lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Situ Gede mengering bukan sekadar cerita tentang air yang menyusut ketika kemarau tiba. Di balik garis air yang mundur dan tepian situ yang semakin terbuka, muncul pertanyaan lebih besar: apakah ini murni siklus alam, atau ada persoalan tata kelola lingkungan yang membuat Situ Gede semakin rentan?
Jawabannya tidak bisa ditarik hanya dari satu foto atau pengamatan sesaat. Kemarau memang dapat menurunkan muka air. Namun, seberapa cepat dan seberapa parah penyusutannya juga ditentukan oleh kondisi daerah tangkapan air, sedimentasi, saluran masuk, aliran keluar, pengambilan air, hingga perubahan penggunaan lahan di sekitarnya.
Kemarau: Jawaban Paling Sederhana
Situ Gede berada di Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya. Kawasan ini bukan hanya dikenal sebagai destinasi wisata. Situ tersebut juga menjadi bagian penting dari lanskap air perkotaan, ruang hidup ekosistem, serta tempat masyarakat menggantungkan aktivitas ekonomi.
Ketika Situ Gede mengering, kemarau menjadi penjelasan yang paling mudah diterima. Penjelasan itu masuk akal, tetapi belum cukup untuk menutup seluruh pertanyaan.
Secara sederhana, jumlah air dalam sebuah situ ditentukan oleh neraca air. Air masuk melalui hujan, limpasan dari daerah sekitarnya, saluran masuk dan rembesan air tanah. Pada saat bersamaan, air keluar melalui penguapan, rembesan, saluran pembuangan, pemanfaatan manusia, atau kebocoran.
Jika jumlah air yang keluar lebih besar daripada air yang masuk, muka air pasti turun.
Penjelasan tersebut sejalan dengan paparan U.S. Geological Survey tentang siklus air. USGS menjelaskan aktivitas manusia, penggunaan air, perubahan lahan dan iklim dapat memengaruhi tempat air tersimpan serta bagaimana air bergerak.
Situasi di Kota Tasikmalaya turut memperkuat konteks kemarau. Berdasarkan kaji cepat BPBD Kota Tasikmalaya per 8 Juli 2026, terdapat 98 titik rawan krisis air yang tersebar di 12 kelurahan pada lima kecamatan.
Jumlah masyarakat yang berpotensi terdampak mencapai:
- 7.287 kepala keluarga;
- 27.825 jiwa;
- 98 titik rawan;
- 12 kelurahan;
- lima kecamatan.
Kecamatan Mangkubumi mencatat 35 titik, terdiri atas 33 titik di Kelurahan Karikil dan dua titik di Cigantang. Namun, data tersebut tidak boleh langsung dipakai untuk menyimpulkan penyebab penyusutan Situ Gede.
Alasannya sederhana. Situ Gede berada di Linggajaya, sementara titik rawan krisis air yang tercatat di Mangkubumi berada di Karikil dan Cigantang. Data BPBD membuktikan adanya tekanan kekeringan di wilayah kota, tetapi belum membuktikan penyebab spesifik perubahan muka air Situ Gede.
Kondisi iklim 2026 juga perlu diperhatikan. BMKG sebelumnya memperkirakan La Niña yang membuat 2025 lebih basah akan melemah dan berakhir pada kuartal pertama 2026. Indonesia diperkirakan memasuki transisi kemarau sekitar Juni, meskipun kondisi setiap wilayah dapat berbeda. Proyeksi itu disampaikan pejabat BMKG dan diberitakan Reuters.
Artinya, kemarau merupakan faktor yang masuk akal. Namun, untuk menetapkannya sebagai penyebab utama, diperlukan data curah hujan lokal selama 30, 60 hingga 90 hari sebelum muka air Situ Gede turun.
Data nasional atau provinsi saja tidak cukup. Yang diperlukan adalah pengukuran spesifik di Tasikmalaya: berapa lama tidak turun hujan, berapa besar defisit curah hujan, dan apakah kondisi serupa pernah terjadi pada periode yang sama tahun-tahun sebelumnya.
Sedimentasi dan Tata Kelola Lingkungan Harus Dibuka
Pertanyaan selanjutnya justru lebih penting: mengapa sebuah situ bisa terlihat menyusut begitu nyata?
Salah satu faktor yang patut diperiksa adalah sedimentasi. Material tanah, lumpur dan sampah yang terbawa limpasan dapat mengendap di dasar situ. Sedimentasi tidak selalu membuat air langsung menghilang, tetapi dapat mengurangi kedalaman dan kapasitas tampung.
Bayangkan dua wadah dengan luas permukaan yang sama. Wadah pertama memiliki kedalaman enam meter, sedangkan wadah kedua tinggal dua meter akibat endapan. Saat kemarau mengurangi volume air dalam jumlah yang sama, wadah kedua akan jauh lebih cepat memperlihatkan dasarnya.
Karena itu, dugaan sedimentasi tidak boleh dibuktikan hanya dengan melihat lumpur atau tanah yang terbuka. Pemerintah perlu membuka data kedalaman, kapasitas tampung dan riwayat pengerukan Situ Gede.
Jika tidak pernah dilakukan pengukuran batimetri atau pemetaan dasar situ, publik tidak akan mengetahui berapa banyak kapasitas yang telah hilang.
Faktor berikutnya adalah kondisi daerah tangkapan air. Bertambahnya bangunan, jalan dan permukaan kedap dapat mengubah cara air hujan bergerak. Air mungkin mengalir cepat ketika hujan deras, tetapi lebih sedikit yang meresap dan tersimpan sebagai cadangan air tanah.
