lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Tujuh pucuk senjata itu tidak datang dari gudang militer. Tidak pula dikirim oleh pemerintah Republik yang saat itu masih tertatih membangun angkatan perang.
Senjata-senjata bekas KNIL tersebut justru diangkat dari dalam sumur. Kondisinya sudah tidak terlalu baik. Namun, bagi Pejuang Cimahi yang hendak menghadapi pasukan Sekutu dan NICA, benda-benda tua itu terlalu berharga untuk dibuang.
Bersama satu pucuk senapan berburu, tujuh senjata tersebut menjadi modal latihan Laskar Fisabilillah. Jumlahnya hanya delapan untuk melatih banyak pemuda yang bersiap mempertahankan kemerdekaan.
Satu senjata harus berpindah dari tangan ke tangan.
Seorang belajar membidik. Yang lain menunggu giliran. Ada yang mencoba mengenali bagian-bagian senjata, sementara sebagian lainnya berlatih bergerak, berlindung, dan menyerang tanpa memegang senapan.
Mereka sadar, perang tidak akan menunggu sampai persenjataan lengkap.

Baca juga:Â Anggaran Internet Kesbangpol Kota Bandung Seperempat Miliar, tapi Website-nya Terkapar
Dari Pengajian Menuju Medan Perlawanan
Laskar Fisabilillah di Cimahi dibentuk di bawah kepemimpinan KH Usman Dhomiri atau Ajengan Dhomiri. Anggotanya banyak berasal dari kalangan pemuda dan murid-murid pengajian yang datang dari luar kawasan Gunung Bohong.
Pembentukan badan perjuangan tersebut disebut dilakukan atas permintaan Bupati Bandung R.A.A. Wiranatakusumah. Sejumlah tokoh dari Buahbatu, Gununghalu, Cililin, dan wilayah lain kemudian bergabung dalam barisan Fisabilillah.
Mereka sebelumnya lebih akrab dengan pengajian daripada medan perang.
Namun, kedatangan Sekutu yang diboncengi NICA membuat keadaan berubah cepat. Kemerdekaan yang baru diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 menghadapi ancaman nyata. Para santri dan pemuda tidak lagi cukup hanya mendengar kabar pertempuran dari kejauhan.
Mereka harus bersiap memegang senjata.
Pelatihan militer diberikan oleh Saring, seorang pensiunan sersan KNIL yang juga menjadi murid pengajian Ajengan Dhomiri. Pengalamannya selama menjadi tentara kolonial digunakan untuk melatih anak-anak bangsa menghadapi kembalinya kekuatan kolonial.
Saring mengajarkan latihan kilat, pengenalan bagian-bagian senjata, cara membidik, teori menembak, hingga dasar pertahanan dan penyerangan.
Ironi sejarah bekerja dengan caranya sendiri.
Ilmu militer yang dahulu dipakai untuk menopang kekuasaan Hindia Belanda berbalik menjadi bekal untuk melawannya. Senjata bekas KNIL pun diarahkan kepada kekuatan yang ingin menghidupkan kembali kekuasaan kolonial.
Persenjataan yang tersedia sangat jauh dari memadai. Catatan dalam buku Prahara Cimahi: Pelaku dan Peristiwa 30 Oktober 1945–28 Maret 1946 menyebut latihan Laskar Fisabilillah hanya ditopang tujuh pucuk senjata bekas KNIL tahun 1942 dan satu senapan berburu.
Tujuh senjata itu juga bukan barang dalam kondisi prima. Senjata tersebut sebelumnya disembunyikan di dalam sumur, lalu diangkat kembali ketika dibutuhkan untuk melatih laskar.
Tidak ada kemewahan memilih senjata paling bagus.
Tidak ada pula ruang untuk mengeluhkan popor yang lapuk, besi yang mulai berkarat, atau mekanisme yang mungkin tidak lagi semulus ketika keluar dari pabrik.
Apa pun yang masih dapat digunakan, itulah andalan mereka.
Bayangkan latihan itu berlangsung.
Di sebuah tempat sederhana, delapan pucuk senjata diletakkan di hadapan para pemuda. Sebagian mungkin baru pertama kali menyentuh senapan. Mereka harus mempelajari cara memegangnya, mengisi peluru, membidik, dan menjaga diri agar tidak membahayakan kawan.
Peluru pun tentu tidak dapat dihamburkan.
Setiap letusan harus berarti pelajaran. Setiap kesempatan memegang senjata harus digunakan sebaik mungkin. Selebihnya, mereka berlatih melalui penjelasan, gerakan tubuh, pengulangan, dan keberanian yang dipupuk bersama.
Jumlah senjata boleh dihitung dengan jari. Namun, jumlah orang yang ingin mempertahankan Republik jauh lebih banyak.

Baca juga:Â Indikasi Korupsi Kesbangpol Jabar Bagian 1: Makan Minum Tak Dikerjakan tapi Dibayar
Delapan Senjata Menghadapi Tiga Gelombang Serangan
Keterbatasan itu segera diuji dalam pertempuran sebenarnya.
