Karangresik, Gerbang Tasik yang Dihancurkan demi Republik

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Pada pagi 21 Juli 1947, deru pesawat pembom memecah langit Tasikmalaya. Belanda memulai Agresi Militer I dengan menyasar titik-titik penting Republik: Pangkalan Udara Cibeureum, pabrik senjata, stasiun kereta api, kantor radio, percetakan harian Merdeka, serta Markas Divisi Siliwangi.

Serangan itu menegaskan satu perkara: Tasikmalaya bukan kota yang kebetulan berada di jalur perang. Setelah Bandung ditinggalkan dalam peristiwa Bandung Lautan Api, kota ini menjelma menjadi pusat pemerintahan Jawa Barat, markas komando militer, sekaligus simpul penerbangan, pers, dan komunikasi Republik. Menguasai Tasikmalaya berarti mencengkeram salah satu urat nadi perjuangan di Jawa Barat.

Karangresik Menjadi Palang Pintu

Pada pekan pertama Agustus 1947, pasukan Belanda bergerak dari arah timur. Setelah Ciamis dikuasai, iring-iringan kendaraan tempur diarahkan menuju Tasikmalaya.

Di antara kedua kota itu mengalir Sungai Citanduy. Jembatan Karangresik yang membentang di atasnya menjadi jalur utama bagi pasukan darat Belanda. Siapa pun yang menguasai jembatan tersebut akan memegang pintu masuk menuju jantung Tasikmalaya.

Para pejuang memahami arti genting tempat itu. Mereka tidak memiliki kendaraan tempur sebanyak Belanda. Persenjataan mereka pun jauh dari memadai. Namun, mereka mengenal setiap lekuk jalan, lereng, semak, dan tepian sungai yang akan menjadi palagan.

Keputusan kemudian diambil: Jembatan Karangresik harus dihancurkan.

Keputusan itu bukan perkara ringan. Jembatan tersebut merupakan sarana milik rakyat, penghubung Tasikmalaya dengan daerah di sebelah timur. Namun, keselamatan Republik menuntut pengorbanan yang lebih besar daripada kepentingan sehari-hari.

Jembatan yang dibangun untuk mempertemukan dua tepian itu akhirnya diputus agar musuh tidak dapat melintas.

Pada 7 Agustus 1947, satu batalyon tempur Belanda bergerak dari Ciamis menuju Tasikmalaya. Konvoi tersebut diperkuat unsur kavaleri, kendaraan lapis baja, Bren carrier, serta persenjataan berat.

Sekitar pukul 09.00, iring-iringan itu tiba di mulut Jembatan Karangresik. Kendaraan paling depan berhenti. Di hadapan mereka, jalur penyeberangan telah terputus.

Pasukan Republik pimpinan Kapten Kodongan sudah bersiaga di seberang sungai. Mereka menempati bukit, lereng, bebatuan, semak, dan hutan kecil. Posisi-posisi itu dipilih dengan cermat agar gerakan mereka lindap dari pandangan lawan.

Konvoi Belanda tertahan di jalan berkelok sepanjang sekitar 350 meter di sebelah utara jembatan. Kendaraan tempur yang sebelumnya menjadi tumpuan kekuatan berubah menjadi beban. Ruang gerak mereka sempit, sedangkan pasukan Republik tersebar di tempat-tempat yang sulit dibidik.

Berjam-jam para pejuang menunggu.

Mereka tidak membuang peluru untuk gertakan. Di tengah keterbatasan, keberanian harus berjalan beriringan dengan perhitungan. Satu tembakan yang dilepaskan terlalu cepat dapat membuka persembunyian sekaligus menggagalkan seluruh rencana.

Menjelang pukul 15.00, kesunyian Karangresik pecah.

Tembakan pasukan Republik menyambar dari perbukitan dan lereng sungai. Konvoi Belanda yang terkurung di jalan sempit kacau-balau mencari perlindungan. Kendaraan lapis baja mereka tidak dapat menyeberang, sementara serangan terus datang dari posisi yang sukar dijangkau.

