Di Tengah Kecamuk Perang, Payung Geulis Tetap Dilukis

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Pada 28 Juni 1948, beberapa perajin di Tasikmalaya menundukkan kepala di hadapan payung-payung yang terbuka. Tangan mereka menggerakkan kuas, menyusun garis dan motif hias pada permukaan payung dengan ketelitian yang tak boleh tergesa.

Perang belum usai. Kota masih berada dalam cengkeraman pendudukan Belanda. Pasukan Siliwangi telah berhijrah meninggalkan Jawa Barat akibat Perjanjian Renville. Keamanan tak menentu, kehidupan ekonomi tertekan, dan hari depan Republik berselimut kecemasan.

Namun, di sebuah sudut Tasikmalaya, Payung Geulis tetap dilukis.

Adegan itu tersimpan dalam koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia. Keterangan pada foto berkode ANRI, RVD 80628 FU 4 berbunyi ringkas: pekerja sedang membuat motif hias pada Payung Geulis di Tasikmalaya, Jawa Barat, 28 Juni 1948.

Tak ada uraian panjang mengenai nama para pekerja, tempat persis pengambilan gambar, atau percakapan yang berlangsung di antara mereka. Hanya satu bingkai hitam-putih. Akan tetapi, justru dari kesenyapan itulah sebuah kisah besar mencuat: perang ternyata tidak sanggup menghentikan seluruh denyut kehidupan.

jejak heroik jabar - banner kesbangpol

Kota yang Belum Sembuh

Sepuluh bulan sebelum foto itu diambil, Tasikmalaya dihantam Agresi Militer Belanda I. Pangkalan Udara Cibeureum, stasiun kereta api, pabrik senjata, kantor radio, percetakan, dan Markas Divisi Siliwangi menjadi sasaran serangan.

Pasukan Belanda kemudian menerobos dari arah Ciamis. Pertahanan di Karangresik dilanda pertempuran sengit. Jembatan dihancurkan untuk menghambat laju konvoi musuh, tetapi serangan udara akhirnya membuka jalan menuju pusat Tasikmalaya.

Pada Agustus 1947, kota itu diduduki.

Pendudukan mengubah wajah keseharian. Kekuasaan berganti, pergerakan diawasi, dan perekonomian rakyat berjalan dalam keadaan serba sulit. Tasikmalaya yang sebelumnya menjadi salah satu pusat pemerintahan dan pertahanan Republik di Jawa Barat kini berada di bawah kendali Belanda.

Keadaan semakin pelik setelah Perjanjian Renville ditandatangani pada 17 Januari 1948. Kesepakatan itu mengharuskan pasukan Republik meninggalkan kantong-kantong pertahanan di wilayah yang dikuasai Belanda.

Divisi Siliwangi harus berhijrah dari Jawa Barat menuju wilayah Republik di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Bagi rakyat Tasikmalaya, keberangkatan pasukan itu bukan pemandangan biasa. Para prajurit yang selama ini menjadi benteng pertahanan pergi membawa senjata, sementara warga tetap tinggal dalam wilayah pendudukan.

Ketika foto para perajin Payung Geulis diambil pada akhir Juni 1948, luka perang masih menganga. Republik baru berumur kurang dari tiga tahun, tetapi kemerdekaannya telah berkali-kali digempur.

Anehnya, di tengah kemelut itu, motif-motif indah tetap lahir.

Para perajin masih menyusun rangka bambu, memasang tudung payung, lalu menghias permukaannya. Pekerjaan tersebut menuntut kesabaran. Satu garis yang melenceng dapat merusak keselarasan pola. Tangan harus tetap tenang meskipun kehidupan di luar ruang kerja dipenuhi kegentingan.

Mereka mungkin tidak sedang memanggul senapan. Tidak pula berdiri di garis depan. Namun, mereka mempertahankan sesuatu yang juga berharga: kecakapan, nafkah, dan kebudayaan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

jejak heroik jabar - banner kemenhaj

Keindahan yang Menolak Padam

Payung Geulis dibuat dengan tangan. Rangkanya berasal dari bambu, sedangkan bagian peneduhnya menggunakan kertas atau kain. Permukaannya kemudian diberi warna dan dihiasi motif flora, fauna, maupun pola geometris.

