Jurus Kepepet: Bayar Utang Proyek Pemprov Jabar Pakai Dana Bencana

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Polemik utang proyek Pemprov Jabar akhirnya memasuki babak baru. Setelah berbulan-bulan menjadi bahan keluhan kontraktor dan sorotan publik, Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi membuka sumber dana untuk melunasi kewajiban pembayaran pekerjaan tahun anggaran 2025 senilai Rp621 miliar. Pilihannya terbilang tak biasa: Dana Belanja Tidak Terduga (BTT) APBD 2026, pos anggaran yang selama ini lekat dengan penanganan bencana dan keadaan darurat.

Keputusan ini sekaligus mengakhiri spekulasi soal apakah pembayaran akan terus tertunda atau sekadar dijanjikan tanpa kepastian. Namun di saat yang sama, kebijakan tersebut memunculkan pertanyaan baru: seberapa “darurat” utang proyek hingga harus dibayar dengan dana bencana?

Skema Darurat untuk Utang yang Mengikat

Pemprov Jabar berdalih langkah ini memiliki dasar hukum yang kuat. Mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 2025, Dana BTT dapat digunakan untuk kebutuhan mendesak yang bersifat mengikat dan wajib. Dalam konteks ini, utang proyek yang pekerjaannya sudah selesai dinilai masuk kategori tersebut.

“Pembayaran tunda pekerjaan ini masuk kategori belanja mengikat dan wajib. Karena itu, kami sepakat menggunakan BTT agar proses pembayaran bisa dilakukan langsung pada Januari 2026 ini tanpa menunggu perubahan APBD,” ujar Kepala Bappeda Jawa Barat, Dedi Mulyadi di hadapan media.

Dengan skema BTT, pembayaran tidak perlu menunggu pembahasan perubahan APBD yang biasanya memakan waktu dan penuh dinamika politik. Targetnya jelas: pencairan bisa dilakukan sejak Januari 2026. Bagi kontraktor yang selama ini menahan napas akibat arus kas tersendat, kabar ini setidaknya memberi kepastian waktu, meski belum sepenuhnya menenangkan.

Sebab bagi pelaku usaha jasa konstruksi, keterlambatan pembayaran bukan sekadar soal laporan keuangan. Di lapangan, ada upah pekerja yang harus dibayar, cicilan alat berat, hingga kewajiban ke pemasok material. Ketika pembayaran proyek macet, efek dominonya cepat dan nyata.

Dana Bencana Tak Cukup, Anggaran OPD Jadi Sasaran

Masalahnya, Dana BTT APBD 2026 hanya tersedia Rp328 miliar. Angka ini hanya sekitar separuh dari total utang proyek Pemprov Jabar sebesar Rp621 miliar. Artinya, masih ada kekurangan sekitar Rp293 miliar yang harus ditutup dengan cara lain.

Untuk menambal selisih tersebut, Pemprov Jabar memilih langkah yang tak kalah sensitif: pergeseran anggaran dari kegiatan di tujuh Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Pergeseran ini dilakukan melalui Peraturan Gubernur (Pergub), tanpa melalui persetujuan perubahan APBD di DPRD, meski tetap wajib dilaporkan kepada legislatif.

Secara aturan, mekanisme ini sah. Namun secara politik dan persepsi publik, langkah ini rawan menuai kritik. Masyarakat berhak bertanya, kegiatan apa saja yang dikorbankan? Apakah pergeseran anggaran ini akan berdampak pada pelayanan publik, atau hanya memangkas program yang sejak awal tak terlalu prioritas?

Hingga kini, rincian OPD dan jenis kegiatan yang terdampak belum sepenuhnya dibuka ke publik. Transparansi di titik ini menjadi krusial agar kebijakan “jurus kepepet” tidak berkembang menjadi isu baru yang lebih besar.

Antara Efisiensi, Simbol, dan Ujian 2026

Penggunaan dana bencana untuk membayar utang proyek menimbulkan ironi di tengah kampanye efisiensi anggaran. Di satu sisi, pemerintah mengumumkan penghematan perjalanan dinas, pengurangan biaya operasional, hingga dorongan kerja fleksibel untuk menekan beban kas daerah. Di sisi lain, publik masih melihat adanya belanja lain yang dinilai tidak sepenuhnya darurat.

Bagi pemerintah, pilihan ini dianggap paling realistis di tengah tekanan fiskal. Dana BTT menjadi jalan pintas agar kewajiban kepada pihak ketiga tidak terus menumpuk dan menimbulkan dampak ekonomi yang lebih luas. Bagi kontraktor, narasinya jauh lebih sederhana: yang penting dibayar, bukan dari pos apa.

