lintaspriangan.com,ย KONTEN PREMIUM.ย Sebuah pengadaan menggunakan uang publik di Kabupaten Majalengka memperlihatkan pola yang sulit disebut sekadar kesalahan administrasi. Nilai transaksinya mencapai lebih dari Rp6,5 miliar, tetapi biaya pekerjaan sebenarnya hanya sekitar Rp2,18 miliar. Setelah pajak dan biaya aplikasi diperhitungkan, terbentuk selisih lebih dari Rp3,67 miliar.
Selisih itu bukan tersisa secara kebetulan. Harga diduga dikondisikan secara terpusat, pihak-pihak tertentu ditempatkan sebagai perantara, dan fee telah disepakati sejak awal menggunakan tarif tetap untuk setiap unit pekerjaan. Semakin besar volume yang ditagihkan, semakin besar pula uang yang diterima setiap lapisan.
Bagian terbesar dari selisih tersebutโsekitar Rp2,93 miliarโkemudian diedarkan kembali sebagai cashback tunai. Tidak tersedia catatan definitif yang dapat menunjukkan siapa menerima berapa. Uang publik masuk melalui transaksi resmi, dipotong menjadi sejumlah fee, lalu keluar menuju jalur yang nyaris kehilangan jejak.
Siapa yang menyusun harga hingga hampir dua pertiga pembayaran bersih bukan menjadi biaya pekerjaan? Siapa saja penerima fee dan cashback tersebut? Mengapa miliaran rupiah baru dikembalikan setelah skema ini terbongkar? Bagian premium berikut membuka sumber anggaran, pekerjaan sebenarnya, pengendali transaksi, aliran uang, serta unsur-unsur korupsi yang mulai terlihat.
Konten Premium
Konten yang Anda buka adalah Berita Premium (berbayar dan terbatas). Hubungi Admin Lintas Priangan jika Anda ingin mengakses berita tersebut.
