lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Sebuah laporan warga di Desa Pamarican, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, justru berujung pada aksi sosial yang tak terduga.
Bukan hanya pembinaan terhadap warga yang dilaporkan, pemerintah desa bersama masyarakat malah bergerak melakukan bedah rumah secara mendadak setelah melihat kondisi tempat tinggal pasangan lanjut usia yang ternyata sangat memprihatinkan.
Pasangan tersebut adalah Herdis (74) dan istrinya, Iah (67), warga Dusun Pamarican RT 06/RW 02, Desa Pamarican.
Rumah yang mereka tempati diketahui berdinding bilik bambu yang sudah lapuk. Sementara lantainya masih berupa tanah sehingga kondisinya dinilai jauh dari kata layak.
Awalnya Dilaporkan Rusak Umbul-umbul
Kepala Desa Pamarican Endang Rahman, atau yang akrab disapa Bayo, mengatakan dirinya awalnya mendatangi rumah Herdis bukan untuk melakukan bedah rumah.
Ia datang setelah menerima laporan warga mengenai dugaan perusakan umbul-umbul atau ornamen hiasan kemerdekaan.
“Saya memang datang untuk memberikan pembinaan. Namun, alangkah terkejutnya ketika saya datang ke rumahnya dan melihat kondisi rumah serta pemiliknya yang sudah lanjut usia,” ujar Bayo.
Menurut Bayo, kondisi rumah tersebut membuat persoalan awal mengenai umbul-umbul tidak lagi menjadi satu-satunya perhatian.
Ia kemudian memilih mencari solusi agar pasangan lansia tersebut bisa memiliki tempat tinggal yang lebih layak.
Pada malam harinya, Bayo mengumpulkan sejumlah tokoh masyarakat untuk membahas langkah yang dapat dilakukan secara cepat.
Hasil pembahasan tersebut kemudian melahirkan keputusan untuk membongkar dan memperbaiki rumah Herdis secara gotong royong.
“Semalam saya langsung mengumpulkan tokoh masyarakat dan menginstruksikan agar hari ini rumah Pak Herdis harus dibongkar dan diperbaiki,” katanya.
Bedah Rumah Jadi Kado Kemerdekaan
Bayo mengatakan, aksi tersebut dilakukan bertepatan dengan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Menurutnya, semangat kemerdekaan seharusnya tidak hanya diwujudkan melalui upacara maupun berbagai kegiatan perayaan.
Kemerdekaan juga harus bisa dirasakan masyarakat melalui kepedulian dan kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak.
“Kebetulan saat ini merupakan momen penting HUT RI ke-81. Kegiatan ini juga sebagai bentuk memerdekakan warga dari kesulitan serta memberikan hunian yang layak untuk ditempati,” ujarnya.
Pemerintah desa menargetkan proses renovasi dapat diselesaikan dalam waktu satu hari.
Warga sekitar pun ikut turun tangan melakukan gotong royong untuk mempercepat proses perbaikan.
“Target kami satu hari ini selesai. Alhamdulillah, warga lingkungan sangat kompak melakukan gotong royong,” kata Bayo.
UPZ Keluarkan Rp5 Juta
Dukungan pembiayaan datang dari Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Desa Pamarican.
Ketua UPZ Desa Pamarican H. Oan mengatakan, pihaknya mengalokasikan dana sebesar Rp5 juta untuk mendukung renovasi rumah tersebut.
“Semalam Pak Kades memanggil dan merumuskan kegiatan ini. Alhamdulillah, sesuai dengan aturan, UPZ bisa mengeluarkan anggaran sebesar Rp5 juta,” ujar Oan.
Menurut Oan, UPZ Desa Pamarican memang tengah menjalankan program bedah rumah tidak layak huni (rutilahu).
Program tersebut bersumber dari dana infak masyarakat serta dukungan melalui skema berbagi dengan BAZNAS Kabupaten Ciamis.
Dalam satu tahun, UPZ Desa Pamarican menargetkan sedikitnya tiga rumah warga kurang mampu dapat dibantu melalui program tersebut.
Celengan Infak Dongkrak Dana hingga Rp9 Juta per Bulan
UPZ Desa Pamarican juga memiliki cara tersendiri untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berinfak.
Salah satunya dengan membagikan celengan infak kepada setiap kepala keluarga.
Program tersebut disebut memberikan dampak terhadap peningkatan jumlah dana infak yang terkumpul.
Sebelum program celengan diterapkan, Oan menyebut dana infak yang terkumpul setiap bulan berada di kisaran Rp1,5 juta.
Namun setelah celengan dibagikan kepada setiap kepala keluarga, perolehan infak meningkat menjadi sekitar Rp8 juta hingga Rp9 juta per bulan.
“Awalnya infak yang terkumpul per bulan hanya berkisar Rp1,5 juta karena hanya mengandalkan kegiatan pengajian atau muslimatan. Namun, sekarang kami membagikan celengan ke setiap KK. Alhamdulillah, uang infak yang terkumpul bisa mencapai Rp8 juta hingga Rp9 juta per bulan,” jelasnya.
Meningkatnya dana tersebut membuat UPZ memiliki ruang lebih besar untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, termasuk melalui program bedah rumah.
Oan berharap kesadaran masyarakat untuk berinfak terus tumbuh sehingga semakin banyak warga kurang mampu yang dapat merasakan manfaatnya.
“Mudah-mudahan ke depannya infak dari masyarakat semakin bertambah, sehingga kami bisa lebih banyak lagi membantu warga miskin,” pungkasnya.
Aksi bedah rumah di Pamarican tersebut akhirnya menjadi cerita berbeda menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Berawal dari laporan mengenai umbul-umbul, perhatian justru berujung pada kondisi kehidupan pasangan lansia yang membutuhkan bantuan.
Semangat gotong royong pemerintah desa, UPZ dan masyarakat pun membuat rumah yang sebelumnya berdinding bilik lapuk dan berlantai tanah mulai mendapatkan harapan baru.
Bagi Herdis dan Iah, aksi tersebut bukan sekadar renovasi rumah, tetapi juga menjadi kado kemerdekaan berupa kesempatan untuk tinggal di hunian yang lebih layak. (HS)







