lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Olahraga tradisional Tasikmalaya kembali mendapat ruang melalui Festival Olahraga Tradisional Kabupaten Tasikmalaya 2026. Kegiatan yang berlangsung pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026 di SMPN 1 Cibalong itu memasuki hari terakhir, Minggu, 2 Agustus 2026.
Selama tiga hari, lapangan menjadi palagan kecil bagi permainan yang mengandalkan gerak, ketangkasan, keseimbangan, dan kerja sama. Anak-anak tidak hanya mengejar kemenangan. Mereka belajar menyelaraskan langkah, membaca gerak lawan, mematuhi aturan, serta menerima kalah tanpa kehilangan kegembiraan.
Festival ini menjadi ikhtiar penting untuk merawat olahraga tradisional Tasikmalaya. Namun, kemeriahan selama beberapa hari belum cukup menjadi penanda bahwa permainan warisan tersebut benar-benar selamat.
Ujian yang sesungguhnya baru dimulai setelah perlombaan berakhir.
Apakah permainan itu akan kembali hadir di halaman sekolah dan lapangan desa? Atau, ia kembali disimpan di gudang, menunggu seremoni serupa pada tahun berikutnya?
Olahraga Tradisional Tasikmalaya Menjangkau 434 Ribu Anak
Kabupaten Tasikmalaya memiliki jumlah anak dan remaja yang sangat besar.
Badan Pusat Statistik mencatat terdapat 138.673 penduduk berusia 5–9 tahun, 141.224 jiwa berusia 10–14 tahun, serta 154.647 jiwa berusia 15–19 tahun pada 2024.
Jika dijumlahkan, terdapat 434.544 anak dan remaja berusia 5–19 tahun. Jumlah itu mencapai sekitar 22,6 persen dari total 1.920.921 penduduk Kabupaten Tasikmalaya.
Artinya, hampir satu dari setiap empat penduduk berada pada usia yang lekat dengan permainan, aktivitas fisik, pergaulan, serta pembentukan kebiasaan hidup.
Namun, mereka tumbuh di tengah lanskap sosial yang berubah cepat.
Lapangan bukan lagi satu-satunya tempat mencari hiburan. Permainan, tontonan, percakapan, dan beragam kesenangan lain kini tersedia dalam satu layar yang berada di genggaman.
Belum tersedia data terbuka yang secara khusus mencatat durasi penggunaan gawai anak-anak Kabupaten Tasikmalaya. Karena itu, angka nasional tidak dapat serta-merta dianggap sebagai potret persis keadaan daerah.
Kecenderungannya, bagaimanapun, tidak bisa diabaikan.
BPS mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Angka itu meningkat dibandingkan 69,21 persen pada 2023.
Internet tentu bukan musuh. Teknologi telah membuka pintu pengetahuan, memudahkan komunikasi, dan memperluas cakrawala anak-anak.
Persoalan muncul ketika waktu di depan layar tidak berkelindan dengan kesempatan bergerak.
Survei Kesehatan Indonesia 2023 menemukan 37,4 persen penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas kurang melakukan aktivitas fisik. Angka tersebut merupakan data nasional, tetapi cukup menunjukkan bahwa kebiasaan kurang bergerak telah menjadi persoalan kesehatan yang nyata.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO merekomendasikan anak dan remaja berusia 5–17 tahun melakukan aktivitas fisik berintensitas sedang hingga berat sedikitnya 60 menit setiap hari.
Aktivitas itu tidak harus selalu berbentuk latihan resmi. Bermain, berjalan kaki, bersepeda, berlari, atau bergerak bersama teman juga menjadi bagian penting di dalamnya.
Di sinilah olahraga tradisional memiliki faedah yang kerap luput diperhitungkan.
Anak yang bermain egrang harus menjaga keseimbangan. Bakiak menuntut keselarasan langkah. Permainan beregu mengajarkan kecepatan, strategi, komunikasi, serta kemampuan memahami gerak kawan dan lawan.
Tubuh bergerak karena permainan terasa menyenangkan, bukan karena anak sedang diperintah memenuhi target kebugaran.
Olahraga tradisional juga tidak selalu memerlukan fasilitas mahal. Banyak permainan dapat dilakukan di halaman sekolah, lapangan desa, halaman pesantren, atau ruang terbuka di sekitar permukiman.
Peralatannya pun nisbi sederhana. Sebagian dapat dibuat dari bambu, kayu, tali, batu, atau bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Sebuah penelitian terhadap 84 siswa kelas III sekolah dasar pernah menguji permainan galasin, gatrik, bebentengan, kasti, dan permainan penggaris selama delapan minggu.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keterampilan gerak dasar pada peserta. Penelitian itu memang menggunakan desain satu kelompok sebelum dan sesudah perlakuan, tanpa kelompok pembanding. Temuannya tidak boleh dianggap sebagai kesimpulan mutlak, tetapi cukup memperkuat dugaan bahwa permainan tradisional memiliki manfaat bagi perkembangan gerak anak.
Manfaatnya tidak berhenti pada tubuh.
Permainan tradisional menuntut perjumpaan langsung. Anak belajar berbicara, menunggu giliran, berunding, menahan emosi, dan menyelesaikan perselisihan tanpa selalu bergantung kepada orang dewasa.
Nilai-nilai itu tumbuh secara alamiah. Tidak diajarkan melalui ceramah panjang, melainkan melalui riuh rendah permainan.
Festival Berlangsung, Partisipasi Olahraga Menurun
Festival tahun ini menjadi semakin penting ketika dibandingkan dengan data olahraga milik Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya sendiri.
RKPD Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2026 menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat dalam berolahraga turun dari 43,49 persen pada 2023 menjadi 38 persen pada 2024.
