lintaspriangan.com. Mengisi daya ponsel di tempat umum seperti bandara, mal, atau kafe memang terasa praktis, apalagi saat baterai hampir habis di tengah aktivitas. Namun, di balik kemudahan tersebut, tersimpan potensi risiko keamanan siber yang sering luput dari perhatian, yakni juice jacking.
Istilah ini merujuk pada modus kejahatan siber yang memanfaatkan port USB publik untuk mencuri data atau menyusupkan malware ke perangkat pengguna.
Secara sederhana, saat Anda mencolokkan ponsel ke port USB umum, koneksi yang terjadi tidak hanya mengalirkan listrik, tetapi juga bisa membuka jalur transfer data. Jika port tersebut telah dimodifikasi, perangkat Anda berpotensi diakses tanpa disadari.
Dalam skenario terburuk, pelaku bisa mencuri data pribadi, kata sandi, memasang malware, bahkan mengunci perangkat korban.
Isu ini sempat menjadi sorotan setelah FBI melalui kantor lapangan Denver pada April 2023 mengingatkan masyarakat untuk menghindari penggunaan stasiun pengisian daya gratis di tempat umum. Peringatan serupa juga disampaikan oleh FCC, yang memasukkan juice jacking sebagai salah satu potensi ancaman siber.
Meski demikian, sejumlah pakar keamanan menilai risiko kasus ini di dunia nyata belum tergolong masif. Hingga kini, belum banyak bukti kuat yang menunjukkan serangan juice jacking terjadi secara luas. Namun, secara teknis, praktik ini tetap memungkinkan, terutama jika perangkat memiliki celah keamanan.
Risiko juga semakin kecil pada ponsel modern, baik Android maupun iPhone, karena sistem saat ini umumnya membatasi koneksi USB hanya untuk pengisian daya, kecuali pengguna mengizinkan transfer data secara manual.
Karena itu, saat muncul notifikasi seperti “charge only” atau “transfer data”, pengguna disarankan selalu memilih opsi isi daya saja.
Cara Aman Menghindari Juice Jacking
Untuk meminimalkan risiko, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:
Gunakan adaptor dan kabel charger pribadi, lalu colok langsung ke stop kontak listrik. Hindari penggunaan port USB publik jika tidak benar-benar diperlukan. Bawa power bank sebagai alternatif pengisian daya. Pastikan sistem operasi dan aplikasi selalu diperbarui. Kunci ponsel saat mengisi daya, atau matikan jika perlu. Gunakan USB data blocker untuk mencegah transfer data.
Pada akhirnya, juice jacking memang bukan ancaman yang paling sering terjadi dibandingkan kejahatan siber lainnya. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama saat menggunakan fasilitas publik.
Dengan memahami risikonya dan menerapkan langkah pencegahan sederhana, pengguna bisa tetap aman tanpa harus mengorbankan kenyamanan saat beraktivitas. (ID)

