lintaspriangan.com,ย JEJAK HEROIK JABAR.ย Cimahi, Maret 1946. Dari balik barak, tangsi, dan tembok tebal kompleks militer, pasukan Sekutu dan NICA menunggu serangan. Di luar kampemen, para pejuang Indonesia merapatkan kepungan dengan senjata yang jauh dari memadai.
Mereka datang bukan membawa tank atau meriam. Sebagian hanya menggenggam senapan rampasan Jepang. Laskar rakyat bahkan bertempur dengan bambu runcing, golok, arit, dan kelewang. Namun, selama empat hari empat malam, pejuang Cimahi berani mengepung salah satu jantung pertahanan militer paling kuat di Priangan.
Cimahi memang bukan kota biasa. Sejak akhir abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda telah membangunnya sebagai pangkalan militer. Barak tentara, rumah sakit garnisun, penjara militer, rumah perwira, gudang, hingga berbagai fasilitas pendukung berdiri di kota kecil sebelah barat Bandung tersebut. Jejaknya masih terlihat hingga sekarang dalam berbagai bangunan dan kompleks militer.
Karena itu, ketika para pejuang mengepung Kampemenwegโkawasan Jalan Gatot Subroto sekarangโmereka bukan sedang menyerbu pos penjagaan kecil. Mereka sedang mengetuk pintu benteng yang sejak zaman kolonial dirancang untuk mempertahankan kekuasaan Belanda.

Baca juga:ย Anggaran Internet Kesbangpol Kota Bandung Seperempat Miliar, tapi Website-nya Terkapar
Mengepung dengan Senjata Seadanya
Pengepungan dilakukan pasukan Detasemen Abdul Hamid dan Kompi Daeng bersama laskar serta pejuang rakyat. Di Cimahi ketika itu juga tumbuh berbagai kekuatan perjuangan, seperti Laskar Fisabilillah, Hizbullah, Banteng Cimahi, Kesatuan Uyo, serta Barisan Rakyat atau BARA.
Mereka berasal dari latar belakang berbeda, tetapi disatukan oleh satu keyakinan: kemerdekaan yang baru diproklamasikan tidak boleh direbut kembali.
Di dalam kampemen terdapat pasukan Sekutu dan NICA dengan persenjataan jauh lebih lengkap. Mereka memiliki kendaraan lapis baja, tank infanteri, mortir, dan meriam. Sebaliknya, persenjataan pejuang sebagian besar berasal dari rampasan tentara Jepang dan jumlahnya sangat terbatas.
Namun, keterbatasan itu tidak membuat pejuang Cimahi menyerang tanpa perhitungan.
Mereka menutup akses menuju kompleks militer. Jalan-jalan yang dapat digunakan untuk mengirim bantuan dan perbekalan diawasi. Tekanan terus diberikan dari berbagai arah. Sedikit demi sedikit, ruang gerak pasukan di dalam kampemen dipersempit.
Pada hari terakhir, strategi pengepungan ditingkatkan. Akses transportasi menuju Kampemenweg diputus. Aliran listrik dihentikan. Air ledeng yang memasok kompleks militer juga diputus.
Para pejuang barangkali tidak mempunyai cukup peluru untuk merobohkan benteng. Karena itu, mereka mencoba mencekik urat nadinya.
Selama beberapa saat, kompleks yang selama puluhan tahun menjadi lambang kekuatan militer kolonial itu justru berada dalam tekanan pasukan Republik yang bersenjata seadanya.
Empat hari empat malam bukan waktu yang singkat bagi orang-orang yang bertempur dengan perbekalan terbatas. Di antara tembakan, mereka harus berpindah dari satu gang ke gang lain, menjaga kepungan, membawa pesan, mengangkut korban, dan memastikan musuh tidak mudah keluar dari kompleks.
Cimahi telah berubah menjadi gelanggang perang.

Baca juga:ย Menelisik Hibah Kesbangpol Kota Bandung untuk Kejari: dari Ruang Tamu hingga Isi Garasi
Kota Dihujani Meriam dan Mortir
Pasukan Sekutu dan NICA tidak menyerah.
