Pasar Tradisional Kota Tasikmalaya: Sapi Perah yang Mulai Gerah

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA.  Kesabaran warga pasar tradisional Kota Tasikmalaya mulai menipis. Setelah bertahun-tahun menghadapi jalan rusak, drainase tersumbat, kios bocor, lingkungan berbau limbah, dan pembenahan yang dinilai hanya tambal sulam, ditambah tak digubris selama 5 bulan, para pedagang kini mempersiapkan aksi di depan Balai Kota Tasikmalaya pada Jumat, 7 Agustus 2026.

Berdasarkan komunikasi redaksi dengan salah seorang pengurus pasar, sekitar 1.000 orang diproyeksikan turun dalam aksi tersebut. Massa merupakan gabungan warga Pasar Cikurubuk, Gegernoong, Indihiang, dan Pancasila. Mereka juga meminta DPRD Kota Tasikmalaya hadir untuk menyaksikan langsung persoalan yang selama ini tumbuh di balik kios, los, dan pelataran pasar.

Seribu Warga Pasar Tradisional Kota Tasikmalaya Bersiap Turun

Sedikitnya ada tiga tuntutan utama yang akan dibawa dalam aksi warga pasar tradisional Kota Tasikmalaya.

- Advertisement -

Pertama, para pedagang menyatakan siap membayar retribusi sepanjang besarannya wajar dan manusiawi. Kedua, Pemerintah Kota Tasikmalaya diminta membuktikan pelayanan terhadap fasilitas pasar. Ketiga, mereka menuntut pencabutan SP1, SP2, dan SP3 yang telah diberikan kepada warga pasar terkait tunggakan retribusi.

Tuntutan itu menunjukkan bahwa pedagang tidak menolak kewajiban secara mutlak. Mereka justru mempertanyakan keseimbangan antara pungutan dan pelayanan.

Retribusi berbeda dengan pajak. Pajak merupakan kontribusi wajib tanpa imbalan langsung kepada pembayarnya. Sementara retribusi dipungut atas jasa atau fasilitas tertentu yang secara khusus disediakan pemerintah daerah.

Karena itu, persoalan yang diajukan pedagang bukan sekadar berapa rupiah yang harus disetorkan. Mereka juga menagih apa yang diberikan pemerintah setelah retribusi dipungut.

Di sejumlah pasar, terutama Pasar Cikurubuk, persoalan fasilitas telah berlangsung lama. Jalan berlubang berubah seperti aliran sungai ketika hujan. Saluran air tidak mampu mengalirkan limpasan dengan baik. Sampah dan limbah pasar menimbulkan bau, sedangkan sejumlah kios dan bagian bangunan membutuhkan perbaikan serius.

Di sisi lain, penagihan retribusi terus berjalan. Pedagang yang belum memenuhi kewajibannya bahkan menerima surat peringatan bertingkat hingga SP3.

Di sinilah rasa tidak adil itu tumbuh. Tenggat pembayaran pedagang dicatat dengan rapi, tetapi kerusakan fasilitas dapat menunggu bertahun-tahun tanpa kepastian penanganan.

Retribusi Miliaran, Perbaikan Tambal Sulam

Data 2023 sampai 2025 memperlihatkan bahwa pasar tradisional Kota Tasikmalaya tetap menjadi salah satu sumber penerimaan daerah.

Pada 2023, UPTD Pasar Resik I memperoleh target retribusi Rp1,3 miliar dan dinyatakan berhasil mencapainya. UPTD tersebut membawahi Pasar Cikurubuk, Pasar Padayungan, serta Pasar Burung dan Besi.

Target retribusi kemudian naik menjadi Rp1,4 miliar pada 2024. Hingga pertengahan Desember, realisasinya telah mencapai 91,99 persen atau sekitar Rp1,288 miliar.

Pada 2025, target kembali meningkat menjadi Rp1,45 miliar. Realisasi hingga pertengahan Desember tercatat sekitar 60 persen atau kurang lebih Rp870 juta. Penurunan tersebut berkaitan dengan penolakan terhadap kenaikan tarif, kios yang tidak beroperasi, serta memburuknya aktivitas perdagangan.

