lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Kemarau di Pangandaran membawa kecemasan yang hampir sama setiap tahun. Hujan berkurang, debit mata air menyusut, lalu sebagian sumur warga mulai kehilangan air. Tidak lama kemudian, permintaan pengiriman air bersih kembali terdengar.
Namun, ada pertanyaan yang lebih penting daripada kapan hujan akan turun: mengapa kesulitan air terus berulang di daerah yang memiliki sungai, mata air, perbukitan, dan curah hujan tinggi pada musim tertentu? Jawabannya ternyata tidak berhenti pada cuaca.
Air Ada, tetapi Belum Tentu Tersedia Sepanjang Tahun
Kemarau memang menjadi pemicu awal. Berkurangnya hujan menyebabkan aliran permukaan melemah dan pengisian air tanah melambat. Sumur dangkal serta mata air musiman menjadi sumber pertama yang merasakan dampaknya.
Peringatan untuk 2026 juga tidak bisa dipandang ringan. BMKG menyebut musim kering tahun ini cenderung lebih panjang dan intens di sejumlah wilayah Indonesia. Meski belum dapat dianggap sebagai gambaran khusus Pangandaran, informasi tersebut menjadi alarm agar pemerintah daerah memeriksa kesiapan sumber air sebelum krisis meluas. Keterangan BMKG mengenai musim kemarau 2026.
Persoalannya, Pangandaran mempunyai bentang alam yang tidak seragam. Ada dataran pesisir, perbukitan, aliran sungai, dan kawasan berbatuan kapur. Di wilayah tertentu, air hujan dapat cepat masuk melalui rekahan tanah dan bergerak sebagai aliran bawah tanah.
Akibatnya, wilayah yang terlihat kaya air saat musim hujan belum tentu memiliki cadangan permukaan yang bertahan panjang. Mata air dapat mengalir deras selama beberapa bulan, tetapi debitnya turun ketika hari tanpa hujan berlangsung lama.
Kondisi tersebut semakin berat apabila warga masih bergantung pada sumur dangkal, mata air musiman, atau jaringan air desa dengan kapasitas terbatas.
BPS mencatat penduduk Kabupaten Pangandaran diperkirakan mencapai sekitar 434 ribu jiwa pada pertengahan 2024, tersebar di 10 kecamatan dan 93 desa. Jumlah itu menunjukkan besarnya kebutuhan air yang harus dipenuhi setiap hari. Publikasi BPS Kabupaten Pangandaran.
Pada saat yang sama, kebutuhan air tidak ikut turun ketika kemarau di Pangandaran berlangsung. Rumah tangga tetap membutuhkan air untuk minum, memasak, mandi, dan sanitasi. Pertanian, peternakan, rumah makan, penginapan, serta fasilitas wisata juga tetap beroperasi.
Pariwisata tidak boleh langsung dituding sebagai penyebab. Namun, pengambilan air oleh hotel, homestay, restoran, dan usaha lainnya perlu dihitung secara terbuka. Pemerintah harus mengetahui berapa besar kebutuhan seluruh pengguna dan seberapa kuat sumber air bertahan saat debit berada pada titik terendah.
Hal lain yang sering luput adalah perbedaan antara akses air minum layak dan air yang tersedia setiap saat. Sebuah rumah tangga dapat tercatat menggunakan sumur atau mata air terlindungi, tetapi sumber tersebut belum tentu berfungsi sepanjang tahun.
Di sinilah akar persoalannya: Pangandaran mungkin memiliki air, tetapi belum seluruhnya memiliki sistem yang mampu menyimpan dan mendistribusikannya secara merata sampai kemarau berakhir.
Tangki Air Menolong, tetapi Bukan Jawaban Terakhir
Ketika sumber warga mengering, pengiriman air melalui mobil tangki menjadi tindakan yang sangat dibutuhkan. Air tersebut dapat menyelamatkan kebutuhan dasar keluarga, fasilitas kesehatan, sekolah, dan kelompok rentan.
Namun, jumlah tangki yang dikirim bukan ukuran keberhasilan penanganan jangka panjang.
Jika desa yang sama kembali meminta bantuan setiap tahun, pengiriman air justru memperlihatkan bahwa kerawanan belum diselesaikan. Pemerintah perlu mengungkap desa mana yang berulang kali terdampak, berapa keluarga yang kesulitan, berapa volume bantuan yang dikirim, dan berapa lama warga bergantung pada tangki.
Data itu seharusnya tersedia dalam catatan BPBD dan perangkat daerah teknis. Informasi kejadian serta dokumen kajian risiko juga dapat ditelusuri melalui BPBD Provinsi Jawa Barat.
Dari data tersebut, pemerintah dapat membedakan empat jenis persoalan. Pertama, desa yang sumber airnya benar-benar menyusut. Kedua, wilayah yang mempunyai sumber tetapi tidak memiliki penampungan. Ketiga, permukiman yang belum terjangkau jaringan perpipaan. Keempat, wilayah yang airnya masih tersedia tetapi kualitasnya tidak aman.
Solusinya tidak bisa disamaratakan.
Wilayah dengan mata air musiman membutuhkan perlindungan daerah resapan dan penampungan berkapasitas memadai. Permukiman yang jauh dari sumber memerlukan perluasan jaringan. Desa dengan curah hujan cukup dapat mengembangkan pemanenan air hujan. Sementara itu, pengambilan air tanah oleh rumah tangga dan kegiatan usaha perlu dipetakan agar tidak melampaui kemampuan alam mengisinya kembali.
Pangandaran juga membutuhkan neraca air yang dapat dibaca publik: berapa air yang tersedia, berapa yang digunakan, siapa pengguna terbesarnya, dan wilayah mana yang paling dahulu mengalami kekurangan.
Tanpa perhitungan tersebut, pemerintah akan selalu datang setelah sumur mengering. Padahal, tanda-tandanya dapat dikenali jauh sebelumnya melalui penurunan debit mata air, hari tanpa hujan, laporan desa, dan kondisi jaringan air.
Pada akhirnya, keberhasilan menghadapi kemarau di Pangandaran tidak diukur dari banyaknya tangki yang dikirim. Ukurannya adalah berapa desa yang tahun depan tidak perlu lagi menunggu tangki datang. (NS/AS)
Kuis Piala Dunia 2026
Tebak dua tim finalis dan skor akhir. Tiga tebakan akurat dan tercepat berhak mendapatkan hadiah uang tunai. Total hadiah jutaan rupiah.
