lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pembina Muslimat NU Jawa Barat, Hj Lina Marlina Ruzhan, menyuarakan pentingnya program Mustika Darling sebagai gerakan nyata untuk membangun kesadaran keluarga terhadap kebersihan, keindahan lingkungan, dan ketahanan rumah tangga.
Menurut Lina, Mustika Darling tidak boleh dipahami sebagai program seremonial. Lebih dari itu, program tersebut harus menjadi gerakan perubahan cara berpikir masyarakat, terutama kaum ibu, agar lebih peduli terhadap lingkungan rumah, kesehatan keluarga, dan pemanfaatan pekarangan.
“Mustika Darling ini salah satu cara mengubah diri dan menyadarkan kita tentang kebersihan dan keindahan. Kalau rumah bersih tapi pikiran kotor, ya percuma. Makanya program Muslimat ini saya sambut dengan penuh semangat,” ujar Hj Lina di Tasikmalaya, Sabtu (20/6/2026).
Mustika Darling Jadi Gerakan Perubahan Mindset
Lina menilai, tantangan terbesar dalam membangun lingkungan sehat bukan hanya soal ketersediaan program, tetapi kemauan masyarakat untuk berubah. Sebab, program sebaik apa pun tidak akan berjalan apabila tidak disertai perubahan pola pikir.
Ia menyebut Mustika Darling sebagai wajah baru perjuangan Muslimat NU dalam menghadapi sikap apatis di masyarakat. Program ini mengajak warga, khususnya para ibu, untuk tidak hanya menunggu bantuan atau instruksi, tetapi mulai bergerak dari halaman rumah sendiri.
Menurutnya, kebersihan lingkungan dan keindahan rumah harus menjadi gaya hidup. Namun, hal itu juga perlu dibarengi dengan kebersihan hati, pikiran, dan perilaku.
“Mengubah mindset orang itu paling susah. Pemerintah boleh bikin program luar biasa, tapi kalau hati dan pikiran tidak mau berubah, ya percuma,” katanya.
Lina menegaskan, perubahan kecil dari rumah dapat menjadi awal perubahan besar di masyarakat. Rumah yang bersih, pekarangan yang tertata, serta keluarga yang sadar lingkungan akan melahirkan kehidupan sosial yang lebih sehat.
Pekarangan Rumah Bisa Jadi Jawaban Saat Harga Melambung
Di tengah kondisi ekonomi yang kerap menekan masyarakat, Lina melihat Mustika Darling sebagai langkah cerdas dan sangat relevan. Program ini mendorong ibu-ibu untuk memanfaatkan pekarangan rumah dengan menanam berbagai kebutuhan dapur.
Mulai dari cengek, cabai, pakcoy, bawang daun, hingga tanaman sayuran lain dapat ditanam di halaman rumah. Meski terlihat sederhana, langkah ini dapat membantu mengurangi pengeluaran harian keluarga.
“Bayangkan, ketika mau bikin bala-bala tinggal petik langsung dari pekarangan. Tidak perlu lari ke pasar, tidak perlu keluar uang lagi. Itulah hebatnya inisiatif ini. Para ibu sudah mulai sadar, lingkungan bersih harus jadi gaya hidup,” ungkapnya.
Menurut Lina, pemanfaatan pekarangan rumah bukan hanya soal menanam sayuran. Di balik gerakan itu, ada semangat kemandirian keluarga, ketahanan pangan, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Ia berharap Mustika Darling dapat terus disosialisasikan hingga ke akar rumput, terutama di Jawa Barat. Program tersebut dinilai harus benar-benar diamalkan, bukan berhenti sebagai slogan dalam kegiatan formal.
Lina juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mengawal pelaksanaan program ini. Menurutnya, Mustika Darling tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri tanpa pendampingan, pengawasan, dan evaluasi.
“Sekarang Mustika Darling sudah ada, tinggal kita wujudkan pelaksanaannya secara nyata. Keberhasilan Mustika Darling tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Pemerintah harus turun tangan mengawasi, mendampingi, dan memastikan program ini benar dijalankan, bukan sekadar jadi liputan,” pungkasnya. (KRS/AS)
Kuis Piala Dunia 2026
Tebak dua tim finalis dan skor akhir. Tiga tebakan akurat dan tercepat berhak mendapatkan hadiah uang tunai. Total hadiah jutaan rupiah.