Jika dihitung secara konservatif, sedikitnya sekitar Rp3,458 miliar retribusi dihimpun melalui UPTD Pasar Resik I sepanjang 2023–2025.

Pada periode yang sama, Pemerintah Kota Tasikmalaya menyebut telah mengalokasikan anggaran pemeliharaan Pasar Cikurubuk sebesar Rp560 juta pada 2023, Rp650 juta pada 2024, dan Rp723 juta pada 2025.

Totalnya sekitar Rp1,933 miliar.

Anggaran tersebut digunakan untuk sejumlah pekerjaan, mulai dari akses jalan depan, lampu penerangan, normalisasi drainase, perbaikan kios terdampak banjir, hingga pemeliharaan enam jalur jalan dan satu saluran air.

Perbandingan antara Rp3,458 miliar penerimaan dan Rp1,933 miliar biaya pemeliharaan memang tidak sepenuhnya sepadan. Angka penerimaan berasal dari sejumlah pasar di wilayah UPTD Pasar Resik I, sedangkan anggaran pemeliharaan disebut khusus untuk Pasar Cikurubuk.

Retribusi yang masuk ke kas daerah juga tidak harus dikembalikan seluruhnya kepada pasar yang menjadi sumber pungutan.

Namun, perbandingan itu tetap membuka pertanyaan penting. Berapa sebenarnya retribusi yang berasal dari masing-masing pasar? Berapa bagian yang kembali dalam bentuk pelayanan? Mengapa rincian penerimaan setiap pasar tidak dibuka secara terang kepada publik?

Pertanyaan tersebut semakin kuat setelah pernyataan Plt Kepala UPTD Pasar Resik I pada Desember 2024.

Di tengah optimisme mengejar target retribusi Rp1,4 miliar, pejabat UPTD mengakui hampir 30 persen kios Pasar Cikurubuk kosong. Pasar itu juga disebut sekitar delapan tahun tidak memperoleh revitalisasi.

Lebih jauh, jalan, saluran air, dan fasilitas pendukung lainnya disebut tidak mendapatkan perbaikan memadai selama sekitar 20 tahun.

Pernyataan tersebut menampilkan ironi pengelolaan pasar tradisional Kota Tasikmalaya. Target penerimaan diperiksa setiap tahun, tetapi fasilitas dasar dapat menunggu hampir satu generasi.

Jejak sejarah juga menunjukkan Pasar Cikurubuk bukan pemain baru dalam penerimaan daerah. Pada 2011, Wali Kota Tasikmalaya saat itu pernah menyebut retribusi Pasar Cikurubuk menghasilkan sekitar Rp900 juta setiap tahun. Perputaran uang di kawasan pasar tersebut bahkan disebut mencapai sekitar Rp10 miliar per hari.

Saat itu, pengelolaan pasar dialihkan kepada PD Pasar Resik dengan harapan pelayanan menjadi lebih profesional, ekonomi daerah berkembang, dan revitalisasi pasar dapat dilakukan.

Bertahun-tahun kemudian, warga pasar masih berbicara tentang persoalan yang nyaris sama: jalan rusak, saluran tersumbat, bangunan yang menua, sampah, bau limbah, dan pembeli yang semakin enggan masuk.

Buruknya pelayanan memang tidak otomatis menghapus kewajiban retribusi. Pedagang tetap wajib membayar tagihan yang ditetapkan secara sah.

Namun, pemerintah juga tidak boleh memandang retribusi semata-mata sebagai angka pendapatan. Di balik setiap pungutan terdapat kewajiban menyediakan jasa dan fasilitas yang layak.

Itulah pesan yang hendak dibawa sekitar seribu warga pasar ke Balai Kota Tasikmalaya. Mereka menyatakan siap membayar, tetapi tidak lagi bersedia terus ditagih tanpa memperoleh bukti pelayanan yang sepadan.

Selama ini pasar tradisional Kota Tasikmalaya seolah diperlakukan sebagai sapi perah: hasilnya ditunggu, targetnya dinaikkan, dan tunggakannya dikejar. Sementara kandangnya hanya ditambal ketika kerusakan sudah terlalu parah untuk disembunyikan.

