lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pagi itu, udara di Lapas Klas IIB Tasikmalaya terasa sedikit berbeda. Di balik tembok tinggi dan jeruji besi, aroma kopi Lapas Tasikmalaya mengalir pelan, menyatu dengan ritme aktivitas pembinaan yang berjalan seperti biasa. Tidak ada yang berisik, tapi ada sesuatu yang terasa hidup.
Di sebuah ruang pelatihan, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, duduk santai. Di tangannya, secangkir kopi hangat. Ia menyeruput perlahan, sejenak terdiam, lalu tersenyum tipis. Bukan sekadar menikmati rasa, tapi seperti sedang menangkap sesuatu yang lebih dalam dari secangkir minuman itu.
Di tempat ini, kopi memang tidak lagi sekadar kopi.
Program pembinaan kemandirian yang dijalankan lapas membuka ruang baru bagi warga binaan untuk belajar. Mereka memulai dari nol—mengenal biji kopi, memahami proses sangrai, mengatur gilingan, hingga belajar mengendalikan mesin espresso. Tidak instan, tidak mudah. Tapi justru di situ letak prosesnya.
Dari tangan-tangan yang dulu asing dengan dunia kopi, perlahan lahir racikan yang tidak bisa dianggap remeh. Kopi Lapas Tasikmalaya kini punya karakter sendiri. Pahitnya terasa pas, aromanya kuat, dan ada kesan bersih yang tertinggal di akhir. Cukup untuk membuat orang lupa, bahwa kopi itu diracik dari tempat yang selama ini identik dengan hukuman.
Beberapa produk bahkan sudah mulai masuk ke hotel dan kedai kopi di Tasikmalaya. Jalannya mungkin belum panjang, tapi arahnya sudah jelas.
Diky Candra melihat itu sebagai sesuatu yang penting. Ia tidak banyak bicara, tapi dari caranya menikmati kopi itu, terlihat ada penghargaan. Baginya, ini bukan soal enak atau tidak. Ini tentang proses.
“Ini bukan cuma soal rasa,” ujarnya singkat.
Di sudut lain ruangan, suara mesin espresso sesekali terdengar. Seorang warga binaan tampak fokus menuangkan susu ke dalam cangkir, mencoba membentuk pola sederhana di atas permukaan kopi. Tangannya belum sempurna, tapi cukup luwes. Ada rasa percaya diri yang perlahan tumbuh.
Di tempat seperti ini, perubahan memang tidak datang dengan cara besar. Ia hadir pelan-pelan, lewat hal-hal kecil yang dikerjakan berulang setiap hari.
Bagi para peserta pelatihan, meracik kopi Lapas Tasikmalaya bukan sekadar belajar keterampilan baru. Ini cara mereka menata ulang hidup. Dari proses memilih biji hingga menemukan takaran yang tepat, ada pelajaran tentang sabar, tentang teliti, dan tentang menerima bahwa tidak semua hal bisa langsung berhasil.
Pelaksana Harian Kalapas Klas IIB Tasikmalaya, Yadi Suryaman, menyebut program ini sebagai bagian dari upaya membekali warga binaan dengan kemampuan nyata. Harapannya sederhana: ketika masa pidana selesai, mereka tidak kembali dengan tangan kosong.
Pilihan pada dunia kopi bukan tanpa alasan. Selain peluangnya terbuka lebar, dunia ini memberi ruang untuk berkembang. Siapa pun bisa belajar, selama mau menjalani prosesnya.
Di luar lapas, geliat usaha kopi di Tasikmalaya memang sedang tumbuh. Kedai-kedai baru bermunculan, membawa gaya dan pasar masing-masing. Di tengah itu, kopi Lapas Tasikmalaya pelan-pelan mencari tempatnya sendiri. Tidak menonjol, tapi juga tidak tertinggal.
Diky Candra melihat peluang itu. Ia mendorong agar produk ini tidak berhenti di pelatihan semata. Perlu sentuhan pada kemasan, pada cara bercerita, juga pada jalur pemasaran. Supaya publik tahu, bahwa karya dari balik jeruji ini layak dihargai.
Yang menarik, dari semua ini bukan hanya soal hasil akhirnya. Tapi bagaimana proses itu memberi ruang bagi harapan untuk tumbuh kembali.
Di tempat yang sering dianggap sebagai titik akhir, justru muncul awal yang baru.
Secangkir kopi Lapas Tasikmalaya mungkin terlihat sederhana. Tapi di dalamnya, ada cerita tentang orang-orang yang mencoba berdamai dengan masa lalu, sambil pelan-pelan menyiapkan masa depan.
Dan pagi itu, di antara aroma kopi yang hangat, cerita itu terasa cukup nyata.
