Wartawan Asal Ciamis Ini Dibuang ke Pengasingan Gara-Gara Tulisannya

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Pada dekade 1920-an, di Medan yang tengah tumbuh sebagai kota perdagangan kolonial, lahirlah sebuah surat kabar lokal bernama Matahari Indonesia. Bukan koran besar, bukan pula milik konglomerat Hindia. Tapi isinya mengusik. Tulisannya tajam, bahasanya lugas, dan keberaniannya melampaui zamannya. Di balik lembar-lembar kertas itulah nama Iwa Kusuma Sumantri, pemuda kelahiran Ciamis, mencuri perhatian sekaligus menimbulkan kemarahan di kalangan penguasa Belanda.

Sebelum menjadi wartawan, Iwa adalah sarjana hukum muda yang baru lulus dari Rechtsschool di Batavia. Ia sempat bekerja di Pengadilan Bandung dan Surabaya. Tapi jabatan di kantor kolonial tidak membuatnya bangga. Ia justru gelisah, merasa hidupnya terlalu dekat dengan sistem yang sedang menindas bangsanya sendiri. Dalam usia dua puluhan, ia mengambil keputusan yang tidak populer: meninggalkan karier aman di bawah bayang-bayang Belanda.

Kota Medan menjadi pelabuhan barunya, dan di kota pelabuhan itu pula pena menjadi senjatanya. Di bawah tangannya, Matahari Indonesia terbit dan segera dikenal luas di kalangan pergerakan. Koran itu bukan sekadar berita, melainkan semacam peluru kecil yang ditembakkan ke markas kolonial. Melalui editorial dan opini yang ia tulis sendiri, Iwa menguliti kebijakan penjajah, dari soal upah buruh, perampasan tanah, hingga praktik diskriminasi dalam sistem hukum.

Ia menulis bukan untuk mencari sensasi, melainkan untuk menggugah. Di setiap kalimatnya terasa keyakinan bahwa kata-kata bisa menyalakan api kesadaran. Tak heran bila tulisannya membuat resah para pejabat kolonial. Dalam suasana politik yang penuh kecurigaan, wartawan seperti Iwa dianggap berbahaya, bahkan lebih berbahaya dari pejuang bersenjata, karena pikirannya menembus batas tembok dan barak.

Iwa tidak sendiri. Ia membuka halaman Matahari Indonesia untuk kawan-kawan seperjuangan di Medan—para aktivis muda, guru, dan buruh yang punya kegelisahan serupa. Dari meja redaksi kecilnya, suara rakyat Sumatera Utara mulai terdengar. Ia juga aktif dalam berbagai organisasi, memimpin Persatuan Motoris Indonesia dan menjadi penasihat Indonesisch National Padvinders Organisatie (INPO). Semua aktivitas itu membuat namanya semakin dikenal, sekaligus semakin diawasi.

Pada Juli 1929, pemerintah Hindia Belanda kehilangan kesabaran. Iwa ditangkap dengan tuduhan menyebarkan tulisan yang mengancam ketertiban umum. Setahun kemudian, ia dibuang ke Banda Neira, tempat pengasingan yang juga menampung tokoh-tokoh seperti Dr. Cipto Mangunkusumo, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir.

Ironisnya, di tempat pembuangan itu justru terbentuk “universitas perjuangan” yang tidak ada tandingannya. Di bawah langit Maluku yang sunyi, mereka berdiskusi, menulis, dan merancang masa depan Indonesia merdeka. Iwa tidak lagi menulis di koran, tapi terus mengasah pikirannya lewat buku dan surat-surat panjang yang mencerminkan pandangan hidupnya, bahwa kemerdekaan tidak akan lahir dari kompromi, melainkan dari keberanian menolak tunduk.

Sepuluh tahun lebih ia habiskan di pengasingan. Saat kembali ke tanah air menjelang pendudukan Jepang, semangatnya tidak berubah. Ia terlibat dalam lingkaran tokoh nasionalis di Jakarta, membantu Achmad Subarjo di kantor riset Kaigun, dan setelah proklamasi kemerdekaan, ditunjuk menjadi Menteri Sosial pertama Republik Indonesia. Kelak, ia juga menjabat Menteri Pertahanan dan Rektor Universitas Padjadjaran, serta menulis sembilan buku penting tentang hukum dan politik.

