lintaspriangan.com, BERITA CIANJUR. Pergerakan tanah di Cianjur bukan hanya meninggalkan retakan pada dinding dan lantai rumah. Bencana itu juga menyisakan penantian panjang bagi warga Cianjur Selatan yang hingga Selasa, 14 Juli 2026, masih menagih kepastian hunian layak dari pemerintah daerah.
Di tengah gaung Hari Jadi Kabupaten Cianjur ke-349, suara warga terdampak kembali mencuat. Mereka mengaku tidak lagi sekadar membutuhkan pernyataan bahwa persoalan akan diselesaikan. Setelah hampir dua tahun hidup dalam ketidakpastian, warga menginginkan bukti nyata berupa tempat tinggal yang aman untuk berlindung saat malam dan hujan datang.
Hampir Dua Tahun Menunggu Kepastian Hunian
Salah seorang warga Kampung Babakan Inpres, Desa Sinarlaut, Kecamatan Agrabinta, Samsul, mengungkapkan kekecewaannya terhadap lambatnya penyelesaian nasib masyarakat terdampak.
Menurut dia, warga telah terlalu lama menerima janji tanpa kepastian kapan hunian yang aman benar-benar dapat ditempati.
“Kami sudah hampir dua tahun hanya menikmati janji tanpa bukti yang nyata. Kami butuh tempat tinggal yang layak untuk berteduh saat hujan maupun pada malam hari,” kata Samsul dalam keterangan yang diterima pada Selasa, 14 Juli 2026.
Keluhan tersebut bukan muncul tanpa riwayat panjang. Pada Desember 2024, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cianjur mencatat sedikitnya 60 rumah terdampak pergerakan tanah di Desa Sinarlaut.
Berdasarkan kajian Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, rumah-rumah terdampak direkomendasikan untuk direlokasi ke tempat yang lebih aman. Saat itu, sebanyak 40 kepala keluarga yang terdiri atas 115 jiwa tercatat mengungsi di aula desa, rumah kerabat, dan lokasi pengungsian lainnya.
Warga memahami pembangunan hunian tidak dapat dilakukan dalam semalam. Namun, waktu yang terus berjalan tanpa informasi jelas membuat kesabaran mereka semakin menipis.
Bagi keluarga terdampak, rumah bukan hanya bangunan. Rumah adalah tempat anak-anak tidur tanpa takut tembok kembali retak, tempat orang tua beristirahat tanpa waswas tanah bergerak, dan tempat keluarga membangun kembali hidup yang sempat runtuh.
Warga Ancam Kembali Datangi Pendopo Cianjur
Tuntutan warga turut mendapat pendampingan dari Aliansi Mahasiswa dan Rakyat atau AMAR. Aktivis AMAR, Wildan Sanjaya, menegaskan pihaknya akan terus mengawal persoalan pergerakan tanah di Cianjur sampai masyarakat mendapatkan hak dan kepastian.
Wildan menyatakan, warga bersama mahasiswa siap kembali mendatangi Pendopo Kabupaten Cianjur apabila pemerintah daerah tidak segera memberikan solusi yang jelas.
“Kalau masyarakat tetap dibiarkan dalam kondisi seperti ini, kami bersama seluruh warga korban pergeseran tanah akan kembali mendatangi Pendopo Kabupaten Cianjur,” tegasnya.
Penanganan bencana pergerakan tanah sebenarnya telah berjalan di sejumlah wilayah. Pada November 2025, Pemkab Cianjur menyebut 436 keluarga di tujuh kecamatan telah menerima Dana Tunggu Hunian sebesar Rp500 ribu per bulan selama tiga bulan.
Pemkab juga mencatat 893 rumah rusak berat telah diverifikasi sebagai calon penerima Dana Tunggu Hunian. Namun, pada periode tersebut, warga di beberapa kecamatan, termasuk Agrabinta dan Kadupandak, masih menunggu proses penyaluran secara bertahap.
Data itu memperlihatkan bahwa pemerintah telah menjalankan sebagian program bantuan. Namun, tuntutan terbaru dari warga Sinarlaut menunjukkan masih terdapat persoalan yang perlu dijelaskan secara terbuka: siapa yang telah menerima bantuan, siapa yang masih menunggu, kapan relokasi dilaksanakan, dan apa kendala yang membuat pembangunan hunian belum tuntas.
Hingga laporan mengenai tuntutan warga diterbitkan pada Selasa pagi, belum terdapat keterangan resmi terbaru dari Pemkab Cianjur mengenai perkembangan penyediaan hunian bagi warga yang kembali menyuarakan keluhan tersebut.
Momentum Hari Jadi Cianjur seharusnya menjadi kesempatan memperkuat perlindungan kepada masyarakat. Sebab, kemajuan daerah tidak hanya terlihat dari meriahnya perayaan, tetapi juga dari kecepatan pemerintah memastikan korban bencana dapat kembali tidur dengan tenang di rumah yang aman. (NS/AS)
Kuis Piala Dunia 2026
Tebak dua tim finalis dan skor akhir. Tiga tebakan akurat dan tercepat berhak mendapatkan hadiah uang tunai. Total hadiah jutaan rupiah.
