lintaspriangan.com, BERITA DUNIA. Iran serang Kuwait pada Sabtu, 18 Juli 2026, dengan rentetan rudal dan pesawat nirawak yang tidak hanya mengarah ke fasilitas militer Amerika Serikat. Serangan juga menghantam pembangkit listrik dan instalasi desalinasi air—urat nadi yang menyediakan listrik sekaligus air minum bagi penduduk negara gurun tersebut. Kebakaran terjadi, sejumlah unit pembangkit terganggu, sedangkan pertahanan udara Kuwait diaktifkan untuk menghadapi serangan berikutnya.
Situasi menjadi semakin genting ketika operasional Bandara Internasional Kuwait disetop akibat ancaman rudal dan drone yang berulang. Serangan terbaru itu terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan serangan malam ketujuh terhadap Iran. Gencatan senjata yang baru sepekan runtuh kini berubah menjadi pertarungan terbuka yang menjalar ke negara-negara Teluk. Bukan hanya pangkalan militer yang berada dalam bahaya. Air, listrik, penerbangan, hingga pasokan minyak dunia ikut berada di garis tembak.
Iran Serang Kuwait, Fasilitas Air dan Listrik Menjadi Sasaran
Kementerian Listrik, Air, dan Energi Terbarukan Kuwait menyatakan sebuah fasilitas pembangkit listrik dan desalinasi air terkena serangan Iran pada Sabtu, 18 Juli 2026. Insiden tersebut memicu kebakaran dan mengganggu pengoperasian sejumlah unit pembangkit.
Serangan itu menjadi yang kedua terhadap fasilitas desalinasi Kuwait dalam dua hari. Fakta tersebut membuat ancamannya jauh lebih serius daripada kerusakan fisik biasa. Kuwait sangat bergantung pada pengolahan air laut karena hampir tidak memiliki sumber air tawar alami yang memadai.
Associated Press melaporkan lebih dari 90 persen kebutuhan air minum Kuwait dipenuhi melalui desalinasi. Artinya, serangan terhadap instalasi tersebut langsung menyentuh kebutuhan paling dasar jutaan penduduk: air untuk minum, memasak, rumah sakit, dan kehidupan sehari-hari.
Otoritas Kuwait juga menyatakan pertahanan udaranya menghadapi rudal dan drone Iran. Operasional Bandara Internasional Kuwait kemudian ditangguhkan karena ancaman yang terus berulang. Rentetan serangan itu menempatkan jaringan listrik, pasokan air, dan akses penerbangan dalam tekanan secara bersamaan.
Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC mengklaim telah menyerang pusat dukungan militer Amerika Serikat di Camp Arifjan serta menghancurkan fasilitas radar di Pangkalan Udara Ali Al Salem. Iran juga mengumumkan serangan terhadap pangkalan Amerika di Bahrain dan Yordania. Namun, Reuters menegaskan belum dapat memverifikasi secara independen klaim kerusakan yang disampaikan Iran tersebut.
Serangan balasan Iran berlangsung setelah Komando Pusat Amerika Serikat menyelesaikan malam ketujuh operasi militernya. Washington menyatakan sasaran serangannya meliputi fasilitas pengawasan, infrastruktur logistik militer, gudang senjata bawah tanah, dan kemampuan maritim Iran.
Ancaman Meluas ke Selat Hormuz dan Harga Minyak Dunia
Iran serang Kuwait bukan lagi persoalan bilateral antara dua negara. Kuwait merupakan sekutu Washington dan menjadi lokasi sejumlah fasilitas militer Amerika. Ketika Iran menyerang wilayah tersebut, risiko keterlibatan negara-negara lain dalam perang menjadi semakin besar.
Pada hari yang sama, Iran juga dilaporkan kembali menyerang Bahrain dan Yordania. Serangan bahkan untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan kembali mengarah ke Arab Saudi. Kondisi ini memperlihatkan konflik Amerika Serikat-Iran telah melebar secara geografis ke berbagai negara Teluk.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres menyampaikan kekhawatiran terhadap eskalasi konflik, terutama serangan terhadap infrastruktur sipil di Iran dan kawasan sekitarnya. Kekhawatiran tersebut tidak berlebihan. Ketika pembangkit listrik, jembatan, bandara, dan fasilitas air menjadi sasaran, dampak perang tidak lagi berhenti di pangkalan militer.
Ancaman lain muncul di Selat Hormuz, jalur sempit yang selama kondisi normal dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Data pelayaran yang dikutip Reuters menunjukkan hanya tiga kapal komoditas yang melintasi selat tersebut pada Kamis, jumlah harian terendah sejak Mei. Banyak kapal memilih berhenti atau berbalik arah karena serangan serta ketidakpastian keamanan.
Harga minyak kemudian melonjak lebih dari 4 persen pada Jumat dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari sebulan. Gangguan yang berkepanjangan dapat menaikkan biaya energi, pengangkutan, produksi, dan harga barang di berbagai negara.
Bagi Indonesia, perang yang terasa jauh itu dapat datang tanpa suara rudal. Ia bisa tiba melalui harga minyak, biaya logistik, tiket penerbangan, pupuk, dan barang impor yang menjadi lebih mahal. Karena itu, Iran serang Kuwait pada 18 Juli 2026 bukan sekadar kabar konflik dari Timur Tengah. Serangan tersebut merupakan alarm baru bagi keamanan energi dan ekonomi dunia. ( SS/AS )
