lintaspriangan.com, BERITA DUNIA. Ketika WhatsApp, Telegram dan berbagai aplikasi pesan instan berlomba membuat komunikasi semakin cepat, sebagian pengguna justru mulai mencari pengalaman yang sebaliknya. Yang cukup menarik disimak adalah peralihan tren aplikasi chat Gen Z.
Fenomena slow messaging atau komunikasi lambat mulai menarik perhatian, terutama di kalangan pengguna muda. Alih-alih pesan langsung sampai dalam hitungan detik, pesan dikirim dengan mekanisme yang sengaja dibuat lebih lambat.
Fenomena tren aplikasi chat Gen Z ini bahkan menghadirkan cara komunikasi yang terdengar seperti kembali ke masa lalu: mengirim pesan menggunakan konsep perjalanan seekor merpati.
CNBC Indonesia melaporkan, aplikasi seperti Carrier Pidge dan Roost menjadi bagian dari tren baru tersebut. Penggunanya tidak sekadar mengejar kecepatan komunikasi, tetapi justru menikmati proses menunggu pesan sampai kepada penerima.
Bukan Sekadar Meninggalkan WhatsApp dan Telegram
Istilah “Gen Z mulai meninggalkan WhatsApp dan Telegram” memang terdengar cukup ekstrem. Namun, fenomena yang terjadi sebenarnya lebih kompleks.
Tidak ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh Gen Z telah meninggalkan aplikasi pesan instan. Yang terlihat adalah munculnya minat terhadap alternatif komunikasi yang memberikan pengalaman berbeda dari pola chat cepat selama ini.
Aplikasi Carrier Pidge, misalnya, menggunakan konsep merpati pembawa pesan. Kecepatan pengiriman pesan mengikuti konsep perjalanan burung tersebut sehingga penerima tidak langsung mendapatkan pesan setelah dikirim.
Sementara Roost menawarkan pilihan berbagai hewan sebagai “kurir” pesan. Kecepatan pengiriman kemudian menyesuaikan dengan karakteristik hewan yang dipilih.
Laporan Asiae yang mengutip The New York Times menyebut Carrier Pidge mengalami pertumbuhan pengguna hingga lebih dari 75.000 setelah popularitasnya meningkat pada Agustus 2026. Roost bahkan dilaporkan mencatat lebih dari 650.000 unduhan pada bulan yang sama.
Saat Komunikasi Cepat Justru Bikin Lelah
Munculnya tren slow messaging tidak bisa dilepaskan dari perubahan cara manusia berinteraksi dengan teknologi.
Selama bertahun-tahun, aplikasi pesan instan membangun ekspektasi bahwa pesan harus diterima dan dibalas secepat mungkin. Notifikasi terus masuk, tanda pesan telah dibaca muncul, sementara lawan bicara bisa mengetahui kapan seseorang sedang online.
Dalam kondisi seperti itu, komunikasi yang lambat justru bisa menjadi sesuatu yang menarik.
Pengguna tidak lagi dipaksa menunggu balasan dalam hitungan detik. Tidak ada tuntutan untuk selalu merespons dengan segera. Proses menunggu justru menjadi bagian dari pengalaman.
Konsep tersebut sejalan dengan munculnya gagasan slow tech, yakni penggunaan teknologi dengan ritme yang lebih sadar dan tidak selalu mengejar kecepatan.
Merpati Digital Bukan Berarti Teknologi Mundur
Meski menggunakan konsep merpati, teknologi di balik aplikasi tersebut tentu tetap digital.
Pesan tetap dikirim melalui perangkat dan internet. Yang diubah adalah pengalaman penggunanya.
Dalam Carrier Pidge, misalnya, pengguna bahkan dapat melihat perjalanan “merpati” menuju lokasi penerima. Konsep ini membuat proses pengiriman pesan terasa seperti sebuah perjalanan, bukan sekadar menekan tombol kirim lalu dalam sekejap pesan muncul di layar orang lain.
Ada pula unsur ketidakpastian yang sengaja dimasukkan. Dalam laporan Asiae, pesan pada Carrier Pidge disebut memiliki kemungkinan kecil tidak sampai karena “merpati” bisa dianggap hilang atau mati dalam perjalanan.
Hal semacam ini tentu terdengar aneh jika dibandingkan dengan standar aplikasi pesan instan modern.
Namun, justru keanehan tersebut yang menjadi daya tarik.
Apakah WhatsApp Benar-Benar Akan Ditinggalkan?
Untuk saat ini, terlalu dini menyebut fenomena tersebut sebagai ancaman serius terhadap WhatsApp atau Telegram.
Aplikasi pesan instan tetap menawarkan fungsi yang sulit digantikan oleh aplikasi slow messaging, mulai dari komunikasi keluarga, pekerjaan, komunitas, panggilan suara hingga berbagi dokumen.
Karena itu, fenomena ini lebih tepat dibaca sebagai perubahan preferensi sebagian pengguna daripada migrasi massal.
Gen Z yang tumbuh bersama internet justru bisa jadi sedang mencari pengalaman digital yang berbeda.
Ketika semua orang terbiasa dengan pesan instan, notifikasi real-time dan komunikasi tanpa jeda, sesuatu yang lambat malah terasa unik.
Pada akhirnya, tren ini menunjukkan satu hal: teknologi tidak selalu harus membuat manusia bergerak semakin cepat.
Kadang-kadang, justru menunggu pesan datang seperti merpati terbang menjadi pengalaman yang dicari. (HS)