Namun bagi publik, cerita ini belum selesai. Tahun 2026 akan menjadi ujian penting. Apakah pembayaran benar-benar cair sesuai janji? Apakah pergeseran anggaran tidak memicu masalah lanjutan di OPD lain? Dan yang paling krusial, apakah tata kelola keuangan daerah akan diperketat agar utang proyek Pemprov Jabar tidak kembali berulang dengan pola serupa?

Untuk sementara, jurus kepepet ini mungkin efektif. Tapi seperti obat darurat, ia menyembuhkan gejala, bukan penyakit. Publik tentu berharap, ke depan dana bencana benar-benar kembali ke khitahnya: untuk bencana. Bukan untuk menutup lubang yang seharusnya bisa dicegah sejak awal. (AS)

Berita lainnya:

Klok Pimpin, Beckham Kembali, Persib Siap Tancap Gas

lintaspriangan.com. BERITA OLAHRAGA. Persib Bandung kembali menurunkan komposisi terbaiknya pada laga malam ini.Kapten Marc Klok dipercaya memimpin lini tengah,...

Halal Bihalal IKM Tasikmalaya, Bahas Pembangunan Masjid

lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Ikatan Keluarga Minang (IKM) Tasikmalaya menggelar kegiatan halal bihalal yang dirangkaikan dengan pemaparan desain pembangunan masjid,...

Uji Coba CFD ASN Tasikmalaya, Hemat Energi dan Anggaran

TASIKMALAYA, LintasPriangan.com – Pemerintah Kota Tasikmalaya mulai memberlakukan uji coba Car Free Day (CFD) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN)....

Terbaru

Memasuki Kemarau, Ancaman Bencana Kota Tasikmalaya Tertinggi di Jabar, Waspada!

lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Musim kemarau mulai memasuki fase awal di sejumlah...

Bupati Herdiat Angkat Kebutuhan Petani Ciamis di Rakornas Pertanian 2026

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Bupati Ciamis Herdiat Sunarya membawa isu...

Tiga Besar Daerah Rawan Bencana Jabar, BPBD Kabupaten Tasikmalaya Siaga

lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Kabupaten Tasikmalaya kembali masuk dalam tiga...

Klok Pimpin, Beckham Kembali, Persib Siap Tancap Gas

lintaspriangan.com. BERITA OLAHRAGA. Persib Bandung kembali menurunkan komposisi terbaiknya...

Bejat! Ayah di Garut Rudapaksa Anak Kandung 11 Tahun

lintaspriangan.com. BERITA GARUT. Kasus yang melibatkan seorang ayah di Garut...

Monster Berkedok Ayah Rudapaksa Anak Kandung di Garut

lintaspriangan.com. BERITA GARUT. Seorang pria berinisial S (43) diamankan...

Jual Trenggiling, Dua Buruh di Tasikmalaya Diciduk Polisi

lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Dua buruh harian lepas asal Karangnunggal,...

Tukang Bakso Diculik Gerombolan Remaja di Tasikmalaya, Keluarga Syok

lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Peristiwa mencekam terjadi di Kota Tasikmalaya....

Retribusi Pasar Cikurubuk Naik Gila-Gilaan, 800 Ruko Jadi Kuburan

lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Kondisi Pasar Induk Cikurubuk kian memprihatinkan....

Kelangkaan Minyakita di Ciamis, DKUKMP Ungkap Penyebab

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Kelangkaan minyak goreng bersubsidi merek...

Priangan Timur

Memasuki Kemarau, Ancaman Bencana Kota Tasikmalaya Tertinggi di Jabar, Waspada!

lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Musim kemarau mulai memasuki fase awal di sejumlah...

Bupati Herdiat Angkat Kebutuhan Petani Ciamis di Rakornas Pertanian 2026

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Bupati Ciamis Herdiat Sunarya membawa isu...

Tiga Besar Daerah Rawan Bencana Jabar, BPBD Kabupaten Tasikmalaya Siaga

lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Kabupaten Tasikmalaya kembali masuk dalam tiga...

Bejat! Ayah di Garut Rudapaksa Anak Kandung 11 Tahun

lintaspriangan.com. BERITA GARUT. Kasus yang melibatkan seorang ayah di Garut...

Monster Berkedok Ayah Rudapaksa Anak Kandung di Garut

lintaspriangan.com. BERITA GARUT. Seorang pria berinisial S (43) diamankan...

Jual Trenggiling, Dua Buruh di Tasikmalaya Diciduk Polisi

lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Dua buruh harian lepas asal Karangnunggal,...

Tukang Bakso Diculik Gerombolan Remaja di Tasikmalaya, Keluarga Syok

lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Peristiwa mencekam terjadi di Kota Tasikmalaya....

Retribusi Pasar Cikurubuk Naik Gila-Gilaan, 800 Ruko Jadi Kuburan

lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Kondisi Pasar Induk Cikurubuk kian memprihatinkan....

Perspektif

Popular Categories