Hasil Melimpah, Harga Belum Tentu Bertahan
Datangnya ikan dalam jumlah besar tentu membawa harapan setelah nelayan Pangandaran beberapa kali menghadapi cuaca buruk dan masa paceklik.
Namun, banyaknya ikan yang didaratkan belum otomatis membuat pendapatan bersih nelayan naik dalam jumlah yang sama.
Pada akhir Juni 2026, harga ikan kembung di pelelangan berada di kisaran Rp24.000 per kilogram. Jika harga tersebut bertahan, tangkapan 500 kilogram memiliki nilai kotor sekitar Rp12 juta. Sementara satu ton ikan bernilai sekitar Rp24 juta.
Angka itu hanya ilustrasi berdasarkan harga akhir Juni, bukan nilai transaksi aktual pada pertengahan Juli.
Harga ketika tangkapan mencapai satu ton perlu diperiksa kembali. Sebab, ketika banyak perahu mendaratkan ikan secara bersamaan, pasokan dapat meningkat lebih cepat daripada kemampuan pasar menyerapnya.
Dalam kondisi seperti itu, harga lelang berpeluang turun.
Nilai kotor juga bukan uang yang sepenuhnya dibawa pulang nelayan. Masih ada biaya bahan bakar, es, perbekalan, pemeliharaan alat tangkap serta pembagian hasil antara pemilik perahu dan awak.
Ada pula persoalan yang sering luput dibicarakan saat musim ikan tiba: kemampuan penyimpanan.
Ikan kembung merupakan komoditas yang cepat mengalami penurunan mutu jika tidak segera didinginkan. Ketika hasil tangkapan mencapai ratusan kilogram per perahu, ketersediaan es, kendaraan berpendingin, cold storage dan jaringan pembeli menjadi sama pentingnya dengan kemampuan menangkap ikan.
Tanpa rantai dingin yang memadai, kelimpahan dapat berubah menjadi tekanan. Nelayan terpaksa segera menjual, sementara pembeli memiliki posisi tawar lebih kuat.
Karena itu, ukuran keberhasilan musim ikan tidak cukup hanya dihitung dari berapa ton yang diturunkan dari perahu.
Pertanyaan yang lebih menentukan ialah berapa harga yang diterima nelayan, berapa biaya melaut dan berapa pendapatan bersih yang akhirnya dibawa pulang setiap awak.