Dari dalam kompleks, tank-tank infanteri bergerak membalas kepungan. Meriam dan mortir ditembakkan ke berbagai penjuru kota. Ledakannya menjalar dari sekitar Penjara Militer Poncol menuju permukiman dan jalan-jalan di sekitarnya.
Sejumlah kawasan, antara lain Gang Balong, Gang Sobari, Gang Rangsom, Kebon Kembang, Kalidam, Baros, Kandanguncal, dan Margaluyu, rusak atau terbakar. Pertokoan di sepanjang Grote Postwegโkini Jalan Jenderal Amir Machmudโjuga terdampak.
Pejuang Cimahi menghadapi pilihan yang pahit.
Mempertahankan kepungan berarti terus berhadapan dengan tank, mortir, dan meriam menggunakan persenjataan yang tidak sebanding. Bertahan terlalu lama dapat membuat pasukan mereka habis sebelum perjuangan yang lebih besar dilanjutkan.
Akhirnya, mereka memilih mundur.
Baca juga:ย Indikasi Korupsi Kesbangpol Jabar Bagian 1: Makan Minum Tak Dikerjakan tapi Dibayar
Detasemen Abdul Hamid bergerak menuju Cisarua. Kompi Daeng mundur ke selatan menuju Cipatik. Sebelum meninggalkan kawasan pertempuran, para pejuang memutus Jembatan Nanjung, jalur penting yang menghubungkan Cimahi dengan wilayah selatan. Pasukan Sekutu pun tidak dapat segera mengejar karena jalan mereka telah terputus.
Kampemen memang tidak berhasil direbut. Pasukan di dalamnya tidak menyerah. Secara militer, pengepungan itu tidak berakhir dengan kemenangan mutlak bagi pejuang Cimahi.
Namun, keberanian tidak selalu diukur dari siapa yang akhirnya menguasai medan.
Empat hari empat malam itu memperlihatkan bahwa kota militer peninggalan Belanda tidak lagi berdiri tanpa perlawanan. Orang-orang yang selama masa kolonial hanya dipandang sebagai penghuni negeri jajahan telah datang mengepungnyaโmembawa senapan rampasan, golok, bambu runcing, dan keberanian yang tidak dapat dihitung dengan jumlah peluru.
Mereka mundur bukan karena berhenti mencintai Republik. Mereka mundur agar perjuangan tetap hidup.
Hari ini, kendaraan melintas di Jalan Gatot Subroto. Warga melewati kawasan Poncol, Baros, Margaluyu, dan Nanjung tanpa suara meriam di kejauhan. Namun, pada Maret 1946, jalan-jalan itu pernah menyimpan jejak orang-orang yang memilih menghadapi jantung kekuatan militer kolonial daripada menyaksikan kemerdekaan dirampas kembali.
Kota Cimahi mungkin tidak jatuh ke tangan pejuang dalam pertempuran tersebut. Akan tetapi, selama empat hari empat malam, mereka telah membuktikan satu hal: benteng sebesar apa pun dapat dikepung ketika keberanian rakyat lebih besar daripada rasa takut.
Tunggu artikel selanjutnya: Serangan Kilat Pejuang Cimahi, Konvoi Sekutu Dipaksa Mundur.
“Jangan biarkan kisah para pejuang ini terkubur untuk kedua kalinyaโbukan oleh tanah, melainkan oleh lupa. Bagikan kepada anak-anak, keluarga, sahabat, dan generasi muda, agar mereka mengerti bahwa Merah Putih tidak berkibar sekadar karena angin, tetapi karena darah, air mata, dan nyawa yang dikorbankan. Sekali Anda membagikan kisah ini, Anda ikut menjaga api perjuangan tetap menyala dari generasi ke generasi.”
lintaspriangan.com
Baca juga:ย Indikasi Korupsi Kesbangpol Sumedang: Lembaga Paling Pancasilais, Kok Kontraknya Begini?







