lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Anggota DPR RI Dapil Tasikmalaya Ferdiansyah menegaskan kepala sekolah harus mengubah cara berpikir dalam memimpin satuan pendidikan. Menurutnya, kepala sekolah tidak cukup hanya menjadi pengawas kegiatan belajar mengajar atau pelaksana administrasi sekolah.
Ferdiansyah menilai kepala sekolah harus tampil sebagai pemimpin utama yang mampu mengelola seluruh ekosistem pendidikan. Bahkan, ia mengibaratkan kepala sekolah sebagai Direktur Utama sekolah, karena memiliki tanggung jawab besar dalam menggerakkan pelajar, guru, orang tua murid, tenaga pendukung, hingga lingkungan sekitar.
“Kegiatan ini diinformasikan untuk menyadarkan bahwa sekolah adalah manajer sekolah, dengan bahasa kerennya Direktur Utama sekolah. Karena itu harus memperhatikan ekosistemnya, yakni pelajar, orang tua murid, guru, pendukung, dan lingkungan RT RW. Kepala sekolah harus membuat perencanaan memberdayakan semua komponen tadi,” tegas Ferdiansyah di Tasikmalaya, Sabtu (20/6/2026).
Kepala Sekolah Harus Cerdas Kelola Ekosistem
Ferdiansyah mengatakan, tantangan sekolah hari ini tidak sederhana. Sekolah tidak bisa hanya berjalan rutin, menunggu bantuan, lalu berhenti pada urusan laporan. Kepala sekolah harus memiliki jiwa kepemimpinan, integritas, dan kemampuan membaca persoalan secara luas.
Menurutnya, dana BOS dan berbagai bantuan pendidikan tidak akan pernah sepenuhnya cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan sekolah. Karena itu, kepala sekolah harus mampu membuat perencanaan, mengelola potensi, serta memberdayakan semua unsur yang ada di lingkungan sekolah.
Ia juga menegaskan, setiap orang yang ingin menjadi kepala sekolah wajib siap mengikuti pendidikan khusus. Sebab, kepala sekolah tidak hanya dituntut mengerti administrasi, tetapi juga harus mampu memimpin dan menggerakkan ekosistem pendidikan.
“Ya itu harus mau, tidak perlu tawar. Nanti bagaimana bisa memimpin dengan memberdayakan komponennya,” ujarnya.
Bagi Ferdiansyah, sekolah bukan ruang yang berdiri sendiri. Ada pelajar, guru, orang tua, masyarakat, RT, RW, hingga lingkungan sekitar yang harus dilibatkan. Jika semua komponen itu bergerak bersama, sekolah bisa lebih kuat menghadapi keterbatasan.
Masalah Sampah Bisa Jadi Peluang Sekolah
Selain soal kepemimpinan, Ferdiansyah juga menyoroti persoalan sampah. Menurutnya, masalah sampah tidak boleh hanya dipandang sebagai beban. Di tangan kepala sekolah yang cerdas, sampah bisa menjadi peluang pendidikan, ekonomi kreatif, dan kerja sama produktif dengan masyarakat.
Ia mencontohkan, sekolah yang memiliki keterbatasan biaya bisa bekerja sama dengan petani. Sampah organik dari lingkungan sekolah dapat diolah menjadi pupuk. Pupuk tersebut kemudian bisa dibarter dengan hasil pertanian seperti singkong atau kebutuhan lain yang bermanfaat bagi sekolah.
“Kalau di desa orang punya tanah satu hektare tapi tidak punya uang tunai, di sini kepala sekolah harus cerdas. Tidak semua pembayaran harus uang tunai,” katanya.
Ferdiansyah menyebut pola pikir seperti itu penting agar sekolah tidak selalu bergantung pada uang tunai. Kepala sekolah harus mampu melihat sumber daya di sekitar sekolah dan mengubahnya menjadi nilai manfaat.
Ia juga mencontohkan pemanfaatan barang bekas menjadi benda berguna bagi sekolah. Sampah plastik, misalnya, dapat diolah menjadi barang bernilai, termasuk bangku sekolah. Cara ini bukan hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tetapi juga memberi pelajaran langsung kepada siswa tentang kreativitas dan kemandirian.
Lebih jauh, Ferdiansyah menilai SMA dan SMK memiliki peluang besar jika dapat dikembangkan menjadi Badan Layanan Umum Daerah atau BLUD. Dengan tata kelola yang tepat, sekolah bisa menjadi pusat industri kecil, ruang praktik, sekaligus sumber pendapatan mandiri.
“Penguatan ekosistem bukan arti sempit, tapi arti luas. Kepala sekolah harus berpikir luas, jeli, dan cepat terhadap masalah lingkungan dan komponennya,” pungkasnya. (AI/AS)
Kuis Piala Dunia 2026
Tebak dua tim finalis dan skor akhir. Tiga tebakan akurat dan tercepat berhak mendapatkan hadiah uang tunai. Total hadiah jutaan rupiah.

