Kesbangpol Harus Hadir di Dua Dunia
Masyarakat hari ini hidup dalam dua ruang sekaligus: ruang fisik dan ruang digital.
Di ruang fisik, pendidikan kebangsaan dapat berlangsung melalui seminar, kemah, upacara, dialog, dan pertemuan organisasi. Di ruang digital, opini dibentuk setiap detik. Informasi benar bersaing dengan hoaks. Pendidikan politik berhadapan dengan propaganda. Toleransi berhadapan dengan ujaran kebencian. Persatuan diuji oleh polarisasi yang diproduksi dan digandakan oleh algoritma.
Bakesbangpol tidak cukup hadir ketika kursi seminar sudah tersusun, spanduk terbentang, dan mikrofon dinyalakan.
Ia harus hadir di ruang tempat kesadaran politik, identitas, prasangka, fanatisme, dan konflik sosial kini ikut dibentuk.
Website resminya seharusnya dapat menjadi pusat literasi kebangsaan Kota Bandung. Di sana masyarakat semestinya menemukan penjelasan Pancasila, pendidikan pemilih, sejarah kebangsaan, materi bela negara, panduan organisasi kemasyarakatan, regulasi, data yang dapat dibuka, mekanisme layanan, bahan pencegahan konflik, klarifikasi isu, hingga modul bagi pelajar dan guru.
Bahan untuk mengisinya jelas tersedia. Akun Instagram yang aktif justru membuktikan Bakesbangpol mempunyai foto, video, keterangan kegiatan, tanggal, narasumber, dan pengelola konten.
Kalau bahan yang sama dapat diunggah ke Instagram, mengapa tidak diolah menjadi informasi yang lebih utuh di rumah resminya?
Masalahnya bukan ketiadaan kegiatan. Bukan pula ketiadaan jaringan. Yang terkapar adalah para pengelolanya.







