lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL. PT Berdikari menyiapkan 30.000 ton bungkil kedelai atau soybean meal (SBM) untuk memperluas akses bahan baku pakan bagi peternak rakyat ayam ras. Kebijakan tersebut menjadi salah satu perkembangan sektor peternakan menjelang Hari Peternakan dan Kesehatan Hewan Indonesia ke-190 yang diperingati Rabu, 26 Agustus 2026.
Dari total pasokan yang disiapkan, sebanyak 5.000 ton saat ini diakses melalui Koperasi Produsen Usaha Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (LPER) untuk memenuhi kebutuhan anggota dan peternak binaannya di berbagai daerah. Sejumlah koperasi peternak lain juga telah mengajukan kebutuhan kepada Berdikari dan masih dalam proses.
Akses Awal 5.000 Ton melalui Koperasi
Kerja sama akses bungkil kedelai sebanyak 5.000 ton antara PT Berdikari dan Koperasi LPER dituangkan dalam nota kesepahaman yang ditandatangani di Jakarta pada 18 Agustus 2026. Kesepakatan itu menjadi tahap awal dari kesiapan pasokan 30.000 ton yang diumumkan pemerintah pada 25 Agustus.
Direktur Operasional PT Berdikari Agung Aulia mengatakan perusahaan mengawali skema tersebut melalui alokasi 5.000 ton kepada koperasi. Menurut dia, kerja sama itu diarahkan untuk memperluas akses peternak rakyat terhadap bahan baku pakan.
“Kami berkomitmen mengawali dari 5.000 ton ini. Target kami adalah membangun ekosistem peternakan ayam ras yang terintegrasi dan berkeadilan,” kata Agung dalam keterangan Kementerian Pertanian.
Kesiapan 30.000 ton tidak berarti seluruh volume tersebut telah diterima peternak. Data resmi Kementerian Pertanian menyebut 5.000 ton sedang diakses melalui LPER, sedangkan kebutuhan dari koperasi lain masih diproses.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut Rapat Koordinasi Perunggasan Nasional di Pusat Veteriner Farma, Surabaya, pada 11 Agustus 2026. Salah satu pembahasan dalam rapat itu adalah pengendalian biaya pakan untuk menjaga keberlanjutan usaha peternak ayam ras rakyat.
Pemerintah Dorong Pengendalian Biaya Pakan
Kebijakan penyediaan bungkil kedelai berlangsung di tengah penataan tata kelola bahan baku pakan nasional. Kementerian Pertanian sebelumnya menyatakan pengelolaan impor SBM pada 2026 melibatkan BUMN, termasuk PT Berdikari, dengan tujuan menjaga ketersediaan dan stabilitas bahan baku pakan bagi industri serta peternak mandiri.
Dalam skema terbaru, pemerintah berperan melalui kebijakan dan fasilitasi, Berdikari menyiapkan pasokan, sedangkan koperasi mengonsolidasikan kebutuhan peternak anggotanya. Pemerintah berharap pola tersebut memberi akses bahan baku yang lebih terencana kepada peternak rakyat.
Momentum kebijakan ini bertepatan dengan Hari Peternakan dan Kesehatan Hewan Indonesia ke-190 pada 26 Agustus. Kementerian Pertanian juga memulai rangkaian Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan pada 26 Agustus hingga 26 September 2026, dengan kegiatan yang mencakup pelayanan, edukasi, vaksinasi, serta penguatan usaha peternakan di berbagai daerah.
Efek penyediaan 30.000 ton SBM terhadap harga pakan atau biaya produksi peternak belum dapat disimpulkan dari pengumuman tersebut. Data resmi yang tersedia baru memastikan jumlah pasokan yang disiapkan, akses awal 5.000 ton melalui satu koperasi, serta pengajuan dari koperasi lain yang masih diproses. (NS/AS)







