lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Wakil Wali Kota Tasikmalaya Kang Diky Candranegara atau KDC sempat hadir memenuhi undangan Muslimat NU di Masjid Agung Kota Tasikmalaya, Jumat (19/6/2026) pagi.
Namun di tengah agenda kunjungan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau Menteri PPPA, KDC harus berpamitan lebih awal. Ia memilih melanjutkan agenda ke Mangkubumi untuk menemui para pengrajin UMKM tahu yang juga telah mengundangnya untuk berdialog dan menyampaikan aspirasi.
Acara Muslimat NU di Masjid Agung Kota Tasikmalaya tersebut dijadwalkan mulai pukul 08.00 WIB. Agenda itu diisi sosialisasi pemanfaatan pekarangan rumah melalui program Mustika Darling serta penyerahan perjanjian kerja sama atau PKS antara RSIA Muslimat NU dengan BPJS Kota Tasikmalaya.
Kehadiran Menteri PPPA menjadi perhatian besar bagi ribuan Muslimat NU yang hadir. Mereka ingin mendengarkan langsung arahan mengenai pemanfaatan lahan pekarangan rumah untuk memperkuat ketahanan pangan, kesehatan keluarga, dan pemberdayaan perempuan.
KDC Sebut Berbagi Tugas dengan Wali Kota
KDC berpamitan dari Masjid Agung sekitar pukul 08.40 WIB. Ia menyampaikan bahwa keputusan itu diambil karena pada saat yang sama sudah ada undangan dari masyarakat Mangkubumi, terutama para pelaku UMKM tahu.
Menurut KDC, kepergiannya dari lokasi acara bukan bentuk pengabaian terhadap agenda Menteri PPPA. Di tempat acara, menurut dia, sudah hadir Wali Kota Tasikmalaya beserta keluarga sehingga agenda pemerintahan tetap terwakili dengan baik.
“Tidak apa tidak sempat bertemu Bu Menteri secara langsung karena di tempat acara sudah ada Pak Wali Kota beserta istri dan bundanya. Kita berbagi tugas saja, semoga semua berada dalam keberkahan. Khususnya bagi Muslimat NU, kehadiran Bu Menteri Pemberdayaan Perempuan adalah energi baru bagi gerakan pemberdayaan di Tasikmalaya,” ujar KDC.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa agenda pemerintahan di Kota Tasikmalaya tidak hanya berlangsung di ruang seremoni, tetapi juga di ruang-ruang dialog masyarakat. Di satu sisi, ada agenda besar pemberdayaan perempuan bersama Muslimat NU. Di sisi lain, ada pelaku usaha kecil yang menunggu ruang bicara soal nasib produksi dan ekonomi harian mereka.
Mustika Darling Dinilai Relevan bagi Keluarga
Dalam sosialisasi Mustika Darling, Menteri PPPA menekankan pentingnya pemanfaatan pekarangan rumah sebagai sumber pangan dan obat keluarga. Konsep seperti apartemen sayur, penanaman pakcoy, cabai, tomat, serta tanaman herbal dinilai sangat mungkin dikembangkan oleh warga Muslimat NU.
Program ini tidak hanya berbicara tentang kegiatan menanam di halaman rumah. Lebih jauh, pemanfaatan pekarangan dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat ketahanan pangan rumah tangga, menjaga kesehatan keluarga, sekaligus membuka peluang ekonomi mikro bagi perempuan.
KDC menilai gagasan tersebut sangat relevan dengan kondisi fiskal nasional dan daerah yang saat ini tidak sedang longgar. Menurut dia, ketika anggaran terbatas, pemerintah dan masyarakat perlu mencari solusi yang murah, cepat, kreatif, dan langsung terasa manfaatnya.
Pemanfaatan ruang pekarangan rumah menjadi salah satu contoh konkret. Lahan kecil yang selama ini kurang diperhatikan dapat diubah menjadi sumber sayur, tanaman obat, bahkan tambahan pendapatan keluarga. Halaman rumah jadi lebih produktif, bukan sekadar tempat jemuran dan parkir sandal.
“Semoga apa yang disampaikan Bu Menteri bisa diserap oleh Muslimat NU dan disebarkan ke seluruh lapisan masyarakat. Pemanfaatan pekarangan bukan hanya soal menanam, tetapi juga soal kemandirian, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi keluarga,” tambah KDC.
Dari Masjid Agung ke Pengrajin Tahu Mangkubumi
Setelah meninggalkan Masjid Agung Kota Tasikmalaya, KDC langsung menuju Mangkubumi. Di wilayah tersebut, ia menemui para pengrajin UMKM tahu yang ingin berdiskusi mengenai tantangan usaha yang mereka hadapi.
Pertemuan itu menjadi ruang dialog antara pemerintah daerah dan pelaku usaha kecil. Para pengrajin tahu selama ini menghadapi berbagai persoalan, mulai dari produksi, pemasaran, hingga akses permodalan.
Bagi KDC, suara pelaku UMKM tetap harus didengar langsung. Sebab UMKM tahu bukan hanya urusan dapur produksi, tetapi juga menyangkut ekonomi keluarga, tenaga kerja lokal, dan denyut usaha masyarakat Mangkubumi.
Dengan dua agenda tersebut, KDC menunjukkan pola kerja yang membagi perhatian antara agenda strategis pemberdayaan perempuan dan persoalan ekonomi rakyat kecil. Dari Muslimat NU hingga pengrajin tahu Mangkubumi, pesan yang dibawa tetap sama: pemberdayaan masyarakat harus dimulai dari hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. (DH/AS)
Kuis Piala Dunia 2026
Tebak dua tim finalis dan skor akhir. Tiga tebakan akurat dan tercepat berhak mendapatkan hadiah uang tunai. Total hadiah jutaan rupiah.

