lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Masalah sampah di Tasikmalaya bukan lagi sekadar tumpukan yang terlihat. Ia telah berubah menjadi rasa lelah yang diam-diam dirasakan banyak warga.
Di sudut jalan, kantong plastik menggunung sebelum sempat diangkut. Di selokan, aliran air tersendat oleh limbah rumah tangga. Saat hujan turun, genangan datang lebih cepat dari biasanya. Bukan karena hujannya berbeda. Tapi karena tanahnya tak lagi mampu menerima.
Hari demi hari, siklus itu berulang. Dibuang. Diangkut. Menumpuk lagi.
Seolah kota ini terus bekerja keras, tapi tak pernah benar-benar selesai. Seperti seseorang yang tidak berhenti berlari, tapi tak bernah berpindah tempat.
Dan di tengah kelelahan yang terasa biasa itu, muncul satu pertanyaan yang pelan, tapi mengganggu:
Jangan-jangan, ada yang belum benar-benar tepat dari semua yang kita lakukan?
Menaklukkan Sampah dari Awal, Bukan Sekadar Membersihkan Akhir
Dalam sebuah diskusi panjang, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kota Tasikmalaya, Feri Arif Maulana, S.T., M.P., menyampaikan satu kalimat yang sederhana—tapi mengubah cara pandang:
“Sampah itu tidak bisa diselesaikan di hilir. Harus ditaklukkan di hulu!”
Kalimat itu tidak lahir dari ruang rapat yang tenang. Ia tumbuh dari pengalaman panjang yang tidak selalu mudah.
Bertahun-tahun, Feri berjibaku dengan persoalan yang sama, sampah yang terus datang, keluhan warga yang tak pernah benar-benar berhenti, dan keterbatasan yang selalu membayangi. Ia sudah terlalu sering menerima kritik. Terlalu sering mendengar keluhan yang sama, berulang-ulang, dari berbagai arah.
Hari demi hari, tahun demi tahun, ia melihat sendiri bagaimana sistem bekerja kewalahan. Dan dari semua perjalanan itulah, kalimat itu lahir. Bukan sebagai teori.
Bukan sebagai wacana. Tapi sebagai kesimpulan dari sesuatu yang telah ia jalani sendiri.
Dan dari semua kegelisahan itu, satu hal perlahan menjadi jelas: manajemen di hilir akan selalu keteteran, ketika tidak ada penaklukan masalah di bagian hulu.
Dan ketika banyak pihak yang masih sibuk membicarakan bagaimana seharusnya, di sudut Kota Tasikmalaya, ada seseorang yang sudah lebih dulu melakukannya. Tanpa panggung. Tanpa sorotan banyak media. Namun dampaknya mulai terasa.
Namanya, Devi Badrudin.
Halaman selanjutnya: Devi Badrudin: Memilih untuk Terus Bergerak









