Ekonomi Jabar Tumbuh 5,73 Persen, Siapa Menikmati?

lintaspriangan.com, BERITA JABAR. Ekonomi Jabar tumbuh 5,73 persen pada triwulan II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka itu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,29 persen. Di atas meja statistik, Jawa Barat sedang melaju kencang.

Namun, pertumbuhan ekonomi bukan angka yang dapat dimasukkan ke dompet. Pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan warga ialah siapa yang menikmati pertumbuhan tersebut: buruh pabrik, pedagang kecil, petani, pekerja informal, atau justru sektor-sektor yang berkelindan dengan belanja pemerintah?

Industri dan Belanja Pemerintah Berlari Kencang

Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Jawa Barat, pertumbuhan tertinggi dari sisi lapangan usaha terjadi pada administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib. Sektor tersebut tumbuh 18,28 persen secara tahunan.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah bahkan tumbuh 40,24 persen. Angka itu memperlihatkan peranan belanja pemerintah yang cukup kuat dalam menggerakkan perekonomian selama triwulan II 2026.

Namun, sektor dengan pertumbuhan tertinggi belum tentu menjadi penyumbang terbesar. Sumber pertumbuhan paling besar dari sisi lapangan usaha tetap berasal dari industri pengolahan dengan andil 1,96 persen.

Artinya, denyut utama ekonomi Jabar masih bertumpu pada pabrik-pabrik di koridor industri, terutama Bekasi, Karawang, Purwakarta, Bandung Raya, dan sejumlah kawasan manufaktur lainnya. Ketika produksi meningkat, perusahaan, pemasok, pekerja, pengangkut barang, serta usaha penunjang di sekitarnya berpeluang menerima manfaat.

Sementara itu, konsumsi rumah tangga menyumbang 3,03 persen terhadap pertumbuhan. Ini menunjukkan belanja masyarakat masih menjadi penyangga terpenting perekonomian Jawa Barat.

Masalahnya, konsumsi rumah tangga hanya dapat terus bergerak apabila pendapatan warga terjaga. Pertumbuhan yang bergantung pada belanja masyarakat akan rapuh jika upah tertahan, pekerjaan tidak pasti, atau harga kebutuhan pokok kembali menanjak.

Angka agregat provinsi juga belum dapat menjelaskan pemerataan manfaat di 27 kabupaten dan kota. Laju kawasan industri di Bekasi atau Karawang belum tentu serupa dengan kehidupan petani di Priangan, nelayan Pangandaran, pedagang pasar di Tasikmalaya, maupun pekerja informal di kota-kota kecil.

Kemiskinan Turun, Pekerjaan Formal Masih Terbatas

Kabar baiknya, pertumbuhan tersebut disertai penurunan kemiskinan. Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin Jawa Barat tercatat 6,54 persen, turun 0,49 poin dibandingkan Maret 2025.

Jumlah penduduk miskin berkurang sekitar 218.270 orang dalam setahun. Meski demikian, masih terdapat 3,44 juta warga Jawa Barat yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Garis kemiskinan Jawa Barat pada Maret 2026 ditetapkan sebesar Rp609.790 per kapita per bulan. Sekitar 74,48 persen dari nilai tersebut merupakan kebutuhan makanan.

Angka itu perlu dibaca dengan jernih. Warga yang pengeluarannya sedikit di atas Rp609.790 memang tidak lagi tercatat sebagai penduduk miskin, tetapi belum tentu telah hidup berkecukupan. Mereka masih mudah tergelincir ketika harga pangan naik, anggota keluarga sakit, atau penghasilan terputus.

BPS menyebut bertambahnya serapan tenaga kerja turut menopang penurunan kemiskinan. Dari Februari hingga Mei 2026, jumlah warga yang terserap dalam pekerjaan bertambah 205.310 orang.

Namun, persoalan kualitas pekerjaan belum sepenuhnya selesai. BPS Jawa Barat mencatat tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2026 masih sebesar 6,64 persen. Dari 26,89 juta orang dalam angkatan kerja, sebanyak 25,10 juta bekerja. Dengan demikian, sekitar 1,79 juta orang belum memperoleh pekerjaan.

Dari seluruh penduduk yang bekerja, hanya 11,09 juta orang atau 44,20 persen yang berada dalam kegiatan formal. Selebihnya, sekitar 14,01 juta orang, bekerja di sektor informal.