Kata geulis dalam bahasa Sunda berarti cantik. Sebutan itu selaras dengan rupa payung yang bukan hanya berfungsi sebagai pelindung, tetapi juga menjadi karya seni.

Foto bertanggal 28 Juni 1948 membuktikan bahwa kerajinan tersebut telah hidup di Tasikmalaya pada masa revolusi. Ia bukan ciptaan yang baru muncul setelah keadaan tenteram. Payung itu telah dirangkai dan dihias ketika nasib bangsa masih berada di tubir ketidakpastian.

Tentu saja, arsip tidak mencatat bahwa para perajin sengaja melukis sebagai bentuk perlawanan politik. Kita tidak perlu memaksakan tafsir sejauh itu. Mereka barangkali bekerja karena keluarga harus makan, pesanan harus diselesaikan, dan kehidupan mesti dilanjutkan.

Namun, kegigihan untuk tetap bekerja dalam keadaan genting memiliki kemuliaannya sendiri.

Perang selalu membawa naluri untuk merusak. Jembatan diputus, bangunan dibombardir, jalan dikuasai, dan manusia dipaksa meninggalkan rumah. Sementara itu, para perajin bergerak ke arah sebaliknya. Mereka merangkai, merekatkan, mewarnai, dan memperindah.

Di luar sana, orang-orang berebut wilayah. Di hadapan para perajin itu, sebidang kertas atau kain justru diubah menjadi taman kecil yang menaungi kepala manusia.

jejak heroik jabar - banner kominfo

Barangkali itulah wajah perjuangan rakyat yang kerap terlewat dari buku sejarah. Sebuah bangsa tidak hanya dipertahankan oleh mereka yang bertempur. Bangsa juga diselamatkan oleh petani yang tetap menanam, pedagang yang membuka pintu, ibu yang mengasuh anak, guru yang mengajar, serta perajin yang menolak membiarkan keahliannya musnah.

Tanpa mereka, kemerdekaan mungkin berhasil direbut, tetapi pulang kepada kehidupan yang telah kehilangan watak dan kebudayaannya.

Payung Geulis yang tetap dilukis pada 1948 menyampaikan pesan semacam itu. Para perajinnya menjaga agar perang tidak merampas seluruh keindahan dari Tasikmalaya. Mereka mempertahankan satu ruang kecil tempat kesabaran, kecermatan, dan daya cipta masih memiliki arti.

Puluhan tahun kemudian, Payung Geulis menjelma menjadi ikon Tasikmalaya. Bentuknya hadir pada tugu, pertunjukan budaya, cendera mata, dan berbagai penanda kota. Orang mengenalnya sebagai salah satu pusaka kriya paling elok dari Tatar Sunda.

Namun, sebelum menjadi ikon, ia pernah melewati masa yang jauh lebih muram.

Ia pernah dibentangkan ketika Tasikmalaya berada dalam pendudukan. Ia pernah disentuh oleh tangan-tangan yang bekerja di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian keamanan. Ia pernah dilukis ketika suara perang belum sepenuhnya lindap dari tanah Priangan.

Foto itu akhirnya tidak hanya menyimpan riwayat sebuah kerajinan. Ia merekam keteguhan rakyat menjaga kewarasan di tengah angkara.

Pada 28 Juni 1948, para perajin Tasikmalaya mungkin hanya bermaksud menyelesaikan pekerjaan. Mereka tidak tahu bahwa puluhan tahun kemudian, gerak tangan mereka akan terbaca sebagai tengara daya hidup sebuah kota.

Perang berusaha membuat segalanya kelam. Tasikmalaya menjawabnya dengan bunga-bunga pada Payung Geulis.

