lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL Pada Minggu, 5 Juli 2026, ketika status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga, sebagian nelayan di Pandeglang, Banten, tetap memilih pergi ke laut. Bukan karena mereka tidak tahu bahaya. Bukan pula karena mereka kebal rasa takut. Bagi banyak nelayan, laut tetap menjadi jalan paling dekat untuk memastikan dapur di rumah tidak padam.
Di tengah imbauan kewaspadaan, perahu-perahu tetap bergerak. Di atas kertas, risiko bisa ditulis dengan radius, level status, dan rekomendasi teknis. Tetapi di rumah-rumah nelayan, risiko punya nama lain: beras, lauk, utang, anak sekolah, dan kebutuhan harian yang tidak pernah menunggu gunung kembali tenang.
Gunung Anak Krakatau sebelumnya dinaikkan statusnya dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga sejak Kamis, 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB. Kenaikan status itu ditetapkan Badan Geologi Kementerian ESDM setelah adanya peningkatan aktivitas vulkanik yang dipantau secara visual maupun instrumental.
Sebelum status naik, Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami erupsi pada Kamis, 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB. Dalam laporan resmi Badan Geologi, kolom abu saat itu teramati sekitar 200 meter di atas puncak. Aktivitas berikutnya juga kembali tercatat pada Jumat, 3 Juli 2026 pukul 11.50 WIB.
Namun, bagi nelayan, kabar tentang gunung yang aktif bukan satu-satunya kabar buruk. Dalam beberapa bulan terakhir, hasil tangkapan disebut menurun. Saat laut tidak selalu memberi hasil seperti biasanya, pilihan untuk berhenti melaut menjadi lebih berat. Di sinilah persoalannya menjadi tidak sederhana. Negara bisa memberi imbauan keselamatan, tetapi perut keluarga tetap meminta jawaban setiap hari.
Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia atau HNSI Ranting Labuan, Jumami, menyampaikan bahwa aktivitas nelayan tetap berjalan. Para nelayan diminta berhati-hati, tetapi belum ada penghentian aktivitas melaut. Ia juga mempertanyakan siapa yang akan menjamin kehidupan nelayan jika mereka dilarang pergi ke laut.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di dalamnya tersimpan kegelisahan panjang masyarakat pesisir. Bagi pekerja harian seperti nelayan, satu hari tidak melaut bisa berarti satu hari tanpa pemasukan. Bagi mereka, bahaya tidak hanya datang dari arah gunung. Bahaya juga bisa datang dari dapur yang kosong.
Antara Radius Aman dan Radius Kehidupan
Badan Geologi/PVMBG merekomendasikan masyarakat, wisatawan, pendaki, dan nelayan tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Rekomendasi itu menjadi batas penting agar masyarakat tidak masuk ke wilayah yang berpotensi terdampak awan panas, lava, lontaran batu pijar, maupun hujan abu lebat.
Di sisi lain, masyarakat pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang. Badan Geologi juga meminta warga tidak mudah percaya isu yang mengaitkan erupsi Gunung Anak Krakatau dengan tsunami. Informasi semacam itu, jika tidak berasal dari kanal resmi, bisa membuat kepanikan bergerak lebih cepat daripada abu vulkanik.
Pada saat yang sama, pemerintah daerah melalui BPBD Pandeglang juga mengimbau masyarakat pesisir tetap waspada dan mengikuti informasi resmi. Situasi pesisir disebut masih kondusif, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan. Bagi warga pesisir, sikap tenang bukan berarti mengabaikan bahaya. Tenang justru berarti tahu ke mana harus mencari informasi, kapan harus menjauh, dan bagaimana membaca tanda-tanda yang disampaikan otoritas.
Masalahnya, kehidupan nelayan tidak bisa selalu ditunda. Mereka hidup di antara dua radius. Pertama, radius aman yang ditetapkan otoritas. Kedua, radius kehidupan yang ditentukan oleh kebutuhan keluarga. Radius pertama bisa diukur dengan kilometer. Radius kedua lebih rumit, karena ukurannya adalah bertahan hidup.
Itulah yang membuat kisah nelayan Pandeglang pada Minggu, 5 Juli 2026 terasa kuat. Mereka bukan sedang menantang gunung. Mereka sedang menimbang risiko dengan bahasa yang sangat sehari-hari. Kalau tidak melaut, bagaimana keluarga makan? Kalau tetap melaut, bagaimana menjaga keselamatan? Pertanyaan semacam ini tidak selalu bisa dijawab oleh poster imbauan.
Gunung Aktif, Hoaks Ikut Berisik
Di tengah kewaspadaan itu, Badan Geologi juga mengklarifikasi beredarnya video yang diklaim sebagai rekaman erupsi Gunung Anak Krakatau dari atas kapal. Setelah diverifikasi, video tersebut dinyatakan bukan rekaman erupsi Anak Krakatau yang terjadi saat ini.
Klarifikasi ini penting karena bencana sering kali tidak datang sendirian. Setelah aktivitas gunung meningkat, informasi palsu bisa ikut menyebar. Kadang, yang membuat warga panik bukan hanya suara alam, tetapi suara media sosial yang tidak jelas sumbernya. Gunung meletus satu kali, grup WhatsApp bisa meletus berkali-kali. Bedanya, gunung diawasi ahli, sedangkan hoaks sering dibiarkan pakai helm proyek imajiner.
Karena itu, imbauan untuk mengikuti kanal resmi menjadi sangat penting. Informasi tentang aktivitas Gunung Anak Krakatau sebaiknya mengacu pada Badan Geologi, PVMBG, MAGMA Indonesia, BPBD, BMKG, dan instansi resmi terkait. Dalam situasi rawan, informasi yang benar bukan sekadar data. Ia bisa menjadi alat keselamatan.
Kisah Anak Krakatau Siaga dan nelayan yang tetap melaut akhirnya memperlihatkan wajah lain dari bencana. Bencana bukan hanya tentang aktivitas magma di perut bumi. Bencana juga tentang bagaimana manusia kecil mengambil keputusan di tengah keterbatasan.
Bagi sebagian orang, kabar Anak Krakatau Siaga mungkin hanya lewat sebagai notifikasi. Tetapi bagi nelayan Pandeglang, kabar itu masuk ke dalam perhitungan hidup. Mereka harus membaca laut, membaca langit, membaca imbauan, dan membaca kebutuhan rumah.
Di situlah berita ini menjadi lebih dari sekadar catatan status gunung. Ini adalah cerita tentang masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan risiko. Tentang perahu yang tetap berjalan bukan karena pemiliknya nekat, tetapi karena hidup memang sering memaksa orang kecil berunding langsung dengan bahaya.
Anak Krakatau boleh siaga. Tetapi bagi nelayan, dapur di rumah juga sedang siaga. (AS)
Kuis Piala Dunia 2026
Tebak dua tim finalis dan skor akhir. Tiga tebakan akurat dan tercepat berhak mendapatkan hadiah uang tunai. Total hadiah jutaan rupiah.
