produktivitas rata-rata 6,6 ton per hektare.
Berakhirnya musim rendeng bukan berarti aktivitas pertanian berhenti. Sejumlah wilayah mulai beralih menuju musim tanam dan panen gadu. Kecamatan Gantar termasuk daerah yang mulai memasuki masa panen dan diharapkan memberikan tambahan produksi sepanjang tahun.
Sebagai pembanding, catatan Pemerintah Kabupaten Indramayu menunjukkan produksi padi hingga akhir November 2025 telah mencapai sekitar 1,63 juta ton. Rekam jejak tersebut menjadi salah satu dasar optimisme bahwa produksi tinggi dapat dipertahankan pada 2026 meskipun pola musim menghadirkan tantangan berbeda.
Hingga pertengahan Juli 2026, belum ditemukan laporan mengenai sawah yang mengalami puso atau gagal panen akibat kekeringan. Kondisi ini menjadi modal penting untuk mengejar proyeksi produksi lebih dari 1,6 juta ton.
Namun, capaian tersebut masih bergantung pada pasokan air selama kemarau. Gangguan distribusi air, penurunan debit saluran irigasi, serta keterlambatan penanganan lahan berpotensi menekan produktivitas sawah pada musim gadu.
Antisipasi Kekeringan dan Distribusi Air
Pemerintah Kabupaten Indramayu bersama unsur TNI, Polri, dan pemangku kepentingan pertanian menjalankan pengaturan distribusi air melalui sistem gilir-giring. Sistem tersebut digunakan agar pasokan air dapat dibagi secara bergantian ke area persawahan yang membutuhkan.
Bantuan pompa dari Kementerian Pertanian turut dimanfaatkan untuk mengalirkan air menuju lahan yang sulit terjangkau irigasi. Pompanisasi menjadi salah satu penopang utama ketika debit air pada saluran mulai berkurang.
Pengaturan air menjadi bagian paling menentukan dalam menjaga produksi padi Indramayu. Sawah yang masih memasuki masa tanam maupun pertumbuhan membutuhkan kepastian pasokan agar tidak mengalami kekeringan sebelum panen.
Proyeksi 1,6 juta ton sekaligus menunjukkan besarnya peran Indramayu dalam pasokan pangan. Dengan luas sawah dan produktivitas yang tinggi, gangguan produksi di wilayah tersebut dapat berpengaruh terhadap ketersediaan gabah maupun beras di tingkat regional.
Perkembangan musim kemarau, distribusi air, dan luas lahan terdampak akan menjadi penentu tercapai atau tidaknya proyeksi tersebut. Hingga pertengahan Juli, pemerintah daerah masih menilai kondisi pertanian terkendali dan panen dapat berlanjut. (AS)
