lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Sebanyak 10 kelompok anak muda mulai menjalankan aksi kurangi sampah makanan Bandung di komunitas masing-masing pada Senin, 31 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung hingga 19 September sebagai bagian dari program Barudak Beraksi dalam kampanye “Tong Kalap, Tong Nyesa!”.
Setiap kelompok terdiri atas lima orang berusia 18–35 tahun sehingga program ini melibatkan 50 peserta terpilih. Sebelum menjalankan intervensi, mereka mengikuti bootcamp pada 18–19 Agustus dan menghitung data awal sampah makanan di komunitas selama 24–30 Agustus.
Aksi Berlangsung hingga 19 September
Program Barudak Beraksi dirancang untuk mendorong peserta membuat solusi pengurangan sampah makanan yang dapat diterapkan langsung di lingkungan mereka.
Masing-masing kelompok sebelumnya mengajukan rancangan aksi dan anggaran. Kelompok yang lolos kemudian mendapat pendampingan untuk mematangkan kegiatan serta mengukur jumlah sampah makanan sebelum dan setelah intervensi.
Dengan demikian, aksi kurangi sampah makanan Bandung yang dimulai 31 Agustus tidak hanya berupa kampanye edukasi. Program tersebut juga menggunakan penghitungan kondisi awal atau baseline untuk dibandingkan dengan data setelah kegiatan selesai.
Setelah pelaksanaan berakhir pada 19 September, penghitungan data akhir dijadwalkan pada 21–25 September. Hasil dan pengalaman masing-masing kelompok kemudian akan dipresentasikan dalam sesi penjurian pada 30 Oktober 2026.
Kelompok dengan hasil implementasi terbaik dijadwalkan memperoleh paket eduwisata tiga hari dua malam ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, serta piagam penghargaan.
Barudak Beraksi merupakan salah satu bagian kampanye “Tong Kalap, Tong Nyesa!” yang diluncurkan World Resources Institute (WRI) Indonesia bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung pada 11 Juli 2026. Kampanye berjalan hingga Oktober dengan melibatkan anak muda serta pelaku usaha makanan dan minuman.
Sampah Makanan Jadi Porsi Terbesar
Program aksi kurangi sampah makanan Bandung berangkat dari besarnya porsi sisa makanan dalam timbulan sampah kota.
WRI Indonesia, dengan merujuk data Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung 2024, menyebut Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.600 ton sampah setiap hari. Sampah makanan diperkirakan menyumbang sekitar 44–45 persen dari jumlah tersebut.
Dalam keterangan saat peluncuran kampanye, WRI Indonesia juga menyebut data DLH Kota Bandung menunjukkan sekitar 63 persen sampah makanan berasal dari sektor hotel, restoran, dan kafe, sedangkan sisanya berasal dari rumah tangga.
Selain kegiatan berbasis komunitas, kampanye tersebut melibatkan 10 kafe dan restoran di Kota Bandung. Pengunjung diajak mengikuti aktivitas yang mendorong kebiasaan menghabiskan makanan dan memahami persoalan sampah makanan.
Hasil pengukuran setelah 19 September akan menjadi indikator untuk melihat perubahan jumlah sampah makanan di komunitas peserta selama periode intervensi. Karena proses tersebut masih berjalan, efektivitas kegiatan belum dapat dinyatakan sebelum data akhir tersedia. (NS/AS)