Mereka adalah pedagang kecil, pengemudi, buruh lepas, pekerja rumahan, petani, nelayan, dan pelaku usaha mikro yang penghasilannya kerap berubah-ubah. Mereka ikut menggerakkan ekonomi, tetapi tidak selalu memiliki kepastian upah, jaminan kerja, maupun perlindungan sosial yang memadai.

Karena itu, jawaban atas pertanyaan siapa yang menikmati pertumbuhan belum dapat diringkas dalam satu kalimat. Industri pengolahan memperoleh denyut paling kuat. Belanja pemerintah melaju paling cepat. Rumah tangga menjadi penopang terbesar dari sisi pengeluaran. Sebagian warga juga mulai keluar dari kemiskinan dan memperoleh pekerjaan.

Namun, ekonomi Jabar baru layak disebut bertumbuh secara paripurna apabila manfaatnya menembus pagar pabrik, keluar dari ruang perkantoran, lalu hadir di meja makan buruh, petani, nelayan, pedagang kecil, serta jutaan pekerja informal.

Pertumbuhan 5,73 persen merupakan kabar baik. Akan tetapi, angka yang mengilap belum cukup. Ujian sebenarnya terletak pada apakah warga merasakan hidup yang lebih lapang—atau hanya membaca kemajuan dari layar telepon. (NS/AS)

JEJAK HEROIK JABAR

Membuka Jejak Pejuang Tionghoa di Cirebon

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ada satu kalimat pendek dalam arsip...

Taktik Buaya Mangap Pejuang Cirebon Bikin Belanda Kocar-kacir

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jembatan-jembatan menuju Bantarjati tampak seperti sedang...

Selama 5 Bulan, Markas Belanda Digempur Pejuang Cikatomas

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ketika malam turun di wilayah selatan...

Pesantren Langkaplancar yang Berubah Menjadi Markas Laskar

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jauh dari pantai yang kini menjadi...

Dari Perlindungan 1947 hingga Harmony Award 2025

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Bensin telah diletakkan di dekat rumah-rumah warga...

PRIANGAN TIMUR

Festival Literasi Ciamis 2026, Herdiat Minta Warga Tak Berhenti Belajar

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Pesan Bupati Ciamis Herdiat Sunarya dalam...

10 Korban Selamat Kapal Virgo 8 Asal Garut Pulang, 10 Warga Masih Belum Ditemukan

lintaspriangan.com, BERITA GARUT. Operasi pencarian korban Kapal Virgo 8 berlanjut...

Piala PSSI Kota Tasikmalaya U-40 Dihentikan setelah Pemain Meninggal

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Turnamen Piala PSSI Kota Tasikmalaya Antarkecamatan U-40...

Wamenkes di Ciamis: Deteksi Dini Dapat Cegah Potensi Penularan TB

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Kunjungan Wamenkes di Ciamis menghasilkan beberapa...

Lowongan Driver Ambulans Tasikmalaya Ditutup 22 September 2026

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pendaftaran lowongan driver ambulans Tasikmalaya di RSU...

JAWA BARAT

5 Peristiwa Jawa Barat: King Kobra, Temuan Kerangka di Kuningan hingga Duka Sepak Bola

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Sejumlah peristiwa Jawa Barat terjadi...

Demplot Ubi Jalar Kuningan Naikkan Panen dari 3,5 Ton Jadi 6,3 Ton per 100 Bata

lintaspriangan.com, BERITA KUNINGAN. Penerapan demplot ubi jalar di Desa Linggamekar,...

Lulusan SMK Jabar Didorong Terhubung Langsung ke Perusahaan

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendorong...

Sumur Bor Majalengka Layani 3.599 Warga di Empat Desa Saat Kemarau

lintaspriangan.com, BERITA MAJALENGKA. Empat sumur bor Majalengka kini melayani...

Kebakaran Lahan Purwakarta, Api di Sindangpanon Dipadamkan Polisi dan Warga

lintaspriangan.com, BERITA PURWAKARTA. Kebakaran lahan Purwakarta terjadi di kawasan Kampung...

KRL Bogor Tambah Empat Perjalanan Mulai 21 September, Kembali 392 Perjalanan per Hari

lintaspriangan.com, BERITA BOGOR. KRL Bogor kembali melayani 392 perjalanan per...

Gara-gara Pilkades, Ruang Bupati Bekasi Digembok Massa

lintaspriangan.com, BERITA BEKASI. Suasana menjelang pelaksanaan Pilkades Kabupaten Bekasi...

PPPK Kementerian PU Tanam Ganja, Alasannya Bikin Geleng Kepala

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Sulit mendapatkan ganja membuat seorang pegawai...

Olahraga

Popular Categories