lintaspriangan.com, BERITA DUNIA. Batik Kawung akan ikut mengantar penutupan WorldPride Amsterdam 2026 di Museumplein, Sabtu, 8 Agustus 2026. Motif tua dari tanah Jawa itu hadir di tengah kaleidoskop warna yang menjadi identitas visual salah satu perhelatan hak asasi manusia terbesar di dunia.
Kawung bukan dijadwalkan sebagai pertunjukan atau peragaan busana tersendiri. Penyelenggara menempatkannya sebagai representasi Indonesia dalam seluruh identitas visual WorldPride Amsterdam 2026. Dari materi publikasi hingga panggung penutupan, jejaknya berkelindan dengan berbagai corak budaya dunia.
Motif Jawa dalam Kaleidoskop Dunia
Melalui laman resminya, WorldPride Amsterdam menjelaskan bahwa identitas visual festival dirancang menyerupai kipas atau kaleidoskop. Berbagai motif dipertemukan untuk menggambarkan pertukaran seni, tekstil, dan tradisi yang berlangsung selama berabad-abad.
Belanda direpresentasikan melalui ubin Delft Blue, bunga tulip, dan kincir angin. Kawasan Karibia hadir melalui kain Pangi dari Suriname, bunga Wanglo dari Aruba, serta kembang sepatu dan monstera dari Curaçao.
Di antara corak tersebut terdapat motif geometris Maroko, tulip Turki, dan Batik Kawung dari Indonesia. Semuanya dirangkai menjadi satu kesatuan di bawah tema UNITY, yang dimaknai sebagai toleransi, keterhubungan, dan cinta.
Pemilihan Kawung bukan tanpa alasan. Motif ini mudah dikenali melalui susunan geometris berupa lingkaran-lingkaran yang saling berpotongan dan tersusun ajek. Kesederhanaan bentuknya justru menyimpan kedalaman makna.
Kajian yang tersimpan dalam Garba Rujukan Digital Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebut Kawung sebagai salah satu motif batik tua. Jejak bentuknya telah ditemukan pada ukiran candi di Jawa dan pernah menjadi corak yang penggunaannya terbatas di lingkungan keraton.
Di balik keselarasan bidang dan garisnya, Kawung memuat gagasan tentang keseimbangan hidup, hubungan manusia dengan Tuhan, serta ikhtiar menjaga harmoni. Nilai tersebut terasa selaras dengan pesan persatuan yang diusung WorldPride Amsterdam.
Batik Indonesia sendiri telah tercatat sejak 2009 dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO. Pengakuan itu tidak hanya mencakup kain, tetapi juga teknik, simbolisme, dan kebudayaan yang tumbuh di sekelilingnya.
Penutupan Festival, Pembukaan Percakapan
WorldPride Amsterdam 2026 berlangsung sejak 25 Juli dan mencapai puncaknya pada Sabtu, 8 Agustus. Agenda hari terakhir diawali WorldPride March dari Martin Luther Kingpark menuju Museumplein pada pukul 15.00 hingga 18.00 waktu setempat.
Selepas pawai, Closing Concert digelar di Museumplein mulai pukul 17.30 hingga menjelang tengah malam. Penutupan tersebut mengakhiri rangkaian selama dua pekan yang mencakup parade kanal, konferensi hak asasi manusia, pameran seni, konser, serta pertemuan berbagai komunitas dari sejumlah negara.
Ini merupakan kali pertama Amsterdam menjadi tuan rumah WorldPride. Penyelenggaraan tahun ini juga bertepatan dengan 25 tahun legalisasi perkawinan sesama jenis di Belanda, 30 tahun Pride Amsterdam, dan 80 tahun organisasi advokasi COC Netherlands.
Bagi Indonesia, keberadaan Batik Kawung pada identitas perhelatan global tersebut merupakan sebentuk diplomasi budaya yang bekerja tanpa podium. Ia tidak datang membawa pidato, tetapi menyampaikan cerita melalui garis, irama, dan susunan yang telah melintasi zaman.
Namun, penggunaan motif tradisional dalam karya global juga membawa tanggung jawab. Kawung selayaknya tidak berhenti menjadi ornamen pemanis. Asal-usul, pengetahuan, serta masyarakat yang merawatnya perlu tetap disebutkan agar kebudayaan tidak kehilangan nama ketika memasuki panggung dunia.
Pada penutupan WorldPride Amsterdam 2026, Batik Kawung memang hanya satu bagian dari bentangan visual yang luas. Namun, di antara riuh musik dan pendar cahaya Museumplein, motif itu membawa sepotong Indonesia—diam, bersahaja, tetapi sukar diabaikan. (NS/AS)







