lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Kunjungan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ke SMAN 11 Kota Tasikmalaya pada Senin, 4 Mei 2026, sekilas tampak seperti agenda biasa di sela kegiatan Kirab Mahkota Binokasih. Namun, semakin dicermati, ada satu hal yang terasa janggal.
Bukan pada kehadirannya, melainkan pada efektivitas kunjungan itu sendiri.
Di tengah agenda budaya yang padat, Gubernur tiba-tiba singgah ke sebuah sekolah baru di Kecamatan Bungursari. Tidak ada tanda-tanda persiapan khusus. Tidak ada penyambutan yang biasanya mengiringi kunjungan kepala daerah. Suasananya sederhana, bahkan cenderung seperti inspeksi mendadak.
Catat baik-baik. Sebelum kunjungan, tidak ada satu media pun yang memberitakan bahwa KDM akan datang ke sekolah tersebut.
Lebih menarik lagi saat mencermati KDM di lokasi kunjungan. Tanpa pengantar panjang, Gubernur langsung menanyakan persoalan yang akhir-akhir ini menjadi polemik: akses jalan menuju SMAN 11 Kota Tasikmalaya.
Pertanyaan itu bukan isu umum, tapi persoalan spesifik yang baru pada awal April 2026 ramai diperbincangkan dan memicu kekhawatiran masyarakat, terutama orang tua dan calon siswa. Lokasi sekolah yang berada di kawasan bekas tambang membuat akses menuju lokasi belum memadai, sehingga menimbulkan keraguan terhadap kelayakan operasionalnya.
Kunjungan itu berlangsung singkat. Namun hasilnya langsung terasa. Gubernur menginstruksikan pembebasan lahan seluas 4.900 meter persegi untuk membuka akses jalan menuju sekolah tersebut.
Di titik ini, kejanggalan itu semakin terasa: bagaimana sebuah kunjungan yang tampak mendadak bisa langsung menyentuh persoalan paling krusial dengan begitu tepat, lengkap dengan solusinya?
Halaman selanjutnya: Kejanggalan yang Terungkap