Namun, di antara semua gelar dan jabatan itu, jejaknya sebagai wartawan mungkin yang paling mencerminkan dirinya: teguh, jujur, dan tidak bisa dibungkam. Matahari Indonesia memang telah lama padam, tapi semangat di baliknya tetap menyala dalam sejarah pers Indonesia.

Iwa Kusuma Sumantri meninggal dunia pada 27 November 1971 di Jakarta. Tiga dekade kemudian, pada tahun 2002, pemerintah Republik Indonesia menobatkannya sebagai Pahlawan Nasional.

Bagi warga Kabupaten Ciamis, kisah Iwa adalah cermin yang memantulkan keberanian dari akar budaya Sunda: ludeung, leber wawanen. Ia membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan di medan perang, kadang cukup dengan pena, dengan keyakinan, dan dengan keberanian untuk menulis kebenaran, meski harus berakhir di pengasingan. (GPS)

JEJAK HEROIK JABAR

Membuka Jejak Pejuang Tionghoa di Cirebon

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ada satu kalimat pendek dalam arsip...

Taktik Buaya Mangap Pejuang Cirebon Bikin Belanda Kocar-kacir

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jembatan-jembatan menuju Bantarjati tampak seperti sedang...

Selama 5 Bulan, Markas Belanda Digempur Pejuang Cikatomas

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ketika malam turun di wilayah selatan...

Pesantren Langkaplancar yang Berubah Menjadi Markas Laskar

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jauh dari pantai yang kini menjadi...

Dari Perlindungan 1947 hingga Harmony Award 2025

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Bensin telah diletakkan di dekat rumah-rumah warga...

PRIANGAN TIMUR

Lowongan Kerja Tasikmalaya: Empat Posisi Tutup Pendaftaran 14 September

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Empat posisi lowongan kerja Tasikmalaya yang tercantum...

Benda Diduga Bom Tasikmalaya: Polisi Periksa Dua Pria, Asal-usul Masih Didalami

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Polisi masih mendalami asal-usul benda diduga bom...

Sayembara Jaipong Ciamis Masuki Hari Terakhir, 300 Penari Priangan Timur Tampil

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Sayembara Jaipong Ciamis bertajuk Ceta Ngajomantara memasuki...

Turbo Disebut Opsional, Ratusan Driver Maxim Tasikmalaya Tetap Minta Dihapus

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Ratusan pengemudi ojek online (ojol) Maxim...

KPK Geledah Rumah Guru SMA di Tasikmalaya, Diduga Jadi Pengepul Maba Unsoed

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Penggeledahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di...

JAWA BARAT

Festival Tari Tradisional Jawa Barat Dijadwalkan Berlangsung 9 Jam Hari Ini

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Festival Tari Tradisional Jawa Barat dijadwalkan...

Jambore Relawan Kebencanaan 2026 Dijadwalkan Dibuka di Cimenyan Pagi Ini

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Jambore Relawan Kebencanaan 2026 dijadwalkan dibuka di...

KPK Geledah Rumah Anggota Polri, Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus Suap Bupati Bekasi

lintaspriangan.com, BERITA BEKASI. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperluas penyidikan...

GIIAS Education Day di Bandung Masuki Hari Kedua, Pelajar Diajak Kenali Industri Otomotif

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. GIIAS Education Day memasuki hari kedua di...

PPAN Jawa Barat 2026 Dijadwalkan Umumkan Peserta Lolos Tahap Provinsi Hari Ini

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT.  Peserta PPAN Jawa Barat 2026 dijadwalkan...

1,96 Ton Beras Bantuan Pangan Cirebon Malah Menumpuk di Rumah Warga, Bantuan buat Siapa?

lintaspriangan.com, BERITA CIREBON. Beras bantuan pangan yang seharusnya berada...

Drama Sunda Palagan Bubat Tampil Lima Sesi di Bandung Hari Ini

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Drama Sunda Palagan Bubat dijadwalkan tampil dalam lima...

Sukabumi Expo 2026 Mulai 10 September, Job Fair Jadi Salah Satu Agenda

lintaspriangan.com, BERITA SUKABUMI. Sukabumi Expo 2026 dijadwalkan mulai berlangsung di Kabupaten...

Olahraga

Popular Categories