lintaspriangan.com, TAJUK LINTAS. Ada yang unik dari pariwisata Ciamis. Saking uniknya, sepertinya layak jadi kajian serius badan riset atau para mahasiswa yang sedang butuh topik penelitian tentang Kabupaten Ciamis.
Berdasarkan LKIP Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis 2025, target kunjungan wisatawan tahun 2025 dipatok sebanyak 1.498.925 kunjungan. Hebatnya, realisasinya ternyata melesat hingga 2.033.445 kunjungan atau mencapai 135,66 persen dari target.
Artinya, ada tambahan sekitar 534 ribu kunjungan wisatawan di atas target yang ditetapkan pemerintah daerah.
Secara teori, ini seharusnya menjadi kabar sangat baik. Wisatawan meningkat drastis biasanya identik dengan hotel yang penuh, warung yang ramai, UMKM yang hidup, parikir ramai, dan tentu saja PAD yang ikut terdongkrak.
Tetapi di sinilah letak keunikannya.
Masih dari dokumen yang sama, target PAD sektor pariwisata tahun 2025 sebesar Rp980.836.000. Realisasinya mencapai Rp985.690.000 atau hanya naik sekitar Rp4,8 juta dari target. Persentase capaiannya memang 100,49 persen, tetapi kenaikannya hanya 0,49 persen.
Jadi begini:
kunjungan wisatawan naik 35,66 persen,
tetapi PAD hanya nambah 0,49 persen.
Kalau kita konversi agar lebih mudah difahami, tambahan sekitar 534.520 kunjungan wisatawan itu hanya menghasilkan tambahan PAD sekitar Rp4,8 juta. Secara rata-rata, satu tambahan kunjungan wisatawan hanya “bernilai” sekitar Rp9 bagi PAD daerah.
Rp9. (dalam angka kita tulis “sembilan rupiah”)
Angka tersebut setara dengan 0,9% dari tarif parkir motor yang hanya Rp. 1000.
Pertanyaannya sederhana:
ke mana larinya dampak ekonomi dari ledakan kunjungan wisatawan itu? Kenapa tidak mendongkrak PAD secara signifikan? Atau… ada kebocoran?
Kenaikan wisatawan tentu yang diharapkan banayk pihak. Terlebih, anggaran yang digelontorkan untuk sektor pariwisata oleh Pemkab Ciamis pun faktanya tak bisa disebut kecil. Dalam LKIP disebutkan total anggaran Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis tahun 2025 mencapai Rp17.126.446.993 dengan realisasi Rp16.176.410.767 atau serapan 94,45 persen.
Sebagian besar anggaran itu digunakan untuk pengembangan destinasi wisata sekitar Rp9,8 miliar. Ada juga anggaran pemasaran pariwisata sekitar Rp460 juta, ditambah program penunjang lain, pengembangan SDM, hingga ekonomi kreatif.
Jadi kalau dirangkum:
anggaran besar ada,
program ada,
event ada,
maka pantas kalau wisatawannya melonjak.
Yang belum terlihat jelas hanya satu:
mengapa PAD-nya tetap seret?
Lalu, ada data menarik lainnya, masih tentang Pariwisata Ciamis. Kali ini, sumbernya dari BPS. Pada Februari 2026, tingkat penghunian kamar hotel di Kabupaten Ciamis hanya berada di angka 23,15 persen, ini mengalami penurunan di banding Februari tahun sebelumnya.
Rata-rata lama menginap tamu hotel juga hanya sekitar 1,055 malam dan ikut turun dibanding periode sebelumnya.
Dan sekarang muncul pertanyaan yang jauh lebih menarik. Data BPS Februari 2026 menunjukkan perjalanan wisatawan nusantara ke Kabupaten Ciamis turun 17,17 persen dibanding Januari 2026.
Kalau pada saat kunjungan wisatawan melonjak lebih dari 35 persen saja PAD hanya naik 0,49 persen, lalu apa yang akan terjadi ketika jumlah wisatawan mulai turun?
Apakah PAD bisa tetap “stabil” seperti pada saat terjadi kenaikan wisatawan?
Atau justru nanti PAD ikut turun drastis?
Jawabannya: wallohu’alam. Kita tunggu data resmi Pariwisata Kabupaten Ciamis selanjutnya.
Mungkin inilah keunikan pariwisata Ciamis: ramai di statistik kunjungan, tetapi belum tentu ramai di kas daerah. (AS)
