lintaspriangan.com, BERITA DUNIA. Lebih dari 1.000 pekerja kemanusiaan tewas dalam tiga tahun terakhir ketika dunia memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia pada Rabu, 19 Agustus 2026. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres menyebut sebagian besar korban merupakan staf lokal yang bekerja membantu komunitas mereka sendiri.
Dalam pesan Hari Kemanusiaan Sedunia 2026, Guterres menyoroti meningkatnya risiko yang dihadapi pekerja bantuan, mulai dari serangan bersenjata, pengeboman dan penculikan hingga penahanan. PBB juga mencatat pembatasan akses kemanusiaan dan pemangkasan pendanaan membuat bantuan semakin sulit menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Lebih dari 1.010 Tewas dalam Tiga Tahun
Data yang disampaikan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada April 2026 memberikan gambaran lebih rinci mengenai skala korban. Sedikitnya 326 pekerja kemanusiaan tercatat tewas di 21 negara sepanjang 2025, sehingga jumlah kematian dalam tiga tahun mencapai lebih dari 1.010 orang.
Dari lebih dari 1.000 kematian tersebut, lebih dari 560 terjadi di Gaza dan Tepi Barat. OCHA juga mencatat sekitar 130 korban di Sudan, 60 di Sudan Selatan, serta masing-masing 25 di Ukraina dan Republik Demokratik Kongo.
Angka tersebut menunjukkan risiko terbesar tidak hanya dihadapi pekerja bantuan internasional. Pesan Guterres pada 19 Agustus menekankan bahwa mayoritas korban merupakan pekerja lokal yang memberikan bantuan kepada masyarakat di wilayah mereka sendiri.
Selain ancaman langsung terhadap pekerja, PBB menyoroti serangan terhadap sekolah dan rumah sakit serta munculnya risiko baru dari penggunaan persenjataan seperti drone bersenjata. Disinformasi juga dinilai mengikis kepercayaan terhadap operasi kemanusiaan, sementara konvoi bantuan di sejumlah wilayah menghadapi pembatasan akses.
Guterres meminta negara dan pihak yang terlibat konflik menghormati hukum perang, memastikan akses bantuan yang aman, meminta pertanggungjawaban pelaku serangan, serta menyediakan sumber daya yang memadai untuk operasi kemanusiaan.
Peringatan Berawal dari Serangan di Baghdad
Hari Kemanusiaan Sedunia diperingati setiap 19 Agustus. Penetapan tanggal tersebut berkaitan dengan serangan bom terhadap Hotel Canal di Baghdad, Irak, pada 19 Agustus 2003 yang menewaskan 22 pekerja kemanusiaan, termasuk Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Irak, Sérgio Vieira de Mello.
Majelis Umum PBB kemudian menetapkan 19 Agustus sebagai Hari Kemanusiaan Sedunia pada 2008. Peringatan tersebut digunakan untuk mengenang pekerja kemanusiaan yang tewas atau terluka saat menjalankan tugas sekaligus mendorong perlindungan terhadap mereka dan masyarakat yang terdampak konflik maupun bencana.
Pada peringatan 2026, isu keselamatan menjadi semakin menonjol karena korban pekerja bantuan tetap berada pada tingkat tinggi. Selain perlindungan personel, PBB menyoroti konsekuensi serangan dan pembatasan akses terhadap masyarakat sipil, termasuk keluarga yang membutuhkan bantuan pangan dan pasien yang membutuhkan layanan kesehatan darurat.
PBB menegaskan serangan terhadap pekerja kemanusiaan melanggar hukum. Pesan pada 19 Agustus tahun ini kembali menempatkan perlindungan pekerja bantuan, akses kemanusiaan, akuntabilitas, dan pendanaan sebagai tuntutan utama kepada komunitas internasional. (NS/AS)