“Jangan biarkan kisah para pejuang ini terkubur untuk kedua kalinya—bukan oleh tanah, melainkan oleh lupa. Bagikan kepada anak-anak, keluarga, sahabat, dan generasi muda, agar mereka mengerti bahwa Merah Putih tidak berkibar sekadar karena angin, tetapi karena darah, air mata, dan nyawa yang dikorbankan. Sekali Anda membagikan kisah ini, Anda ikut menjaga api perjuangan tetap menyala dari generasi ke generasi.”

lintaspriangan.com
Batu Karas Surf Festival

Batu Karas Surf Festival: Berselancar di Atas Gelombang 2,9 Meter Pangandaran

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Batu Karas Surf Festival memasuki hari kedua di Pantai Batu Karas, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jumat, 7 Agustus 2026. Para peselancar beradu...

JEJAK HEROIK JABAR

Karangresik, Gerbang Tasik yang Dihancurkan demi Republik

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Pada pagi 21 Juli 1947, deru...

Sasak Kapuk: Saksi Keberanian Pemuda Bekasi

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR.  Jembatan kayu Sasak Kapuk mulanya hanyalah...

Ketika Para Kiai Bekasi Bertaruh Nyawa untuk Negeri

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Di Cibarusah, beberapa bulan sebelum Proklamasi...

Andalan Pejuang Cimahi: 7 Pucuk Senjata dari Dalam Sumur

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Tujuh pucuk senjata itu tidak datang dari...

Jejak Heroik Jabar Tembus 36 Ribu Pembaca dalam Tiga Hari

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Rubrik khusus Jejak Heroik Jabar yang diluncurkan...

PRIANGAN TIMUR

Batu Karas Surf Festival: Berselancar di Atas Gelombang 2,9 Meter Pangandaran

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Batu Karas Surf Festival memasuki hari kedua...

Lahan Kritis Priangan Timur, Dipulihkan atau Sekadar Ditanami?

lintaspriangan.com, BERITA PRIANGAN. Setiap musim penghujan, bibit-bibit kembali dibawa ke...

Sekolah Garut Masuk Pukul 06.30, Disiplin atau Defisit Tidur?

lintaspriangan.com, BERITA GARUT. Mulai tahun ajaran 2026/2027, sekolah Garut di...

Persiapan PSGC Ciamis Jelang Liga 2 2026/2027, Rumor Ezechiel Menguat

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS – Persiapan PSGC Ciamis menghadapi Liga...

77 Tahun NII Tasikmalaya, Apa yang Tersisa?

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pada 7 Agustus 1949, Kampung Cisampang di...

JAWA BARAT

Ekonomi Jabar Tumbuh 5,73 Persen, Siapa Menikmati?

lintaspriangan.com, BERITA JABAR. Ekonomi Jabar tumbuh 5,73 persen pada triwulan...

Batu Karas Surf Festival: Berselancar di Atas Gelombang 2,9 Meter Pangandaran

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Batu Karas Surf Festival memasuki hari kedua...

Kali Cileungsi Tercemar, Dampaknya Mengalir hingga Bekasi

lintaspriangan.com, BERITA BEKASI. Kali Cileungsi tercemar. Hasil pengujian laboratorium menemukan sejumlah...

Terungkap! Vendor Proyek SixNine Padel Tebang 10 Pohon Demi Videotron

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG – Fakta baru terungkap dalam kasus...

Jelang Reaktivasi Bandara Husein, KDM Siapkan Wajah Baru Cihampelas Bandung

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Kawasan Cihampelas, salah satu ikon wisata...

Terungkap! Dugaan Pencabulan Murid Sukabumi oleh Oknum Guru Ngaji.

lintaspriangan.com, BERITA SUKABUMI – Kasus Pencabulan Murid Sukabumi yang...

Diduga Salah Paham, Santri Karawang Dituduh Begal hingga Derita Luka Bakar

lintaspriangan.com, BERITA KARAWANG. Seorang santri berusia 17 tahun di...

Geger! Biawak Muntahkan Potongan Kaki Diduga Milik Bayi di Purwakarta

lintaspriangan.com, BERITA PURWAKARTA. Warga Desa Batutumpang, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten...

Olahraga

Popular Categories