Sebaris Harap dari Relawan Bencana Tasikmalaya

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Di ruang kerjanya yang sederhana, H. Ucu Anwar menyandarkan punggung sejenak. Di usianya yang mendekati masa purna tugas, mungkin langkahnya memang tak lagi secepat dulu. Namun, sorot matanya tetap sama: teduh, tajam, dan selalu siaga. Hari ini, ia diamanahi jabatan sebagai sebagai Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya, tapi perannya lebih dari itu. Ia adalah saksi hidup dari ratusan hari penuh lumpur, hujan, tangis kehilangan, dan secercah harapan yang tak boleh berhenti diperjuangkan.

“Banyak cerita yang bahkan keluarga saya tidak tahu,” katanya pelan. Nada suaranya seperti menyimpan beban yang sudah lama diam, tapi tak pernah benar-benar hilang.


ASN yang bertugas di Badan Penanggulangan Bencana memang, sekilas, sama seperti pegawai negeri di kantor pemerintahan lainnya. Mereka juga mengurus administrasi, berkoordinasi, menyusun program. Bedanya, ketika sebagian orang masih bisa menunggu anggaran cair untuk mulai bekerja, di badan bencana, pekerjaan bisa dimulai bahkan sebelum sempat berpikir soal anggaran. Ketika sirine bahaya berbunyi, ketika laporan bencana masuk, tidak ada ruang menawar.

Di titik itu, yang bekerja bukan hanya tenaga, tapi hati. Yang bergerak bukan hanya prosedur, tapi nurani.

“Begitu ada laporan longsor, banjir, atau warga yang terjebak, kita langsung jalan. Sama sekali tidak ada pilihan lain,” ujar Ucu.

Tanggung jawab yang dipikul para relawan dan ASN di BPBD bukan sekadar melindungi infrastruktur atau aset pemerintah, tetapi nyawa. Terkadang, sudah tak terfikir lagi apa itu output dan outcome yang sering dibahas berjam-jam tanpa ujung yang jelas. Tugas relawan bencana berurusan dengan nyawa. Ya, nyawa warga yang mungkin bahkan tidak mereka kenal namanya.

Dan itu bukan tugas yang ramah pada tubuh dan waktu. Mereka harus siap pulang hanya untuk sekadar ganti baju. Siap meninggalkan makan malam yang baru disajikan istri. Siap mengangkat tubuh korban yang berlumur darah. Siap tertidur di tanah basah, kalau memang tak ada tempat lain untuk memejamkan mata.


Ucu bercerita tentang suatu sore, ketika jam menunjukkan pukul lima. Waktu pulang kantor. Hanya beberapa puluh meter lagi tiba di rumah, ketika laporan masuk: longsor menutup akses jalan di Leuwiliang.

Ia berhenti. Mesin kendaraan yang ia kendarai tidak sempat dingin. Dan tanpa ragu, ia memutar balik. Padahal istri tercinta sudah berdiri menyambut di pintu rumah.

“Evakuasi berlangsung sampai lewat tengah malam. Saya pulang jam satu. Padahal tinggal beberapa puluh meter lagi tadinya. Tapi kalau saya pulang dulu, saya tidak tenang,” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Ada senyum di wajahnya, tetapi bukan senyum kemenangan. Lebih seperti senyum seseorang yang sudah terlalu sering harus mengorbankan pulang.

Lalu ada kisah lain yang lebih sunyi. Saat pandemi COVID menghantam kota. Pemakaman jenazah tak berhenti. Tanpa jeda, jangankan jeda waktu, jeda rasa pun tak ada.

“Dalam satu hari itu, kami bisa memakamkan banyak sekali jenazah. Sampai saya 24 jam tidak tidur,” kenangnya.

Ia akhirnya tertidur di atas tanah pemakaman. Di atas gundukan yang baru selesai dirapikan.

Tidak ada drama di ceritanya. Tidak ada air mata yang ia tunjukkan. Tetapi keheningan yang mengikuti kalimatnya sudah cukup menjelaskan segalanya.

Di balik setiap jenazah yang dikuburkan, ada keluarga yang bahkan tidak sempat mengucap selamat tinggal. Dan ia ada di situ. Menjadi saksi.


Sebulan lagi, masa tugasnya selesai. Orang-orang mungkin akan memberikan ucapan selamat, pesta kecil, atau sekadar rangkaian bunga.

Namun Ucu tidak meminta penghormatan besar. Tidak juga meminta orang mengingat namanya.

Ia hanya meminta satu hal.

“Kalau ada relawan atau petugas bencana yang sedang bertugas di lokasi kejadian, mohon sertakan mereka dalam doa,” katanya.

