Di rumah sederhana mereka di RT 04 RW 01 Dusun Cijambu, Desa Cibeureum, Kecamatan Banjar, suasana duka masih terasa begitu pekat. Baru dua tahun membangun rumah tangga, Robiyanti kini harus melanjutkan hidup tanpa sosok yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga.
Lebih menyayat lagi, anak sambung almarhum yang baru berusia tiga tahun belum memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Hampir setiap malam, bocah itu masih mencari dan menanyakan keberadaan ayah sambung yang selama ini selalu menemaninya.
Berangkat Pagi, Berencana Pulang untuk Botram Bersama Keluarga
Robiyanti mengaku tidak melihat tanda-tanda aneh sebelum suaminya berangkat bekerja.
Seperti biasa, Apip meninggalkan rumah sekitar pukul 05.30 WIB agar pekerjaan bisa dilakukan sebelum cuaca menjadi terlalu panas.
Menurut cerita yang disampaikan sebelum berangkat, pekerjaan hari itu sudah disusun dengan matang.
“Aa sempat bilang, rencananya naik dari jam enam pagi dan mau turun jam sepuluh siang. Nanti dilanjut lagi sore biar enggak kepanasan,” kenang Robiyanti saat ditemui di rumah duka, Minggu (5/7/2026).
Usai turun dari tower, Apip bahkan sudah berencana menyusul acara botram bersama keluarga di kawasan Karang Pucung.
Semua telah direncanakan.
Namun rencana itu tidak pernah menjadi kenyataan.
Telepon yang Mengubah Segalanya
Sekitar pukul 07.00 WIB, Apip masih sempat mengirim pesan WhatsApp kepada istrinya.
Ia memberi kabar bahwa dirinya bersiap naik ke bagian tower yang tersisa sekitar 40 meter lagi untuk dibongkar.
Tak lama setelah itu, komunikasi terputus.
Sekitar pukul 08.30 WIB, saat Robiyanti sedang memompa ban sepeda motor untuk berangkat dari rumah, telepon dari sang adik tiba-tiba masuk.
Suara tangis di seberang telepon langsung membuat tubuhnya lemas.
“Adik saya menelepon sambil menangis, memberi tahu kalau Aa sudah jatuh,” tuturnya.
Kalimat singkat itu menjadi awal dari kabar paling menyakitkan dalam hidupnya.
Upah Belum Dibayar, Pemberi Kerja Belum Menemui Keluarga
Tragedi tower roboh di Banjar tersebut juga menyisakan persoalan lain yang kini menjadi perhatian keluarga.
Menurut Robiyanti, pekerjaan pembongkaran tower itu dilakukan dengan sistem borongan dan bukan berada di bawah perusahaan resmi.
Pekerjaan disebut diberikan oleh seseorang bernama Cecep dengan nilai upah sebesar Rp1 juta per orang untuk target penyelesaian selama tiga hari.
Sementara pekerja yang berada di bawah tower memperoleh upah harian sekitar Rp150 ribu.
Ironisnya, hingga Apip meninggal dunia, keluarga mengaku belum menerima pembayaran sedikit pun.
“Suami saya cerita, upah borongannya Rp1 juta per orang untuk tiga hari kerja sampai selesai. Tapi sampai Aa meninggal, sepeser pun belum ada bayaran yang kami terima,” ungkap Robiyanti.
Keluarga juga mengaku belum pernah didatangi oleh pihak yang memberikan pekerjaan tersebut.
Mereka berharap ada itikad baik untuk menemui keluarga sekaligus memberikan penjelasan mengenai tanggung jawab atas musibah yang terjadi.
“Nyawa suami saya memang tidak bisa diganti. Tapi tolong datang, temui kami, bagaimana pertanggungjawabannya untuk keluarga yang ditinggalkan,” ujarnya.
Pekerja Berpengalaman, Namun Proyek Menyisakan Pertanyaan
Semasa hidup, Apip dikenal sebagai pekerja yang telah lama berkecimpung di bidang pekerjaan tower sejak merantau ke Jakarta.
Pengalaman memanjat tower sudah menjadi bagian dari pekerjaannya selama bertahun-tahun.
Namun sebelum kecelakaan terjadi, ia sempat bercerita kepada istrinya mengenai adanya beberapa pekerja yang dinilai belum memiliki pengalaman memadai sehingga proses pekerjaan di lapangan berjalan lebih lambat.
Keterangan tersebut kini menjadi salah satu hal yang diharapkan dapat didalami dalam proses penyelidikan.
Barang Bukti Masih Diamankan Polisi
Hingga sehari setelah kejadian, pihak kepolisian telah menyerahkan dompet milik korban kepada keluarga.
Namun beberapa barang pribadi lainnya, seperti telepon genggam dan sepeda motor milik almarhum, masih diamankan sebagai barang bukti untuk kepentingan penyelidikan.
Keluarga juga mengaku kartu ATM milik korban hingga kini belum ditemukan.
Keluarga Menunggu Kepastian
Di balik deretan karangan bunga dan ucapan belasungkawa, keluarga kini hanya berharap proses hukum dapat berjalan secara terbuka.
Mereka ingin mengetahui bagaimana standar keselamatan kerja diterapkan dalam proyek tersebut, bagaimana legalitas pekerjaannya, dan siapa yang bertanggung jawab atas musibah yang merenggut dua nyawa sekaligus.
Sebab bagi keluarga Apip, kehilangan itu bukan sekadar angka dalam laporan kecelakaan kerja.
Ada seorang istri yang kehilangan pasangan hidup, ada seorang anak kecil yang setiap malam masih memanggil nama ayahnya, dan ada sebuah keluarga yang hingga kini masih menunggu jawaban atas tragedi yang mengubah hidup mereka dalam hitungan detik. (HS)
Kuis Piala Dunia 2026
Tebak dua tim finalis dan skor akhir. Tiga tebakan akurat dan tercepat berhak mendapatkan hadiah uang tunai. Total hadiah jutaan rupiah.
