lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Persoalan pengelolaan limbah di Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Katineung, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, mendapat tindak lanjut dari Satgas Percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bersama tim dari DPRKPLH dan Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, Satgas MBG melakukan inspeksi langsung ke dapur tersebut untuk memeriksa kondisi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), setelah muncul pemberitaan mengenai dugaan pembuangan limbah dapur ke saluran drainase.
Hasil pemeriksaan menemukan sejumlah bagian sistem pengolahan limbah yang dinilai masih perlu diperbaiki dan dilengkapi. Pengelola dapur pun menyatakan siap melakukan pembenahan dan memilih menghentikan sementara operasional selama proses perbaikan berlangsung.
Berita sebelumnya: Daging Ayam Berbau, SMPN 2 Pamarican Tolak Menu MBG dari Dapur Katineung
Grease trap wajib ditambah di setiap bak cuci
Petugas Satgas Percepatan Program MBG Kabupaten Ciamis, Rini Valianti, mengatakan inspeksi dilakukan tidak hanya untuk mengecek kondisi IPAL, tetapi juga memberikan edukasi dan pembinaan kepada pengelola dapur.
“Kami dari Satgas MBG Ciamis menindaklanjuti apa yang diberitakan media mengenai kejadian di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Katineung. Tadi kami menemukan beberapa item yang mesti diperbaiki dan ditambahkan,” ujar Rini.
Salah satu catatan teknis yang diberikan yakni kewajiban menambahkan grease trap atau perangkap lemak pada setiap bak pencucian.
Perangkat tersebut diperlukan mulai dari bak pencucian ompreng, peralatan makan hingga tempat pencucian bahan makanan.
Menurut Rini, grease trap juga perlu dilengkapi instalasi pelindung yang mudah dibuka dan ditutup. Dengan demikian, proses pengawasan dan pembersihan dapat dilakukan secara rutin.
Selain itu, sistem IPAL konvensional yang ada juga disarankan disempurnakan dengan sistem IPAL pabrikasi.
Kelayakan akhir sistem pengolahan limbah nantinya akan diuji melalui pemeriksaan sampel di laboratorium.
Dapur pilih berhenti 3-4 hari
Di tengah evaluasi tersebut, pengelola Dapur MBG Katineung menyatakan kesediaannya melakukan perbaikan.
Bahkan, operasional dapur diputuskan dihentikan sementara selama sekitar tiga hingga empat hari agar proses pembenahan IPAL dapat dilakukan.
“Pihak dapur alhamdulillah siap dan secara sadar berjanji memperbaiki kekurangan. Mereka juga memilih menghentikan sementara operasional selama 3 hingga 4 hari sampai sistem IPAL terpasang dengan benar,” kata Rini.
Keputusan tersebut membuat distribusi makanan dari dapur Katineung untuk sementara tidak berjalan selama proses perbaikan.
Penghentian operasional menjadi bagian dari langkah pembenahan setelah tim gabungan menemukan sejumlah komponen yang masih perlu dilengkapi.
Pengelola klaim IPAL pabrikasi sudah siap
Asisten Lapangan Dapur MBG Katineung, Sidik, mengatakan pihaknya menerima masukan yang diberikan tim Satgas MBG, DPRKPLH dan Dinas Kesehatan.
Ia memastikan pengelola akan melakukan pembenahan, baik terhadap fasilitas maupun sumber daya manusia yang terlibat dalam operasional dapur.
“Insyaallah secepatnya kami perbaiki dan lengkapi kekurangannya. Untuk IPAL pabrikasi sebenarnya sudah siap, tinggal proses pemasangan,” ujar Sidik.
Menurutnya, penghentian sementara operasional dilakukan agar proses perbaikan dapat berjalan maksimal.
“Demi menunjang perbaikan ini, operasional dapur kami liburkan sementara sampai semuanya benar-benar terpasang dengan baik,” tambahnya.
Persoalan limbah menjadi evaluasi penting
Persoalan IPAL menjadi salah satu perhatian dalam pengelolaan dapur MBG karena aktivitas dapur menghasilkan limbah cair dari proses pencucian bahan makanan, peralatan makan hingga ompreng.
Karena itu, sistem pengolahan limbah harus mampu memastikan air buangan telah melalui proses pengolahan sebelum dialirkan ke lingkungan.
Satgas MBG bersama instansi terkait kini mendorong agar kekurangan yang ditemukan segera dibenahi. Hasil uji laboratorium nantinya menjadi salah satu dasar untuk melihat kelayakan sistem pengolahan limbah setelah dilakukan perbaikan.
Langkah tersebut menjadi penting di tengah sorotan terhadap Dapur SPPG Katineung yang sebelumnya juga mendapat keluhan terkait kualitas menu MBG.
Dengan penghentian operasional sementara selama proses pembenahan, publik kini menunggu apakah perbaikan IPAL dan evaluasi internal tersebut mampu memastikan Dapur MBG Katineung kembali beroperasi dengan sistem pengolahan limbah yang lebih aman dan sesuai ketentuan. (HS)