Doa agar mereka kembali pulang. Doa agar mereka selalu diberi keberanian. Doa agar hati mereka tetap kuat, karena sering kali tugas mereka bukan hanya mengangkat material longsor, tapi juga merawat duka orang lain, dan tentunya mempertaruhkan nyawa sendiri.


Relawan bencana bukan tokoh dalam film heroik. Mereka tidak selalu berhasil menyelamatkan semua orang. Mereka juga takut. Mereka juga lelah. Mereka juga manusia yang ingin pulang tepat waktu, makan bersama keluarga, atau sekadar duduk tanpa memikirkan apa yang mungkin terjadi ketika hujan turun lagi.

Namun, setiap kali sirine berbunyi, benar-benar tak ada pilihan, mereka selalu berangkat.

Dan mungkin, jika rasa terima kasih terasa terlalu jauh untuk diucapkan, maka sebuah doa adalah penghormatan yang paling diharapkan.

Karena untuk mereka, tugas ini tidak pernah sekadar tentang gaji, bukan tunjangan, bukan pencitraan. Ini tentang hidup orang banyak. Dan tentang keberanian untuk tetap berangkat, setiap kali langkah terasa berat.

Tak pernah ada banyak orang bersama mereka. Tapi setidaknya, semoga banyak doa kebaikan untuk mereka ketika bertugas. (GPS)

[td_block_2 limit="7" offset="1" category_id=""]

JEJAK HEROIK JABAR

Membuka Jejak Pejuang Tionghoa di Cirebon

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ada satu kalimat pendek dalam arsip...

Taktik Buaya Mangap Pejuang Cirebon Bikin Belanda Kocar-kacir

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jembatan-jembatan menuju Bantarjati tampak seperti sedang...

Selama 5 Bulan, Markas Belanda Digempur Pejuang Cikatomas

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ketika malam turun di wilayah selatan...

Pesantren Langkaplancar yang Berubah Menjadi Markas Laskar

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jauh dari pantai yang kini menjadi...

Dari Perlindungan 1947 hingga Harmony Award 2025

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Bensin telah diletakkan di dekat rumah-rumah warga...

PRIANGAN TIMUR

Kemarau Lebih dari Lima Bulan, 5.000 Jamaah di Ciamis Gelar Salat Istisqa

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Kemarau yang berlangsung lebih dari...

18 Nama Punya Jejak Digital, Berpotensi Meramaikan Pilkada Ciamis

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Pilkada Ciamis berikutnya memang masih jauh....

Mahasiswa Universitas Galuh Ciamis Dikabarkan Hilang, Keluarga Minta Bantuan Warga

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Seorang mahasiswa Universitas Galuh Ciamis...

SAPMA PP Soroti Dewas RSUD dr. Soekardjo: Kalau Bukan Ahlinya, Lebih Baik Menolak

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Polemik Dewas RSUD dr. Soekardjo Kota...

Anggaran Milangkala ke-14 Kabupaten Pangandaran, Adakah Penjelasannya?

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Polemik anggaran Milangkala ke-14 Kabupaten...

JAWA BARAT

Petani Pebayuran Hadapi Ancaman Kekeringan, Pemkab Bekasi Prioritaskan Normalisasi Irigasi BKG 22–38

lintaspriangan.com, BERITA BEKASI. Pemerintah Kabupaten Bekasi memprioritaskan normalisasi irigasi...

Warga Lima Kecamatan di Majalengka Kekurangan Air Bersih, 26 Truk Tangki Dikerahkan

lintaspriangan.com, BERITA MAJALENGKA. Warga di lima kecamatan Kabupaten Majalengka,...

Kecelakaan Tol Cipularang Libatkan 15 Kendaraan, Satu Orang Luka Berat dan Seluruh Lajur Sempat Tertutup

lintaspriangan.com, BERITA PURWAKARTA. Kecelakaan Tol Cipularang yang melibatkan 15...

Jabar Kabisa 2026 Digelar 8–9 Oktober di Bandung, Warga Bisa Akses Layanan Publik Gratis

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui...

25 Ribu Mahasiswa Tangani Sampah Bandung Raya, Pemprov Jabar Targetkan Pengurangan 1.000 Ton per Hari

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan 25...

Pekerja Majalengka di Batam Diduga Dianiaya, 2 Terduga Pelaku Diamankan

lintaspriangan.com, BERITA MAJALENGKA. Sejumlah pekerja asal Jawa Barat, termasuk...

Kadis DLH Kabupaten Bekasi Disorot Usai Video Dugaan Pengusiran Wartawan Beredar

lintaspriangan.com, BERITA BEKASI. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH)...

Kemenimipas Ungkap Temuan dalam kasus Lapas Cibinong, Bagaimana status Indra Kenz?

lintaspriangan.com, BERITA BOGOR. Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) mengungkap...

Olahraga

Popular Categories