Kabupaten Ciamis memberikan gambaran yang berbeda.
Di Lakbok, luas sawah justru bertambah. Dari sekitar 3.337 hektare pada 2024 menjadi lebih dari 3.559 hektare pada 2025. Angka itu mungkin terlihat biasa, tapi dalam konteks nasional, arahnya jelas berbeda.
Bukan hanya Lakbok. Di sejumlah kecamatan lain, lahan pertanian tetap terjaga. Tidak ada penyusutan besar-besaran. Tidak ada gelombang konversi yang menggerus sawah secara masif.
Ciamis seperti memilih untuk tidak ikut hanyut.
Dari sisi produksi, gambaran yang sama juga terlihat. Pada 2025 dan 2026, produksi padi di Ciamis tercatat stabil di angka 232.129 ton gabah kering giling (GKG). Tidak melonjak, tapi juga tidak jatuh.
Dalam sektor yang sangat bergantung pada cuaca dan banyak faktor lain, stabilitas justru jadi kekuatan. Ketahanan pangan, pada akhirnya, bukan selalu soal naik tinggi. Kadang, justru soal tetap berdiri.
Di sektor lain, penguatan juga terlihat. Produksi daging unggas meningkat dari sekitar 143 juta kilogram pada 2024 menjadi 145 juta kilogram pada 2025. Produksi ikan nila naik pada 2026 menjadi lebih dari 13 ribu ton.
Dari kebun, kontribusi juga terasa. Produksi pisang meningkat dari sekitar 665 ribu kuintal menjadi 724 ribu kuintal dalam satu tahun.
Kalau disusun, data-data ini menunjukkan satu hal yang cukup jelas. Ciamis tidak bertumpu pada satu sumber pangan. Ada padi. Ada ikan. Ada ternak. Ada hortikultura. Strukturnya berlapis. Dan lapisan itu membuatnya lebih tahan.
Di tengah dinamika nasional yang menunjukkan tekanan terhadap lahan dan produksi, Ciamis justru menjaga ritmenya sendiri. Tidak reaktif. Tidak tergesa. Tapi konsisten.
Awal pekan ini, arah itu juga terlihat dari langkah di tingkat nasional. Bupati Ciamis Herdiat Sunarya menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pertanian 2026 yang digelar Kementerian Pertanian di Jakarta pada Senin, 20 April 2026.
Dalam forum tersebut, pemerintah pusat mengalokasikan anggaran sekitar Rp12 triliun untuk sektor pertanian. Fokusnya pada penguatan irigasi, bantuan pupuk, hingga perluasan lahan pertanian dalam skala besar.
Bagi Ciamis, forum ini bukan sekadar seremoni. Ada upaya untuk memastikan kebutuhan petani di daerah benar-benar terhubung dengan kebijakan pusat. Mulai dari irigasi, ketersediaan pupuk, hingga pemasaran hasil panen.
Di titik ini, terlihat bahwa ketahanan pangan Ciamis tidak berjalan sendiri. Ia mengikuti arah kebijakan nasional, tapi tetap berpijak pada kekuatan lokal yang sudah lebih dulu dijaga.
Di sini, peran kepemimpinan terasa pelan tapi nyata. Di tangan Bupati Herdiat, arah pembangunan pertanian tidak hanya soal meningkatkan angka produksi, tapi juga menjaga fondasinya. Lahan dipertahankan. Produksi dijaga. Sektor pendukung ikut dikuatkan.
Tidak selalu terlihat mencolok. Tapi terasa dampaknya.
Ketahanan pangan Ciamis tidak dibangun dalam satu musim. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan yang dijaga terus menerus. Seperti pagi di Lakbok. Tenang. Biasa. Tapi justru di situlah kekuatannya.
Pada akhirnya, ketahanan pangan bukan soal siapa paling cepat berubah, tapi siapa yang tahu apa yang harus dipertahankan. Di saat banyak daerah mulai kehilangan sawahnya sedikit demi sedikit, Ciamis justru memilih menjaga yang ada, dan itu bukan pilihan yang mudah.
Mungkin tidak selalu terlihat besar di permukaan, tapi justru di situlah letak kekuatannya. Pelan, konsisten, dan tidak goyah. Dan ketika banyak tempat mulai bertanya bagaimana menjaga pangan di masa depan, Ciamis—setidaknya hari ini—sudah lebih dulu menjawabnya. (AS)
