lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Pagi di Lakbok selalu dimulai dari sawah. Kabut tipis belum benar-benar hilang ketika petani sudah turun ke lahan. Air mengalir pelan, memantulkan langit yang belum sepenuhnya terang. Di hamparan itu, kehidupan berjalan seperti biasa. Tenang, tapi penuh makna.
Sulit membayangkan bahwa di banyak tempat lain, sawah-sawah seperti ini justru perlahan menghilang.
Dalam satu dekade terakhir, Indonesia kehilangan sekitar 320 ribu hektare lahan sawah. Angka ini setara ratusan ribu ruang produksi pangan yang hilang dari sistem pertanian nasional.
Setiap tahun, laju alih fungsi lahan mencapai 60 ribu hingga lebih dari 100 ribu hektare. Sawah berubah menjadi kawasan industri, permukiman, dan infrastruktur.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, luas baku sawah nasional bahkan turun dari sekitar 8,1 juta hektare menjadi sekitar 7,4 juta hektare.
Tekanan ini bukan hanya soal angka. Ia mencerminkan perubahan arah pembangunan, di mana sektor non-pertanian sering kali lebih diutamakan.
Padahal di sisi lain, kebutuhan pangan terus meningkat. Penduduk bertambah, konsumsi naik, tapi lahan produksi justru menyusut.
Sejumlah kalangan akademisi menyebut kondisi ini sudah mulai mengkhawatirkan. Kalau dibiarkan, kapasitas produksi pangan nasional akan semakin tertekan.
Di tengah arus besar itu, muncul pertanyaan sederhana: apakah semua daerah mengalami hal yang sama? Bagaimana dengan Kabupaten Ciamis?
Baca halamans selanjutnya.









