📰 HALAMAN 2
Fase Awal Kemarau Jadi Titik Kritis
BMKG menjelaskan bahwa peningkatan potensi bencana tidak selalu terjadi pada puncak kemarau, tetapi juga pada fase awal peralihan musim.
Pada periode ini, curah hujan mulai menurun, vegetasi perlahan mengering, sementara aktivitas masyarakat tetap berjalan seperti biasa. Kondisi ini menciptakan situasi yang rentan, di mana potensi bencana di Kota Tasikmalaya dapat berkembang.
Dari Banyak Ancaman, Mana yang Paling Dominan?
Dengan berbagai jenis risiko yang dipetakan dalam InaRISK, muncul pertanyaan penting: ancaman apa yang paling berkontribusi terhadap tingginya potensi bencana Kota Tasikmalaya?
Secara umum, masyarakat lebih familiar dengan banjir atau tanah longsor sebagai ancaman utama. Namun, data menunjukkan adanya pola yang berbeda untuk Kota Tasikmalaya.
Data InaRISK 2025: Temuan Penting
Berdasarkan data InaRISK BNPB tahun 2025, terdapat satu kategori risiko yang menempati posisi tertinggi dalam potensi bencana Kota Tasikmalaya dibandingkan wilayah lain di Jawa Barat.
Karakter Risiko di Wilayah Perkotaan
Dalam konteks wilayah perkotaan, ancaman bencana di Kota Tasikmalaya tidak selalu berkaitan dengan kondisi geografis ekstrem. Beberapa risiko justru dapat muncul di lingkungan yang dekat dengan aktivitas masyarakat, seperti lahan kosong, area semak, maupun kawasan padat penduduk.
Faktor lingkungan yang mengering serta aktivitas manusia menjadi kombinasi yang dapat memperbesar potensi ancaman bencana Kota Tasikmalaya, terutama saat memasuki musim kemarau.
Fakta yang Terungkap
Berdasarkan data InaRISK BNPB tahun 2025, kebakaran hutan dan lahan menjadi jenis risiko dengan skor tertinggi dalam potensi bencana untuk Kota Tasikmalaya, dibandingkan daerah lain di Jawa Barat.
Kota Tasikmalaya mencatat skor 22,43, tertinggi di Jawa Barat untuk kategori tersebut. Angka ini lebih tinggi dibandingkan wilayah lain seperti Kota Depok yang berada di angka 17,47 dan Kota Bandung 17,41.
Temuan ini menunjukkan bahwa ancaman tersebut tidak selalu berasal dari kawasan hutan luas, melainkan juga dapat muncul di wilayah perkotaan dengan karakteristik tertentu.
Data InaRISK BNPB tahun 2025 yang menunjukkan tingginya potensi bencana Kota Tasikmalaya, ditambah dengan proyeksi kemarau dari BMKG yang cenderung lebih kering dan panjang, menjadi sinyal penting bagi kewaspadaan.
Hal ini bukan berarti bencana pasti terjadi, melainkan menunjukkan adanya kondisi yang perlu diantisipasi sejak dini.
Bencana sering kali tidak datang secara tiba-tiba, tetapi tumbuh dari kondisi yang perlahan berubah.
Dan di Kota Tasikmalaya, potensi itu sudah terbaca dari data. (AS)

