lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Ada panggilan tugas yang tidak selalu datang dari kobaran api. Tidak selalu dari kepulan asap. Tidak selalu dari warga yang terjebak di sumur, ular masuk rumah, atau keadaan darurat yang membuat sirene harus meraung di jalan.
Kadang, panggilan itu datang dari hati seorang anak yang hanya ingin melewati hari pentingnya tanpa merasa sendirian.
Itulah yang terjadi di SMPN 3 Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Kamis (18/6/2026). Dua petugas Damkar Pos WMK Banjarsari datang ke sekolah bukan untuk memadamkan api, melainkan untuk menjadi wali bagi seorang siswa kelas IX dalam acara perpisahan sekolah, prosesi penghormatan kepada orang tua, dan pengambilan rapor.
Di tengah siswa lain yang hadir bersama orang tua masing-masing, siswa itu membutuhkan seseorang untuk mendampinginya. Ibunya telah meninggal dunia. Sementara ayahnya disebut sudah hampir 10 tahun tidak pulang.
Hari perpisahan sekolah yang seharusnya penuh senyum, bagi anak itu bisa saja berubah menjadi hari paling sepi. Namun pagi itu, sepi tidak dibiarkan menang.
Damkar Ciamis Datang Tanpa Sirene
Permohonan itu disampaikan oleh seorang wali siswa bernama Iin Setiawati Pratono. Ia meminta bantuan kepada petugas Damkar Pos WMK Banjarsari agar ada yang bersedia mendampingi siswa tersebut sebagai wali dalam rangkaian acara sekolah.
Permintaan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi seorang anak yang berada dalam situasi seperti itu, kehadiran seorang pendamping bisa menjadi hal yang sangat besar.
Petugas Damkar pun merespons. Dikri Nur Dena Tama dan Nurholis berangkat ke SMPN 3 Banjarsari. Mereka datang menggunakan kendaraan pribadi.
Tidak ada mobil pemadam yang menyala lampu rotatornya. Tidak ada selang air yang dibentangkan. Tidak ada teriakan komando sebagaimana biasanya mereka bekerja dalam situasi darurat.
Yang ada hanya dua petugas berseragam, sebuah sekolah, dan seorang anak yang sedang menjalani salah satu momen paling penting dalam hidupnya.
Di lokasi, petugas Damkar mengikuti rangkaian acara bersama wali kelas dan guru-guru SMPN 3 Banjarsari. Mereka hadir mendampingi siswa tersebut dalam prosesi penghormatan kepada wali, sekaligus membantu proses pengambilan hasil belajar atau rapor.
Seragam Damkar yang biasanya identik dengan penyelamatan dari bahaya, hari itu menjadi simbol lain: pelukan sosial bagi anak yang sedang membutuhkan sandaran.
Anak Itu Tidak Sendiri
Di acara perpisahan sekolah, ada momen yang sering membuat ruangan mendadak hening. Anak-anak datang kepada orang tua atau wali, menunduk, menyampaikan hormat, terima kasih, dan doa. Di banyak tempat, momen seperti ini kerap menjadi bagian paling mengharukan.
Bagi siswa tersebut, momen itu tentu tidak mudah. Ketika teman-temannya memiliki orang tua yang hadir, ia harus menghadapi kenyataan bahwa ibunya telah tiada dan ayahnya lama tidak pulang.
Namun pagi itu, ada orang lain yang memilih hadir.
Petugas Damkar duduk sebagai wali. Siswa itu tetap bisa mengikuti rangkaian acara sebagaimana teman-temannya. Ia tetap punya tempat untuk menunduk. Ia tetap punya sosok yang menerima penghormatan itu. Ia tetap punya seseorang yang hadir di hari perpisahan sekolahnya.
Barangkali, kehadiran itu tidak bisa menggantikan orang tua. Tidak ada siapa pun yang benar-benar bisa menggantikan pelukan ibu atau kehadiran ayah. Tetapi dalam hidup, ada saat ketika kehadiran orang baik bisa membuat luka terasa sedikit lebih ringan.
Dan hari itu, di SMPN 3 Banjarsari, Damkar Ciamis menunjukkan bahwa tugas kemanusiaan tidak selalu harus menunggu bencana.
Kadang, bencana paling sunyi adalah ketika seorang anak merasa tidak punya siapa-siapa di momen yang seharusnya ia kenang dengan bahagia.
Pelayanan Publik yang Menghangatkan Hati
Saat Dikri dan Nurholis menjalankan permohonan kemanusiaan di sekolah, petugas lainnya tetap siaga di Pos WMK Banjarsari. Mereka adalah Icep Saepul dan Uju Suparman.
Artinya, pelayanan kedaruratan tetap berjalan. Pos tetap dijaga. Namun di saat yang sama, ada ruang kecil dalam pelayanan publik yang diisi dengan kepedulian.
Sekitar pukul 11.00 WIB, kegiatan selesai dilaksanakan. Petugas kemudian kembali ke Pos WMK Banjarsari setelah mendampingi siswa tersebut dalam acara perpisahan sekolah dan pengambilan rapor.
Peristiwa ini menjadi potret kecil yang menghangatkan hati. Di tengah banyak cerita tentang pelayanan publik yang kaku dan jauh dari rasa, kisah Damkar Ciamis ini memperlihatkan sisi yang berbeda.
Mereka tidak hanya hadir ketika api menyala. Mereka juga hadir ketika hati seorang anak membutuhkan teman.
Tidak semua keadaan darurat berbentuk asap dan kobaran. Ada keadaan darurat yang bentuknya sepi. Ada yang bentuknya ruang kosong di kursi orang tua. Ada yang bentuknya anak yang harus menahan perasaan ketika melihat teman-temannya didampingi keluarga.
Hari itu, Damkar Ciamis tidak memadamkan api.
Mereka memadamkan rasa sendiri.
Dan bagi siswa tersebut, mungkin rapor bisa disimpan di lemari, seragam sekolah bisa berganti, dan hari perpisahan akan berlalu. Tetapi ingatan tentang dua petugas Damkar yang datang agar ia tidak sendirian, bisa jadi akan tinggal jauh lebih lama.
Sebab kadang, hal yang membuat manusia kuat bukanlah pidato panjang. Bukan pula upacara besar.
Cukup ada seseorang yang datang tepat waktu, duduk di samping kita, dan membuat kita merasa bahwa hidup ini belum benar-benar meninggalkan kita. (AS)
Kuis Piala Dunia 2026
Tebak dua tim finalis dan skor akhir. Tiga tebakan akurat dan tercepat berhak mendapatkan hadiah uang tunai. Total hadiah jutaan rupiah.

