lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Dinamika penyampaian aspirasi yang berkembang di Pati pada bulan kemerdekaan menjadi pengingat bahwa ketegangan dapat tumbuh ketika perbedaan kepentingan tidak segera dipertemukan dalam ruang dialog. Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Tasikmalaya, Sahrial Koto, mengajak seluruh unsur masyarakat menjaga kondusivitas kota dengan memperkuat pembauran, Sabtu (22/8/2026).
Sahrial berpandangan, aspirasi bukan ancaman bagi demokrasi. Kota yang sehat justru harus cukup dewasa untuk mendengar perbedaan dan cukup bijaksana untuk mengolahnya menjadi jalan keluar. Pemerintah dan masyarakat karena itu perlu menjaga saluran komunikasi agar persoalan tidak dibiarkan berkembang menjadi ketegangan.
Indonesia Lahir dari Rahim Keberagaman
Menurut Sahrial, Indonesia tidak dibangun oleh satu suku, bahasa, ataupun kebudayaan. Bangsa ini lahir ketika masyarakat dengan latar belakang berbeda sepakat memiliki rumah dan masa depan yang sama.
Kesatuan Indonesia juga tidak terbentuk karena seluruh masyarakat menjadi seragam. Kesatuan itu lahir karena perbedaan diterima sebagai kenyataan sekaligus kekuatan kebangsaan. Karena itu, keberagaman bukan lapisan tambahan dalam kehidupan Indonesia, melainkan bagian dari susunan dasarnya.
Data terbaru pemerintah memperlihatkan bahwa masyarakat dari berbagai kelompok suku telah tersebar melintasi pulau dan wilayah asalnya. Perpindahan penduduk membuat masyarakat hidup, bekerja, bersekolah, dan membangun keluarga di tengah lingkungan yang semakin beragam.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga mencatat Indonesia mempunyai 718 bahasa daerah. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan keragaman bahasa tertinggi di dunia. Ratusan bahasa daerah tetap hidup sebagai identitas masyarakat, sementara bahasa Indonesia menjadi ruang perjumpaan seluruh warga.
Sahrial memandang keadaan tersebut sebagai pencapaian kebangsaan yang luar biasa. Bahasa daerah memberikan akar, sedangkan bahasa Indonesia menyediakan rumah bersama. Laut yang membentang di antara pulau-pulau juga tidak menjadi dinding pemisah, tetapi berkembang menjadi jalur yang mempertemukan manusia, kebudayaan, dan kegiatan ekonomi.
Perbedaan, dengan demikian, telah menjadi gen Indonesia. Setiap upaya mempertentangkan suku, ras, etnis, atau daerah asal bukan hanya mengganggu ketertiban, tetapi juga berlawanan dengan watak dasar bangsa.
Pembauran Bukan Peleburan Identitas
Sahrial menegaskan bahwa pembauran tidak berarti meleburkan seluruh identitas menjadi satu warna. Pembauran memastikan setiap identitas memperoleh tempat yang terhormat tanpa digunakan untuk membangun jarak, kecurigaan, maupun permusuhan.
Hal tersebut sejalan dengan mandat FPK untuk menjaring aspirasi masyarakat, menyelenggarakan dialog bersama pemuka adat dan suku, menyosialisasikan kebijakan pembauran, serta menyampaikan rekomendasi kepada pemerintah daerah.
Dalam kehidupan Kota Tasikmalaya, setiap orang dari suku dan latar belakang apa pun mempunyai hak yang sama untuk tinggal, bekerja, beribadah, dan mengambil bagian dalam pembangunan. Tidak ada satu kelompok pun yang dapat memonopoli rasa memiliki terhadap kota ini.
Sahrial berharap dinamika yang berkembang di Pati menjadi refleksi bersama tentang pentingnya komunikasi dan keterbukaan. Kondusivitas Kota Tasikmalaya harus dirawat dengan memastikan setiap perbedaan menemukan meja dialog, bukan dibiarkan mencari jalannya sendiri di tengah ketegangan. (NS/AS)