Kini, sapi perah itu mulai gerah. (AS)

Abiba Booster
Produk

Abiba Booster

Abiba Booster – Bikin Website WordPress Lebih Ringan, Cepat, dan Hemat Penyimpanan! Hosting cepat penuh? Website terasa berat?…

Rp119.000Beli Sekarang
Abiba SEO
Produk Digital

Abiba SEO

Abiba SEO – Optimalkan Website WordPress agar Lebih Siap Bersaing di Google! Ingin website dan artikel lebih mudah…

Rp199.000Beli Sekarang
Kost Pria
Properti

Kost Pria

Kota Tasikmalaya, Jawa Barat · Mitra · Sewa/Kontrak

Kost mahasiswa dekat unsil

Rp300.000Hubungi Pemilik
WAStore
Produk Digital

WAStore

WASTore – Bikin Toko Online Profesional, Terima Pesanan Langsung via WhatsApp! Punya produk tapi belum punya toko online…

Rp240.000Beli Sekarang
[lapak_post layout="grid" source="latest" limit="4" columns="4" rows="1"]

JEJAK HEROIK JABAR

Membuka Jejak Pejuang Tionghoa di Cirebon

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ada satu kalimat pendek dalam arsip...

Taktik Buaya Mangap Pejuang Cirebon Bikin Belanda Kocar-kacir

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jembatan-jembatan menuju Bantarjati tampak seperti sedang...

Selama 5 Bulan, Markas Belanda Digempur Pejuang Cikatomas

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ketika malam turun di wilayah selatan...

Pesantren Langkaplancar yang Berubah Menjadi Markas Laskar

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jauh dari pantai yang kini menjadi...

Dari Perlindungan 1947 hingga Harmony Award 2025

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Bensin telah diletakkan di dekat rumah-rumah warga...

PRIANGAN TIMUR

Karhutla Ciamis Bakar 2,254 Hektare di Tiga Desa, Api Sudah Padam

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Karhutla Ciamis membakar sekitar 2,254 hektare...

Kecelakaan di Kalipucang, Truk Mundur Tabrak Dua Mobil

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Kecelakaan di Kalipucang melibatkan sebuah truk...

Hari Jadi Pangandaran ke-14, Jejak Pemekaran dari Ciamis

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Hari Jadi Pangandaran ke-14 jatuh pada...

Tahfidz Supercamp Tasikmalaya Dijadwalkan 24–25 Oktober di Parung

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Tahfidz Supercamp Tasikmalaya yang digagas Forum...

Promo Tirta Sukapura hingga 25 Oktober, Sambungan Baru Rp639 Ribu

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Promo Tirta Sukapura untuk sambungan baru...

JAWA BARAT

Jambore Batik Jawa Barat Digelar 24–25 Oktober di Bandung

lintaspriangan.com, BERITA JABAR. Jambore Batik Jawa Barat berlangsung pada...

Polisi Selidiki Penyerangan Pasar Caringin, Satu Petugas Parkir Tewas

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Polisi masih menyelidiki Penyerangan Pasar Caringin...

Pemadaman Karhutla Gunung Ciremai Berlanjut, OMC Disiapkan

lintaspriangan.com, BERITA KUNINGAN. Penanganan Karhutla Gunung Ciremai masih berlangsung...

Pertamina SMEXPO Cirebon 2026 Masuki Hari Terakhir, 32 UMKM Bidik Pasar Baru

lintaspriangan.com, BERITA CIREBON. Pertamina SMEXPO Cirebon 2026 memasuki hari...

Saat Ciremai Terbakar, Siaga Darurat Karhutla Majalengka Berlaku hingga 31 Oktober

lintaspriangan.com, BERITA MAJALENGKA. Status siaga darurat karhutla Majalengka ditetapkan...

Tiga Kebakaran Lahan di Sumedang Ditangani Sehari, Salah Satunya di Tol Cisumdawu

lintaspriangan.com, BERITA SUMEDANG. Kebakaran lahan di Sumedang dilaporkan terjadi...

Keamanan Digital UMKM Jadi Fokus ITB Cyber Clinic, Pendampingan Gratis untuk Cegah Penipuan Online

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Keamanan digital UMKM menjadi perhatian Institut...

Road to Give Bandung 2026, Lari Amal untuk Mendukung Penyintas Kanker

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Road to Give Bandung 2026 mengajak...

Olahraga

Kategori Populer