Pada periode yang sama, cakupan pembinaan olahraga turun dari 59,70 persen menjadi 56,34 persen.
Cakupan pembinaan atlet muda juga merosot, dari 47,29 persen menjadi 37,03 persen.
Sementara itu, cakupan pelatih bersertifikat hanya meningkat tipis, dari 22,54 persen menjadi 23,04 persen.
Penurunan juga terlihat pada prestasi yang dicatat pemerintah daerah. Perolehan medali Kabupaten Tasikmalaya turun dari 130 medali pada 2023 menjadi 52 medali pada 2024.
Data tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa festival olahraga tradisional gagal. Festival hanya satu bagian dari bentang kebijakan olahraga yang jauh lebih luas.
Namun, angka-angka itu membunyikan tengara bahwa upaya mengajak masyarakat bergerak masih menghadapi jalan terjal.
Ada pula perbedaan angka dalam RKPD 2026 yang patut dijernihkan.
Pada tabel capaian 2020–2024, tingkat partisipasi masyarakat berolahraga pada 2024 tercatat 38 persen. Namun, pada bagian lain dokumen yang sama, angka dasar 2024 untuk indikator tersebut justru ditulis 59,5 persen.
Target selanjutnya ditetapkan 59,65 persen pada 2025 dan 59,8 persen pada 2026.
Selisih antara 38 persen dan 59,5 persen mencapai 21,5 poin persentase. Perbedaan sebesar itu tentu bukan perkara pembulatan.
Kedua angka tersebut mungkin berasal dari sumber, metode, populasi, atau takrif yang berbeda. Namun, penjelasannya perlu dibuka agar publik mengetahui angka mana yang digunakan untuk mengukur keberhasilan program.
Kejelasan data bukan perkara remeh.
Tanpa ukuran yang ajek, pemerintah akan kesulitan mengetahui apakah partisipasi olahraga benar-benar meningkat, program berjalan tepat sasaran, dan anggaran memberi kemaslahatan bagi masyarakat.
Pada 2026, Pemkab Tasikmalaya mencantumkan pagu Rp19,031 miliar untuk Program Pengembangan Kapasitas Daya Saing Keolahragaan.
Program itu menargetkan cakupan pelatih bersertifikat sebesar 38,33 persen, pembinaan atlet muda 50 persen, dan pembinaan olahraga 65,78 persen.
Anggaran tersebut memang tidak seluruhnya digunakan untuk olahraga tradisional. Namun, kerangka program yang tersedia seharusnya dapat menjadi titian agar festival tidak berdiri sebagai acara yang terpisah dari pembinaan.
Pemerintah dapat memulai dengan mendata permainan tradisional yang masih dikenal di 39 kecamatan. Penelusuran dapat melibatkan sekolah, pemerintah desa, pesantren, komunitas, serta para sepuh yang masih menyimpan ingatan tentang permainan masa silam.
Setiap wilayah tidak harus memiliki jenis permainan yang sama.
Daerah pegunungan, kawasan pertanian, pusat permukiman, dan pesisir selatan mungkin menyimpan khazanah permainan yang berbeda. Nama, aturan, istilah, serta nilai budaya yang menyertainya perlu dicatat sebelum luruh bersama bergantinya generasi.
Hasil pendataan kemudian dapat diterjemahkan menjadi program rutin.
Sekolah tidak perlu menunggu festival untuk mengenalkan permainan tradisional. Satu sesi permainan setiap pekan dapat menjadi awal yang bersahaja, tetapi bermakna.
Desa dapat menyediakan ruang bermain dan peralatan sederhana. Kegiatan kepemudaan, hari bebas kendaraan, peringatan hari besar, hingga agenda rutin kampung dapat menjadi tempat olahraga tradisional kembali berdenyut.
Teknologi juga tidak perlu diposisikan sebagai lawan.
Pemerintah dan sekolah dapat membuat video aturan permainan, mendokumentasikan permainan khas setiap kecamatan, atau menggelar tantangan antarsekolah melalui media sosial.
Layar dapat menjadi jalan menuju lapangan, bukan sekadar tembok yang memisahkan anak dari dunia nyata.
Keberhasilannya pun tidak cukup diukur dari jumlah peserta festival.
Berapa sekolah yang memainkan olahraga tradisional secara rutin? Berapa desa yang menyediakan ruang bermain? Berapa guru dan pendamping yang memahami aturan permainan? Berapa anak yang masih bermain satu atau tiga bulan setelah festival selesai?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kelak membedakan antara pelestarian dan sekadar perayaan.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan telah mengamanatkan bahwa olahraga masyarakat yang bersifat tradisional dikembangkan melalui penggalian, pengembangan, pelestarian, dan pemanfaatan.
Kata terakhir itu penting: pemanfaatan.
Permainan tradisional tidak cukup dipamerkan, didokumentasikan, lalu disimpan kembali. Ia harus digunakan, diwariskan, dan dimainkan.
Festival Olahraga Tradisional Kabupaten Tasikmalaya 2026 telah membuka pintu. Kini, para penentu kebijakan memiliki kesempatan untuk mengubah momentum itu menjadi haluan yang lebih panjang.
Yang dibutuhkan bukan lagi tepuk tangan pada penghujung acara, melainkan keputusan yang menautkan festival dengan sekolah, desa, pesantren, ruang publik, pembinaan, dan anggaran yang terukur.
Olahraga tradisional Tasikmalaya akan benar-benar lestari apabila hadir dalam keseharian anak-anak, bukan hanya dalam kalender kegiatan pemerintah.
Sebab, warisan tidak hidup karena sering disebut.
Ia hidup karena terus digunakan, dirawat, dan diwariskan. (NS/AS)





