lintaspriangan.com, BERITA SUMEDANG. Pasar Cimalaka Sumedang memanas setelah rencana pengosongan kios sebagai bagian dari tahapan revitalisasi mendapat penolakan dari pedagang dan warga, Senin, 6 Juli 2026.
Aksi protes itu tidak hanya berlangsung di area pasar. Massa juga turun ke ruas Jalan Nasional Bandung-Cirebon yang melintas di depan Pasar Cimalaka, hingga arus kendaraan dari dua arah sempat terganggu. Jalan yang biasanya menjadi urat nadi mobilitas warga berubah menjadi panggung protes. Pasar belum direnovasi, tetapi tensinya sudah seperti harga cabai menjelang Lebaran: cepat naik.
Pedagang Minta Revitalisasi Ditunda
Penolakan tersebut muncul saat petugas bersiap melaksanakan pengosongan kios pedagang. Sejumlah pedagang yang tergabung dalam Ikatan Warga Pasar Cimalaka atau Ikwapaci meminta proses revitalisasi tidak dilakukan secara terburu-buru sebelum ada kesepakatan yang jelas.
Dalam aksi itu, massa disebut membakar ban bekas dan membentangkan spanduk penolakan. Arus lalu lintas di jalur Bandung-Cirebon sempat tersendat. Petugas gabungan dari kepolisian, Dinas Perhubungan, dan Satpol PP diterjunkan untuk mengamankan lokasi sekaligus mengurai kepadatan kendaraan.
Bagi pedagang, persoalannya bukan semata-mata menolak pembangunan. Mereka menilai ada hal-hal mendasar yang harus diselesaikan terlebih dahulu, terutama menyangkut tempat penampungan sementara, ukuran lapak, dan besaran sewa setelah pasar direvitalisasi.
Ketua Ikwapaci, Dian Kusdian, dalam sejumlah laporan media menyampaikan bahwa pedagang pada dasarnya tidak menolak penataan Pasar Cimalaka. Namun, mereka meminta adanya musyawarah yang benar-benar terbuka sebelum pengosongan dilakukan.
Salah satu keberatan yang mengemuka adalah ukuran tempat relokasi sementara. Pedagang menilai ruang yang disiapkan terlalu kecil untuk menunjang aktivitas jual beli, terutama bagi pedagang yang membutuhkan peralatan besar seperti lemari pendingin.
Jalan Nasional Sempat Macet
Aksi di depan Pasar Cimalaka berdampak langsung terhadap arus kendaraan di jalur utama Bandung-Cirebon. Kendaraan dari kedua arah sempat mengalami antrean. Di lapangan, aparat melakukan pengaturan lalu lintas dan mengarahkan sebagian kendaraan ke jalur alternatif.
Massa aksi juga disebut meminta Kepala Desa Cimalaka hadir langsung untuk berdialog. Mereka ingin aspirasi soal nasib pedagang didengar sebelum tahapan revitalisasi berjalan lebih jauh.
Di sisi lain, Pemerintah Desa Cimalaka disebut tetap melanjutkan agenda penataan kawasan pasar. Pemdes mengklaim memiliki dasar hukum dalam proses pengosongan dan penataan tersebut. Namun, bagi pedagang, dasar hukum saja tidak cukup jika belum disertai ruang dialog yang dianggap adil.
Situasi di sekitar lokasi akhirnya berangsur terkendali setelah aparat melakukan pengamanan. Namun, polemik Pasar Cimalaka belum selesai. Aksi tersebut memperlihatkan bahwa revitalisasi pasar tidak hanya bicara bangunan baru, tetapi juga menyangkut dapur, lapak, dan keberlangsungan hidup pedagang kecil.
Bagi pemerintah, pembangunan pasar mungkin terlihat sebagai proyek penataan. Bagi pedagang, pasar adalah tempat menyambung hidup setiap hari. Di titik inilah dialog menjadi penting, agar revitalisasi tidak berubah menjadi luka sosial yang justru lebih mahal dari biaya bangunannya. (NS/AS)
Kuis Piala Dunia 2026
Tebak dua tim finalis dan skor akhir. Tiga tebakan akurat dan tercepat berhak mendapatkan hadiah uang tunai. Total hadiah jutaan rupiah.
