lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Sabtu, 22 Agustus 2026, Alun-alun Dadaha menjadi titik temu ribuan siswa madrasah dari seluruh Jawa Barat. Mereka datang membawa nama daerah, bakat terbaik, dan keberanian untuk berlaga dalam Porseni Siswa Madrasah Tingkat Provinsi Jawa Barat 2026.
Bagi Ketua DPRD Kota Tasikmalaya H. Aslim, S.H., M.Si., perhelatan tersebut bukan sekadar agenda perlombaan. Porseni menyentuh bagian yang dekat dengan perjalanan hidupnya karena ia lahir dan tumbuh dalam lingkungan pesantren serta madrasah.
Madrasah yang Membersarkan, Prestasi yang Membanggakan
Aslim mengaku bangga Kota Tasikmalaya dipercaya menjadi rumah bagi pertemuan besar siswa madrasah dari 27 kabupaten dan kota. Kepercayaan itu, menurutnya, memperlihatkan bahwa Tasikmalaya memiliki tempat istimewa dalam perkembangan pendidikan keagamaan di Jawa Barat.
“Saya lahir dan besar dalam lingkungan pesantren dan madrasah. Karena itu, melihat ribuan anak madrasah datang ke Kota Tasikmalaya membawa bakat, semangat, dan cita-cita merupakan kebahagiaan sekaligus kebanggaan tersendiri bagi saya,” kata Aslim, Sabtu (22/8/2026).
Porseni yang berlangsung hingga 24 Agustus 2026 itu diperkirakan melibatkan sekitar 5.000 hingga 5.400 peserta dan unsur pendamping. Mereka mengikuti 13 cabang perlombaan yang memadukan bidang olahraga, seni, dan keagamaan.
Menurut Aslim, keberanian siswa tampil dalam kompetisi sama pentingnya dengan medali yang diperebutkan. Sebab, kemenangan sesungguhnya telah dimulai ketika seorang anak berani keluar dari keraguan dan menunjukkan kemampuan terbaiknya.
“Madrasah tidak hanya mengajarkan anak memahami ilmu agama. Madrasah juga membentuk kedisiplinan, keberanian, kreativitas, dan ketangguhan. Porseni membuktikan bahwa siswa madrasah mampu unggul dalam banyak bidang tanpa kehilangan pijakan nilai dan akhlaknya,” ujarnya.
Menang dengan Rendah Hati, Kalah Tanpa Patah Hati
Kontingen Madrasah Kota Tasikmalaya diperkuat 174 peserta, terdiri atas 56 siswa MI, 58 siswa MTs, dan 60 siswa MA. Sebagai tuan rumah, mereka bukan hanya membawa target prestasi, tetapi juga tanggung jawab memperlihatkan keramahan Kota Tasikmalaya.
Aslim berpesan agar seluruh peserta bertanding secara jujur dan sportif. Para juara diminta tetap rendah hati, sedangkan peserta yang belum memperoleh medali tidak boleh menganggap perjuangannya berakhir.
“Menanglah tanpa merendahkan dan terimalah kekalahan tanpa kehilangan harapan. Piala mungkin hanya dibawa pulang oleh sebagian peserta, tetapi pengalaman, persahabatan, dan keberanian akan menjadi kemenangan bagi semuanya,” tutur Aslim.
Sebagai Ketua DPRD sekaligus Ketua DPC Partai Gerindra Kota Tasikmalaya, Aslim menegaskan bahwa penguatan pendidikan madrasah harus ditempatkan sebagai kepentingan bersama yang melampaui batas kelompok dan kepentingan politik.
“Ketika kita berbicara tentang pendidikan dan masa depan anak-anak, tidak boleh ada sekat politik. DPRD akan selalu berdiri bersama setiap ikhtiar yang sungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas, martabat, dan prestasi Madrasah Kota Tasikmalaya,” tegasnya.
Aslim berharap para peserta membawa pulang kenangan tentang Tasikmalaya sebagai kota yang ramah terhadap ilmu, bakat, dan masa depan generasi muda. Porseni boleh berakhir setelah tiga hari, tetapi keberanian yang tumbuh di dalam diri para siswa harus hidup jauh lebih lama. (NS/AS)







