lintaspriangan.com, BERITA CIANJUR. Ancaman kekeringan menghantui lahan pertanian Cianjur memasuki musim kemarau 2026. Sebanyak 201 hektare sawah yang tersebar di delapan kecamatan kini masuk zona rawan kekeringan, sehingga pemerintah daerah mulai memperkuat berbagai langkah mitigasi untuk mencegah penurunan produksi pangan.
Meski sebagian besar lahan pertanian masih dalam kondisi aman, perubahan cuaca dan berkurangnya pasokan air irigasi menjadi perhatian serius. Pemerintah Kabupaten Cianjur pun mengintensifkan koordinasi lintas instansi agar ancaman kekeringan tidak berkembang menjadi gagal panen.
Sebanyak 201 Hektare Sawah Masuk Zona Rawan Kekeringan
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Cianjur, Dadan Hendrayana, menjelaskan berdasarkan laporan berkala periode 16–30 Juni 2026, terdapat 201 hektare sawah yang terancam kekeringan.
Lahan tersebut tersebar di delapan kecamatan, yakni Naringgul, Cibeber, Warungkondang, Gekbrong, Cilaku, Sukaluyu, Cikalongkulon, dan Haurwangi. Kecamatan Naringgul menjadi wilayah dengan ancaman terluas mencapai 65 hektare, disusul Cilaku 52 hektare serta Haurwangi 43,5 hektare.
Meski demikian, hingga akhir Juni 2026, dampak kekeringan yang telah terjadi masih tergolong ringan dengan luas sekitar 9,5 hektare. Belum ditemukan lahan yang mengalami kekeringan kategori sedang, berat, maupun puso.
Pemerintah Perkuat Mitigasi Hadapi Musim Kemarau
Mengantisipasi meluasnya kekeringan, DTPHP Kabupaten Cianjur menggencarkan koordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari Kementerian Pertanian, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Provinsi Jawa Barat hingga Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang.
Koordinasi dilakukan untuk memastikan jaringan irigasi primer, sekunder, maupun tersier tetap berfungsi optimal. Sejumlah daerah irigasi seperti Cibalagung, Ciheulang, dan Cihea juga telah menjalani normalisasi maupun perbaikan.
Selain itu, pemerintah bersama penyuluh pertanian, UPTD pertanian, UPTD pengairan, hingga kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) terus mengatur jadwal distribusi air agar seluruh lahan tetap memperoleh pasokan secara bergilir.
Pompanisasi Disiapkan untuk Menjaga Produksi Pangan
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah juga telah membangun 11 unit fasilitas pompanisasi air permukaan sejak 2025 yang ditempatkan di sejumlah kecamatan rawan kekeringan.
Tak hanya itu, sebanyak 244 unit pompa air juga telah didistribusikan ke berbagai wilayah di Kabupaten Cianjur sebagai cadangan apabila pasokan air irigasi menurun selama musim kemarau berlangsung. 4
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga produktivitas lahan pertanian sekaligus meminimalkan risiko gagal panen apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan.
Pemerintah Kabupaten Cianjur juga mengimbau para petani untuk terus berkoordinasi dengan petugas pertanian di wilayah masing-masing agar setiap potensi kekeringan dapat ditangani sejak dini sebelum berdampak terhadap produksi pangan daerah. (HS)
Kuis Piala Dunia 2026
Tebak dua tim finalis dan skor akhir. Tiga tebakan akurat dan tercepat berhak mendapatkan hadiah uang tunai. Total hadiah jutaan rupiah.
