Feri dan Keyakinan yang Tak Ikut Lelah
Di sisi lain, Feri Arif Maulana, melihat apa yang dilakukan Devi bukan sekadar aktivitas individu. Ia melihatnya sebagai bukti. Bahwa jalan itu ada. Bahwa perubahan itu mungkin.
Dalam perjalanan ini, Feri tidak hanya memahami, ia juga memilih untuk tetap hadir. Memberi respons. Memberi ruang.Dan menjaga agar arah ini tidak hilang.
Sementara Feri tetap berada di dalam sistem, meyakini bahwa arah yang ditempuh Devi bukan sekadar langkah pribadi, melainkan jalan yang memang harus diperjuangkan bersama.
Dukungan memang belum besar. Beberapa pihak sempat hadirโpengusaha Lemona dengan ratusan ember produksi, Asia Plaza, hingga anggota DPRD Jawa Barat Budi Mahmud.
Namun tentu, jumlah dukungan ini benar-benar tak sebanding tantangan yang setiap saat dihadapi Devi dan Feri.

Masalah sampah di Tasikmalaya masih ada. Masih nyata. Masih terasa. Namun di tengah semua itu, ada dua orang yang memilih untuk tidak diam. Satu bekerja dari dalam sistem. Satu bergerak dari akar kehidupan sehari-hari.
Dua manusia yang, dengan caranya masing-masing, tidak pernah berhenti memikirkan sampah. Mereka tidak menunggu perubahan. Mereka memulai dan terus bergerak. Mungkin dari rumah. Dari dapur. Dari hal-hal kecil yang sering kita abaikan.
Dan kini, pertanyaan itu sampai kepada kita semua:
Haruskah kita biarkan mereka berjalan sendirian?