Laskar Fisabilillah tercatat menghadapi sedikitnya tiga serangan pada awal 1946. Serangan pertama datang pada minggu ketiga Januari di perkampungan dekat Lapangan Sriwijaya, kawasan yang ketika itu belum dipenuhi permukiman seperti sekarang.
Beberapa hari kemudian, serangan kedua datang.
Suara konvoi kendaraan musuh terdengar dari Jalan Cibeber menuju lapangan militer, yang kini berada di sekitar Jalan Sriwijaya. Gemuruh mesin kendaraan menjadi pertanda bahwa pasukan bersenjata sedang bergerak mendekati wilayah pertahanan laskar.
Serangan ketiga terjadi pada awal Februari 1946. Kali ini tekanan meluas ke sebelah utara Kampemen Cimahi, Gang Lurah, Jalan Gatot Subroto, serta sejumlah bagian lain kota.
Laskar Fisabilillah tidak lagi berlatih menghadapi sasaran diam.
Mereka berhadapan dengan pasukan yang memiliki kendaraan, persenjataan lebih baik, jalur komando, serta dukungan militer yang jauh lebih kuat.
Di atas kertas, perbandingan kekuatan itu mungkin terlihat hampir tidak masuk akal.
Di satu pihak berdiri pasukan Sekutu dan NICA yang datang dengan pengalaman perang, perlengkapan, serta kendaraan militer. Di pihak lain terdapat laskar pemuda dengan senjata terbatas—sebagian bahkan pernah terendam atau disembunyikan dalam sumur.
Namun, perjuangan kemerdekaan memang tidak selalu lahir dari keadaan yang masuk akal.
Ada masa ketika sebuah bangsa tidak dapat menunggu sampai semua kebutuhannya tersedia. Republik tidak mempunyai cukup waktu untuk memastikan setiap laskar memiliki senapan. Musuh sudah datang, sementara kemerdekaan harus segera dipertahankan.
Karena itu, senjata dipakai bergantian. Pengetahuan dibagikan. Jalan dan gang dijadikan bagian dari pertahanan. Kekurangan persenjataan ditambal dengan keberanian, pengenalan medan, serta ikatan antara ajengan, santri, dan rakyat.
Laskar Fisabilillah bukan satu-satunya kekuatan yang bergerak di Cimahi. Terdapat pula Hizbullah, kompi-kompi tentara Republik, dan berbagai badan perjuangan rakyat. Mereka terlibat dalam pertempuran sporadis di kota yang sejak masa kolonial memang dibangun sebagai pusat militer.
Pada akhir Maret 1946, setelah rangkaian pertempuran panjang di Cimahi dan Bandung, Ajengan Dhomiri mengundurkan diri dari kepemimpinan Laskar Fisabilillah. Ia menganjurkan para anggotanya bergabung dengan Tentara Republik Indonesia, yang sebelumnya berkembang dari TKR.
Barisan laskar boleh berubah bentuk. Namun, semangat yang telah ditanamkan tidak ikut dibubarkan.
Tujuh pucuk senjata dari dalam sumur itu mungkin tampak kecil dalam bentang sejarah perang kemerdekaan. Tidak ada meriam. Tidak ada tank. Bahkan untuk melengkapi satu peleton saja, jumlahnya jauh dari cukup.
Namun, justru karena itulah kisah tersebut layak dikenang.
Senjata itu memperlihatkan keadaan Republik pada masa-masa pertama kemerdekaan: miskin perlengkapan, terdesak oleh kekuatan besar, tetapi menolak menyerah sebelum mencoba melawan.
Besi-besinya boleh tua. Larasnya boleh tidak lagi sempurna. Namun, ketika berada di tangan Pejuang Cimahi, tujuh senjata itu membawa sesuatu yang tidak dimiliki oleh gudang senjata mana pun—kehendak untuk hidup sebagai bangsa merdeka.
Hari ini, sumur lebih sering dibayangkan sebagai tempat mengambil air.
Akan tetapi, dalam sejarah Cimahi, pernah ada sumur yang menyimpan senjata. Ketika bahaya datang, senjata-senjata itu diangkat dari kedalaman, dibersihkan, lalu diserahkan kepada para pemuda yang sedang belajar mempertahankan negerinya.
Mereka mungkin hanya mempunyai tujuh pucuk senjata bekas KNIL dan satu senapan berburu.
Tetapi keberanian mereka tidak pernah ditentukan oleh seberapa banyak pucuk senjata. (AS)
“Jangan biarkan kisah para pejuang ini terkubur untuk kedua kalinya—bukan oleh tanah, melainkan oleh lupa. Bagikan kepada anak-anak, keluarga, sahabat, dan generasi muda, agar mereka mengerti bahwa Merah Putih tidak berkibar sekadar karena angin, tetapi karena darah, air mata, dan nyawa yang dikorbankan. Sekali Anda membagikan kisah ini, Anda ikut menjaga api perjuangan tetap menyala dari generasi ke generasi.”
lintaspriangan.com







