Kemarau Tidak Selalu Membuat Laut Kekurangan Makanan
Di daratan, kemarau berarti pasokan air berkurang. Di perairan selatan Jawa, musim ini dapat memicu proses alam yang membuat laut menjadi lebih produktif.
Proses itu dikenal sebagai upwelling.
Ketika musim kemarau berlangsung, angin monsun dari Australia bertiup relatif konsisten di kawasan selatan Indonesia. Angin tersebut ikut menggerakkan massa air di permukaan laut menjauh dari kawasan pantai.
Air permukaan yang bergeser kemudian digantikan oleh air dari lapisan lebih dalam.
Air yang naik dari kedalaman memiliki suhu lebih dingin. Namun, air tersebut juga membawa nutrisi yang selama ini tersimpan di bawah permukaan.
Sederhananya, upwelling seperti membawa pupuk alami dari dasar laut menuju lapisan yang mendapatkan sinar matahari.
Nutrisi itu membantu pertumbuhan fitoplankton. Organisme berukuran sangat kecil tersebut menjadi fondasi penting dalam rantai makanan laut.
Ketika fitoplankton bertambah, organisme pemakannya ikut berkembang. Ikan-ikan kecil kemudian datang mengikuti ketersediaan makanan. Di belakangnya, muncul ikan yang lebih besar.
Laut yang dari permukaan terlihat tenang sebenarnya sedang mengalami perubahan besar.
Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN mendeteksi sinyal awal upwelling musim timur 2026 di Samudra Hindia selatan Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara sejak awal Juni.
Tandanya terlihat dari penurunan suhu permukaan laut, meningkatnya salinitas, munculnya arus vertikal ke atas dan bertambahnya konsentrasi klorofil.
Klorofil merupakan salah satu petunjuk keberadaan fitoplankton. Semakin produktif lapisan permukaan laut, semakin besar pula peluang kawasan tersebut menjadi tempat berkumpulnya ikan.
BRIN menyebut intensitas upwelling pada awal Juni masih berada dalam kategori lemah hingga sedang dan belum merata. Fenomena tersebut diperkirakan perlu terus dipantau pada Juli dan Agustus.
Waktunya berdekatan dengan mulai meningkatnya tangkapan ikan kembung Pangandaran.
