lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Siang itu matahari sedang terik. Truk pengangkut sampah melaju pelan menyusuri ruas jalanan Kota Tasikmalaya. Di atas bak mobil yang penuh tumpukan sampah, beberapa pengangkut sampah tampak duduk sambil menahan bau menyengat yang terus bercampur dengan debu jalanan.
Bagi sebagian orang, itu mungkin pemandangan biasa. Tetapi di atas tumpukan sampah itu, ternyata banyak cerita hidup yang sangat tidak biasa.
Kamis malam, (07/05/2026), Lintas Priangan berbincang cukup lama dengan sejumlah pengangkut sampah Kota Tasikmalaya. Obrolannya sederhana. Tentang pekerjaan. Tentang hidup. Tentang keseharian, termasuk hal-hal sederhana seperti tentang lapar.
Namun semakin lama mereka bercerita, suasana perlahan berubah semakin hening.
Di Kota Tasikmalaya ada sekitar 31 armada pengangkut sampah. Setiap armada diisi sekitar 9 hingga 10 orang pekerja. Dan menurut pengakuan mereka, ASN baik PNS maupun PPPK dalam satu armada rata-rata hanya sekitar tiga orang.
Sisanya? Tentu saja mereka, para sukarelawan atau sukwan.
Mereka bekerja setiap hari mengangkut sampah kota. Berangkat pagi sekitar pukul 07.00 WIB dan pulang tidak menentu. Kadang selepas Ashar, kadang sekitar Maghrib. Kalau sampah sedang banyak, jam kerja pun semakin panjang.
Penghasilan mereka bukan berasal dari anggaran pemerintah. Mereka hidup dari pemberian warga yang dikenal dengan istilah “perelek warga”.
Sehari rata-rata mereka membawa pulang sekitar Rp50 hingga Rp60 ribu.
Tidak pernah ada gaji tetap.
Tidak ada uang makan.
Tidak ada uang sakit.
Atau sekadar THR saat lebaran.
Dan yang paling menyedihkan, sebagian dari mereka ternyata terbiasa menahan lapar saat bekerja.
“Ya paling ngopi sama gorengan, itupun tidak setiap hari,” ujar salah seorang sukwan.
Kadang mereka membeli roti murah sekadar mengganjal perut. Kalau perelek sedang agak lumayan, satu rombongan armada sesekali menikmati kupat tahu atau mie ayam.
Di tengah obrolan malam itu, salah seorang sukwan kemudian bercerita tentang pengalamannya yang membuat suasana mendadak sunyi.
Katanya, mereka kadang merasa senang ketika menemukan sisa makanan yang masih terlihat layak di dalam sampah warga.
Ada ayam goreng yang masih menyisakan daging.
Ada minuman kemasan yang masih tersisa.
Atau sekadar kue-kue kecil yang menurut mereka masih bisa dimakan.
“Kalau dari perumahan warga kadang masih ada makanan yang kelihatannya masih bagus,” katanya pelan.
Makanan itulah yang lebih sering jadi andalan makan siang mereka. Kalimat itu diucapkan biasa saja. Tanpa marah. Tanpa drama. Tetapi justru di situlah rasa sesaknya muncul.
Sebab saat sebagian orang membuang makanan karena sudah tidak ingin memakannya, di sudut lain kota ini ada orang-orang yang justru berharap menemukan sisa makanan di antara tumpukan sampah.
Bukan karena mereka tidak punya harga diri. Tetapi karena mereka harus bertahan.
Cerita lain datang dari seorang sukwan yang pernah menemukan botol air mineral di atas tumpukan sampah dalam bak mobil. Botol itu tampak masih bersih dan masih berisi.
Karena haus, ia langsung membukanya lalu meminum isinya. Celakanya, isi botol tersebut ternyata bukan air putih, melainkan cairan kimia!
“Langsung weureu, ngajoprak sababaraha hari!”
Risiko sebesar itu, mereka ceritakan dengan selingan tawa. Miris.
Mungkin karena memang tak ada pilihan lain, bahkan ketika mereka harus sakit. Kerja tiap hari, giliran sakit tangung sendiri. Itupun, tak bisa berlama-lama “cuti”.
Sebab kalau terlalu sering tidak masuk, mereka bisa menjadi bahan cibiran. Disebut terlalu banyak bolos, dianggap manja, bahkan dikhawatirkan kehilangan kesempatan tetap ikut bekerja.
Padahal pekerjaan mereka bukan pekerjaan ringan.
Naik turun truk.
Mengangkat sampah.
Menghadapi bau busuk.
Belatung.
Limbah rumah tangga.
Sampai benda-benda tajam yang tersembunyi di antara tumpukan sampah.
Ironisnya, beberapa dari mereka mengaku bertahun-tahun bekerja tanpa pernah benar-benar mendapatkan fasilitas perlindungan kerja yang layak. Sekadar sepatu boot saja, mereka tidak pernah mendapatkannya.
Sebagian memakai sandal. Sebagian lagi menggunakan sepatu bekas “hasil temuan”. Bahkan tak sedikit yang nekat bekerja tanpa alas kaki.
Salah seorang sukwan bercerita, pernah ada rekannya yang telapak kakinya tertusuk tusuk sate cukup dalam saat mengangkut sampah tanpa alas kaki. Tubuhnya meriang hampir seminggu, tapi tetap bekerja.
“Kalau enggak kerja, mau makan apa?” ujar seorang lainnya.
Kalimat itu pendek.
Tetapi terasa sangat panjang ketika diucapkan di tengah cerita orang-orang yang setiap hari membersihkan kota, namun hidupnya sendiri nyaris tidak pernah benar-benar dibersihkan dari rasa khawatir.
Mereka juga mengaku sudah terlalu sering diberi harapan. Pernah dijanjikan akan diajak bertemu wali kota. Pernah dibicarakan soal kemungkinan uang makan. Nominalnya sempat disebut Rp30 ribu, lalu turun menjadi Rp20 ribu, hingga akhirnya Rp15 ribu.
Tetapi semuanya berhenti di obrolan. Uang itu tidak pernah benar-benar datang.
Di akhir obrolan malam itu, Lintas Priangan sempat bertanya tentang harapan mereka. Salah seorang sukwan yang sudah bertahun-tahun bekerja mendadak diam cukup lama.
Tatapannya kosong. Matanya terlihat membasah.
Ia seperti bingung harus menjawab apa. Lalu pelan ia berkata:
“Sudah terlalu sering kecewa.”
Rekan-rekannya menundukkan kepala saat mendengar jawaban itu. Tidak ada yang langsung menyahut.
Dan mungkin, bagian paling menyakitkan dari semua cerita ini bukan hanya soal bau sampah, luka di kaki, atau tubuh yang dipaksa tetap bekerja saat sakit.
Tetapi kenyataan bahwa di kota ini, ada para pejuang kebersihan yang setiap hari menjaga Kota Tasikmalaya agar tetap layak dihuni, namun untuk bertahan hidup, mereka kadang harus mengandalkan sisa makanan yang dibuang warga.
Mereka membersihkan kota.
Tetapi hidup mereka sendiri seperti belum benar-benar diperhatikan.
Entah di mana hati nurani para pengambil kebijakan di kota yang bangga dengan julukan mulia Kota Santri ini, ketika orang-orang yang menjaga lingkungan justru harus makan dari sisa makanan yang dibuang. (AS)

