lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Kabupaten Tasikmalaya kembali masuk dalam tiga besar daerah rawan bencana di Jawa Barat. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menunjukkan, dalam tiga tahun terakhir (2023–2025), Tasikmalaya konsisten berada di peringkat atas bersama Sukabumi dan Cianjur.
Fakta tersebut mengemuka dalam rapat kesiapsiagaan bencana yang digelar BPBD Kabupaten Tasikmalaya di kantor BPBD, Jalan Otto Iskandardinata, Kota Tasikmalaya, Senin (20/4/2026)
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Abdul Aziz Riswandi, mengatakan tingginya tingkat kerawanan bencana harus menjadi perhatian serius semua pihak.
“Ini jadi alarm bagi kita. Kabupaten Tasikmalaya masih termasuk daerah rawan bencana di Jawa Barat, sehingga kesiapsiagaan harus diperkuat,” ujarnya.
Secara geografis, Kabupaten Tasikmalaya memiliki kondisi alam yang kompleks, mulai dari pegunungan, lereng curam, hingga kawasan pesisir.
Kondisi tersebut membuat wilayah tersebut rentan terhadap berbagai jenis bencana, seperti tanah longsor, banjir, hingga bencana pesisir.
Aziz menjelaskan, bencana yang paling sering terjadi di Tasikmalaya adalah tanah longsor, yang dipicu oleh menurunnya daya dukung lingkungan serta meningkatnya tekanan aktivitas manusia dan dampak perubahan iklim.
“Frekuensi bencana cenderung meningkat. Lingkungan kita semakin tertekan,” katanya
Kabupaten Tasikmalaya memiliki luas wilayah 2.708,82 kilometer persegi dengan jumlah penduduk hampir 2 juta jiwa yang tersebar di 39 kecamatan dan 351 desa. Sementara itu, wilayah selatan seperti Cipatujah hingga Cikalong memiliki garis pantai sepanjang 54,5 kilometer yang juga rawan bencana.
Selain faktor alam, perilaku masyarakat turut memperparah risiko bencana. Kebiasaan membuang sampah ke sungai memicu banjir, sementara penebangan hutan tanpa pengelolaan yang baik meningkatkan potensi longsor.
“Masih banyak masyarakat yang membangun rumah di bawah lereng gunung. Ini sangat berisiko,” ujarnya.
Ia menegaskan, kesadaran kolektif menjadi kunci dalam mengurangi risiko bencana. “Kalau kita jaga alam, alam akan jaga kita,” kata Aziz.
Baca Juga : Klok Pimpin Beckham Kembali Persib Siap Tancap Gas
Sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan bencana, Indonesia memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) setiap 26 April.
Program yang digagas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejak 2017 ini bertujuan membangun budaya siaga di masyarakat.
Peringatan HKB bertepatan dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, yang mengubah paradigma dari responsif menjadi preventif, serta mendorong pendekatan partisipatif dan desentralistik.
Pada 2026, HKB mengusung tema “Siap untuk Selamat” dengan subtema “Bersatu dalam Siaga, Tangguh Menghadapi Bencana”. Fokus kegiatan meliputi simulasi evakuasi serta edukasi kebencanaan bagi masyarakat. (DH)