Pertempuran berlangsung sengit. Pasukan Belanda akhirnya menarik diri hingga ke Sindangkasih, Ciamis.

Pada malam hari, sejumlah pejuang menyeberangi sungai. Mereka menghimpun senjata, pakaian, amunisi, dan perbekalan yang ditinggalkan lawan. Bagi pasukan Republik, barang-barang itu bukan sekadar rampasan. Setiap pucuk senjata dan butir peluru merupakan bekal untuk mempertahankan kemerdekaan pada pertempuran berikutnya.

Hari itu, Karangresik berhasil menjadi palang pintu.

Kemenangan tersebut tidak lahir dari kelengkapan persenjataan. Ia tumbuh dari muslihat perang yang jitu, penguasaan medan, sokongan rakyat, serta keberanian mengorbankan fasilitas sendiri demi menghambat laju penjajah.

Kota Jatuh, Perlawanan Menyebar

Kegagalan menerobos Karangresik membuat Belanda mengubah siasat.

Keesokan harinya, dua pesawat tempur Mustang dikerahkan untuk menggempur pertahanan Republik. Dentuman bom dan rentetan peluru dari udara mendera kawasan Karangresik.

Para pejuang mampu menghadapi pasukan darat, tetapi tidak memiliki persenjataan yang sangkil untuk menangkis serangan udara. Mereka terpaksa meninggalkan kedudukan. Sebagian pasukan bergerak menuju Singaparna, sementara pertahanan lain disiapkan di pinggiran kota.

Terbukanya jalur Karangresik memungkinkan pasukan Belanda menerobos Tasikmalaya. Pada 11 Agustus 1947, pusat kota berhasil diduduki.

Gedung pemerintahan, jalan utama, dan sejumlah fasilitas penting jatuh ke tangan Belanda. Namun, pendudukan itu tidak serta-merta memadamkan perlawanan. Pasukan Republik berpencar ke luar kota dan membangun kantong-kantong gerilya.

Pemerintahan Jawa Barat di bawah Gubernur Sewaka juga terus bergerak. Roda pemerintahan dipertahankan agar Republik tetap hadir meski pusat kota berada di bawah cengkeraman musuh. Dari pedalaman dan perbukitan Tasikmalaya, pasukan Republik terus mengusik patroli, jalur perhubungan, dan kedudukan Belanda.

Musuh dapat menduduki kota, tetapi tidak berhasil menaklukkan kesetiaan rakyatnya.

Karangresik kemudian menjelma menjadi tetenger dari sebuah zaman ketika tentara dan rakyat berdiri tanpa sekat. Ada yang mengangkat senjata, ada yang mengangkut perbekalan, ada pula yang membantu memutus jembatan. Mereka mengambil peran masing-masing dalam ikhtiar mempertahankan Republik yang bahkan belum genap berusia dua tahun.

Di Karangresik, cinta tanah air tidak hadir sebagai semboyan yang digantungkan di dinding. Ia menjelma menjadi keputusan pahit: merusak milik sendiri agar tidak digunakan penjajah.

Para pejuang memahami bahwa jembatan dapat dibangun kembali. Kemerdekaan yang direnggut belum tentu dapat direbut dengan mudah untuk kedua kalinya.

Kini, kendaraan melintasi Karangresik tanpa harus mendengar desing peluru. Sungai Citanduy tetap mengalir, melewati jejak jembatan lama yang pernah menjadi batas antara pendudukan dan perlawanan.

Namun, di tempat itulah sebuah pilihan besar pernah diambil.

Para pejuang Tasikmalaya merobohkan jalan yang berada di hadapan musuh, lalu mempertaruhkan nyawa untuk menjaganya. Mereka mengetahui kekuatan lawan jauh lebih besar, tetapi marwah Republik tidak memberi mereka kemewahan untuk berdiam diri.

Jembatan Karangresik memang dihancurkan. Namun, dari puing-puingnya tegak sebuah teladan: ketika kemerdekaan berada dalam mara bahaya, rakyat Tasikmalaya memilih menjadi benteng—meski di hadapan mereka berdiri kendaraan lapis baja, pesawat tempur, dan kemungkinan tidak pernah pulang.