Padahal, air tanah dapat ikut memasok danau atau situ melalui rembesan. USGS menjelaskan danau merupakan tempat terkumpulnya limpasan permukaan dan rembesan air tanah. Dengan demikian, rusaknya fungsi daerah tangkapan dapat memengaruhi pasokan air bahkan ketika badan situ tidak disentuh secara langsung.
Kondisi saluran masuk juga harus diperiksa. Apakah saluran air menuju Situ Gede masih bekerja? Apakah terdapat penyempitan, endapan, sampah, bangunan atau perubahan jalur aliran?
Satu saluran yang tersumbat dapat membuat pasokan air turun. Tetapi penyebab seperti ini sering tidak terlihat dari area wisata karena masalahnya mungkin berada beberapa ratus meter atau beberapa kilometer di bagian hulu.
Selain saluran masuk, saluran keluar dan kemungkinan pintu air perlu diperiksa. Publik berhak mengetahui apakah ada pelepasan air, pemanfaatan untuk kebutuhan tertentu, kerusakan struktur, atau kebocoran. Setiap kesimpulan harus didasarkan pada catatan operasi dan pengukuran, bukan spekulasi.
Kemungkinan pengambilan air juga tidak boleh dilewatkan. Pemeriksaan harus menjawab apakah air Situ Gede dimanfaatkan untuk irigasi, perikanan, penyiraman, kegiatan usaha atau kebutuhan lainnya. Jika ada, perlu diketahui volume, periode, dasar izin dan siapa penggunanya.
Namun, pengambilan air juga tidak boleh langsung dituduh sebagai penyebab. Tanpa data volume, tuduhan tersebut berisiko menyesatkan.
Inilah titik penting dari fenomena Situ Gede mengering. Penurunan air dapat dipicu kemarau, tetapi tingkat keparahannya bisa diperbesar oleh pendangkalan, terganggunya aliran masuk, menurunnya fungsi resapan atau lemahnya pengendalian pemanfaatan air.
Untuk membedakannya, pemerintah dan pengelola perlu membuka sedikitnya tujuh data:
- elevasi muka air harian atau berkala;
- curah hujan lokal selama 30–90 hari;
- debit saluran masuk dan keluar;
- kedalaman serta ketebalan sedimen;
- riwayat pengerukan dan pemeliharaan;
- catatan pengoperasian pintu atau saluran air;
- perubahan penggunaan lahan di daerah tangkapan.
Perbandingan citra satelit juga dapat membantu. Satelit Sentinel-2 memiliki resolusi hingga 10 meter dan waktu kunjungan kembali sekitar lima hari. Citra Juli 2026 dapat dibandingkan dengan Juli 2025, Juli 2024 serta musim hujan untuk melihat perubahan luas permukaan air. Teknologi tersebut dijelaskan dalam laman resmi European Space Agency tentang Sentinel-2.
Meski demikian, citra satelit hanya menunjukkan perubahan luasan air. Citra tidak dapat sendirian membuktikan sedimentasi, pencemaran, kebocoran atau pengambilan air.
Karena itu, penjelasan tentang Situ Gede harus melibatkan pengelola, BBWS Citanduy atau instansi pengelola sumber daya air, Dinas PUTR, DLH, BMKG, Kelurahan Linggajaya, akademisi dan masyarakat sekitar.
DLH perlu memeriksa kualitas air, antara lain tingkat keasaman, oksigen terlarut, padatan tersuspensi dan beban pencemar. Ketika volume air menurun, konsentrasi pencemar dapat meningkat. Dampaknya bisa berupa bau, perubahan warna, pertumbuhan alga atau gangguan terhadap ikan.
Tetapi pencemaran dan penyusutan volume merupakan dua persoalan berbeda. Air yang tercemar belum tentu menyebabkan situ mengering. Sebaliknya, penyusutan air dapat memperparah dampak pencemaran yang sebelumnya sudah ada.
Diksi pemberitaan juga harus presisi. Jika air masih terdapat di bagian tengah dan hanya tepian atau kawasan dangkal yang terbuka, kondisi tersebut lebih tepat disebut “air Situ Gede surut drastis” atau “sebagian dasar Situ Gede mengering”. Istilah “kering total” hanya layak digunakan apabila seluruh badan air benar-benar kehilangan genangan.
Pada akhirnya, pertanyaan “fenomena alam atau masalah tata kelola lingkungan” tidak harus menghasilkan satu jawaban tunggal. Kemarau dapat menjadi pemicu, sementara persoalan lingkungan memperbesar dampaknya.
Yang tidak boleh terjadi adalah kemarau dipakai sebagai jawaban otomatis untuk menutup pemeriksaan. Sebaliknya, masalah lingkungan juga tidak boleh dituduhkan tanpa pengukuran.
Situ Gede membutuhkan jawaban yang dibangun dari data. Sebab ketika sebuah situ kehilangan air, yang dipertaruhkan bukan hanya pemandangan wisata, tetapi juga fungsi ekologis, ekonomi warga dan kemampuan Kota Tasikmalaya menjaga cadangan airnya. (AS)
Kuis Piala Dunia 2026
Tebak dua tim finalis dan skor akhir. Tiga tebakan akurat dan tercepat berhak mendapatkan hadiah uang tunai. Total hadiah jutaan rupiah.
