lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Perjalanan yang dimulai dari Rancah, Kabupaten Ciamis, akhirnya membawa Viko Nur Faisal hingga ke Mekkah, Arab Saudi. Bukan dengan perjalanan biasa, Viko menempuh ekspedisi panjang dengan berjalan kaki dan melewati 17 negara.
Perjalanan jalan kaki dari Ciamis ke Mekkah tersebut membutuhkan waktu sekitar 17 bulan. Di balik angka itu, Viko mengaku membutuhkan persiapan jauh lebih panjang, sekitar empat tahun.
Mulai dari mengurus administrasi, mengumpulkan biaya perjalanan, melakukan riset rute hingga mempersiapkan visa untuk sejumlah negara yang akan dilalui.
“Awalnya saya merasakan kegelisahan selama empat tahun. Dari kegelisahan itu saya mulai mempersiapkan semuanya, mulai dari birokrasi, uang yang harus disimpan, riset jalur sampai visa. Saya sadar ini bukan ekspedisi biasa,” ujar Viko.
17 Bulan Jalan Kaki dari Ciamis ke Mekkah
Menariknya, angka 17 yang kemudian melekat dalam perjalanan tersebut bukan sesuatu yang dirancang sejak awal.
Viko mengatakan jumlah 17 negara dan durasi 17 bulan baru diketahui setelah menghitung keseluruhan perjalanan sejak keberangkatan hingga kembali ke Indonesia.
“17 negara dengan durasi 17 bulan itu tidak direncanakan. Itu dihitung dari perjalanan sampai pulang,” katanya.
Perjalanan tersebut juga tidak seluruhnya dapat ditempuh menggunakan jalur darat.
Saat perjalanan pulang, kondisi di kawasan Timur Tengah membuat Viko harus menyesuaikan rute. Ia kemudian menggunakan pesawat menuju Thailand sebelum kembali melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Malaysia.
Berbagai tantangan ditemuinya sepanjang perjalanan. Namun, Viko memilih melihat setiap pengalaman sebagai bagian dari proses.
“Bagi saya semuanya positif. Hal-hal yang negatif justru menjadi acuan dan menambah giro dalam perjalanan. Jadi semuanya maslahat bagi saya,” ujarnya.
Merah Putih Dibawa Melintasi 17 Negara
Ekspedisi tersebut bagi Viko bukan semata perjalanan menuju Tanah Suci.
Ia juga membawa identitas Indonesia sekaligus memperkenalkan Kabupaten Ciamis dan kearifan lokal Tatar Galuh kepada masyarakat yang ditemuinya di berbagai negara.
Salah satu simbol yang selalu menyertai perjalanan itu adalah bendera Merah Putih.
Pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Viko kembali membawa Merah Putih yang sebelumnya turut dikibarkan di negara-negara yang dilaluinya.
“17 Agustus memang sudah saya rencanakan untuk membawa Merah Putih yang saya kibarkan di 17 negara. Siapa tahu membawa giro (semangat) untuk semua warga Indonesia dalam mencapai kemerdekaannya,” ungkapnya.

Bagi Viko, sambutan masyarakat yang ditemuinya memberikan kesan tersendiri tentang bagaimana Indonesia dipandang di luar negeri.
“Kalau saya masuk ke Malaysia misalnya, ada bendera Malaysia dan di sebelahnya bendera Indonesia. Sepanjang 17 negara yang saya lewati konsepnya seperti itu. Itu menandakan bahwa kita saudara, Indonesia di mata dunia,” tuturnya.
Bawa Nama Ciamis ke Luar Negeri
Kesempatan bertemu masyarakat dari berbagai negara juga dimanfaatkan Viko untuk memperkenalkan Ciamis.
Ia menyebut perjalanan tersebut mendapat perhatian sejumlah media di luar negeri. Viko sempat diwawancarai televisi di Turki serta media lainnya, termasuk di Malaysia.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya terjadi ketika berada di Turki. Viko mengaku mendapat kesempatan bertemu Presiden Turki melalui undangan Wali Kota Şile, Istanbul.
“Yang sangat berkesan dan tidak terlupakan adalah antusiasme masyarakat selama perjalanan. Dari situ saya bisa bertemu masyarakat berbagai negara dan mengkampanyekan kearifan lokal yang ada di Kabupaten Ciamis,” tuturnya.
Perhatian terhadap perjalanan Viko juga terlihat melalui media sosial.
Pada siaran langsung perjalanan terakhirnya, ia menyebut jumlah penonton mencapai sekitar 14 ribu orang. Sebagian di antaranya berasal dari negara-negara yang pernah dilaluinya.
Selesaikan Tulisan Al-Qur’an Selama Perjalanan
Ada cerita lain yang dibawa Viko selama perjalanan panjang tersebut.
Di tengah ekspedisinya, ia menyempatkan diri menulis ayat-ayat Al-Qur’an secara bertahap.
Aktivitas tersebut bahkan menjadi salah satu alasan Viko belum memprioritaskan tawaran untuk membukukan kisah perjalanannya.
“Setiap seri saya menulis Al-Qur’an beberapa ayat dan alhamdulillah ditutup dengan finish. Al-Qur’an itu selesai saya selesaikan,” ujarnya.
Perjalanan menuju Mekkah juga bukan pengalaman pertama Viko yang berkaitan dengan Tanah Suci. Pada 2018, ia mengaku pernah mendapatkan hadiah untuk menunaikan ibadah haji.
Setelah menuntaskan ekspedisi kali ini, Viko berharap pengalamannya dapat memberikan inspirasi, terutama kepada generasi muda Ciamis.
Ia juga berharap Pemerintah Kabupaten Ciamis memberikan perhatian terhadap potensi anak-anak muda daerah yang mampu membawa nama Ciamis ke tingkat nasional maupun internasional.
“Pesan saya kepada Pak Bupati lebih kepada skala prioritas. Ada potensi anak-anak muda di daerah yang bisa mengharumkan nama ataupun Kabupaten Ciamis di kancah dunia,” katanya.
Setelah Mekkah, Viko Bidik Al-Aqsa
Selesainya perjalanan menuju Mekkah ternyata belum menjadi akhir dari rencana ekspedisi Viko Nur Faisal.
Dalam satu hingga dua tahun mendatang, warga Rancah tersebut berencana kembali melakukan perjalanan lintas negara.
Kali ini, salah satu tujuan yang dibidiknya adalah Masjid Al-Aqsa.
Viko menyebut telah mulai menyusun rute perjalanan yang direncanakan berawal dari Yordania dan kemudian berakhir di Inggris.
“Saya sudah mengatur jalur dari Yordania, nanti finish-nya di UK, tepatnya London. Insyaallah,” pungkas Viko.
Perjalanan 17 bulan melewati 17 negara menuju Mekkah akhirnya bukan hanya menjadi catatan perjalanan pribadi Viko. Sepanjang ekspedisi, warga Rancah itu juga membawa Merah Putih serta memperkenalkan Ciamis kepada masyarakat yang ditemuinya di berbagai negara. (FSL/HS)