Referensi utama: Pembentukan Wilayah Pertahanan Priangan Timur, Monumen Perjuangan Daerah Jawa Barat, Jurnal Tamaddun UIN Siber Syekh Nurjati, dan penelusuran pertempuran Karangresik berdasarkan Siliwangi dari Masa ke Masa.

Kawasan Cihampelas Bandung - lintas priangan

Jelang Reaktivasi Bandara Husein, KDM Siapkan Wajah Baru Cihampelas Bandung

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Kawasan Cihampelas, salah satu ikon wisata belanja di Kota Bandung, bakal mengalami penataan besar-besaran. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menyiapkan...

JEJAK HEROIK JABAR

Sasak Kapuk: Saksi Keberanian Pemuda Bekasi

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR.  Jembatan kayu Sasak Kapuk mulanya hanyalah...

Ketika Para Kiai Bekasi Bertaruh Nyawa untuk Negeri

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Di Cibarusah, beberapa bulan sebelum Proklamasi...

Andalan Pejuang Cimahi: 7 Pucuk Senjata dari Dalam Sumur

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Tujuh pucuk senjata itu tidak datang dari...

Jejak Heroik Jabar Tembus 36 Ribu Pembaca dalam Tiga Hari

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Rubrik khusus Jejak Heroik Jabar yang diluncurkan...

Selama 4 Hari, Pejuang Cimahi Kepung Jantung Militer Belanda

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Cimahi, Maret 1946. Dari balik barak, tangsi,...

PRIANGAN TIMUR

SWAKKA Inisiasi UKW, Pentahelix Diharapkan Hadir

lintaspriangan.com, BERITA PRIANGAN. SWAKKA mulai mematangkan rencana penyelenggaraan Uji Kompetensi...

Sengketa Aset, PGRI Cisayong Gelar Istigasah dan Siap Tempuh Jalur Hukum

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Sengketa aset PGRI Cisayong, Sekretariat PGRI...

Pemkab Pangandaran Gandeng BPN Usut Klaim SHM Pantai Madasari

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Polemik keberadaan papan bertuliskan "Tanah Bersertifikat...

Wali Kota Tasikmalaya Dimintai Keterangan Ombudsman, Ini Kronologinya

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Permintaan keterangan Ombudsman kepada Wali Kota Tasikmalaya tidak...

Hari Ini, Ombudsman Minta Wali Kota Tasikmalaya Beri Keterangan

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Barat meminta Wali...

JAWA BARAT

Jelang Reaktivasi Bandara Husein, KDM Siapkan Wajah Baru Cihampelas Bandung

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Kawasan Cihampelas, salah satu ikon wisata...

Terungkap! Dugaan Pencabulan Murid Sukabumi oleh Oknum Guru Ngaji.

lintaspriangan.com, BERITA SUKABUMI – Kasus Pencabulan Murid Sukabumi yang...

Diduga Salah Paham, Santri Karawang Dituduh Begal hingga Derita Luka Bakar

lintaspriangan.com, BERITA KARAWANG. Seorang santri berusia 17 tahun di...

Geger! Biawak Muntahkan Potongan Kaki Diduga Milik Bayi di Purwakarta

lintaspriangan.com, BERITA PURWAKARTA. Warga Desa Batutumpang, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten...

Ketika Seni Menjadi Mesin Wisata Bandung Barat

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Minggu, 2 Agustus 2026, menjadi hari terakhir...

Mall, UMKM, dan Cara Bandung Menjual Kreativitas

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Minggu, 2 Agustus 2026, menjadi hari terakhir...

Mengapa Semua Kota di Jabar Mendadak Punya Lomba Lari?

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Minggu pagi, 2 Agustus 2026, kawasan Kota...

Satu Tahun Buaya Muara Teror Situ Habibie Sukabumi, Warga Desak Penanganan Segera

lintaspriangan.com, BERITA SUKABUMI. Teror kawanan buaya muara di Situ...

Olahraga

Popular Categories